
Pada pertengahan April 2026, saya dan keluarga berkesempatan menghabiskan beberapa hari di Singapura. Bukan perjalanan yang mewah atau penuh rencana yang padat. Kami hanya ingin menikmati suasana yang berbeda, berjalan santai, mencicipi makanan disana, dan berjalan bersama keluarga.
Saat itu, nilai tukar dolar Singapura masih berada di kisaran Rp13.500 per SGD. Jika dibandingkan dengan sekarang yang sudah mendekati Rp14.000, selisihnya memang kelihatan kecil. Namun bagi keluarga yang merencanakan perjalanan dengan anggaran yang ngepas, perubahan kurs seperti ini lumayan berasa. Kita tentu berharap kondisi ekonomi semakin baik dan nilai rupiah dapat kembali menguat sehingga perjalanan ke luar negeri menjadi lebih terjangkau bagi banyak orang.
Meski begitu, perjalanan kami berjalan lancar. Dari rumah menuju Bandara Soekarno-Hatta, proses check-in, hingga penerbangan menuju Singapura berlangsung tanpa ada kendala yang berarti.
Yang tidak saya sangka justru terjadi setelah pesawat mendarat di Bandara Changi.
Sebuah pengalaman sederhana, hanya beberapa menit saja, tapi cukup membuat saya penasaran hingga berhari-hari setelahnya.
Persiapan Sebelum Berangkat dan Doa yang Kita Panjatkan
Setiap kali bepergian jauh, terutama ke luar negeri, ada banyak hal yang harus dipastikan.
Paspor sudah siap. Tiket sudah tersimpan. Dokumen perjalanan sudah diperiksa berulang kali. Charger, pakaian ganti, obat-obatan pribadi, semuanya masuk ke dalam koper.
Di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang sering terlupakan oleh banyak orang, yaitu berdoa sebelum memulai perjalanan.
Sebelum berangkat menuju bandara, kami membaca doa safar yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Ketika sudah menaiki kendaraan dan hendak memulai perjalanan, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى
اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ
اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Artinya
Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan penjaga keluarga yang kami tinggalkan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang buruk terkait harta maupun keluarga.
Doa safar ini diriwayatkan dalam hadits sahih riwayat Muslim.
Ketika membacanya, ada pengakuan yang sangat sederhana di dalamnya, bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki kendali penuh atas perjalanan yang akan ditempuh.
Kita bisa merencanakan banyak hal, tetapi keselamatan tetap berada di tangan Allah SWT.
Dengan perasaan tenang, kami pun berangkat menuju Soekarno-Hatta.
Perjalanan Menuju Singapura Berjalan Lancar
Bandara Soekarno-Hatta pagi itu cukup ramai, tetapi tidak sampai membuat antrean menjadi panjang.
Proses check-in berlangsung cepat. Pemeriksaan imigrasi juga relatif lancar. Tidak ada koper yang kelebihan berat, tidak ada dokumen yang tertinggal, dan tidak ada drama yang sering menjadi cerita klasik sebelum keberangkatan.
Penerbangan menuju Singapura juga berjalan nyaman.
Dari balik jendela pesawat, awan terlihat seperti hamparan kapas putih yang tidak berujung. Anak-anak tampak antusias melihat pemandangan di luar, sementara orang dewasa sibuk menghitung rencana yang akan dilakukan setibanya di sana.
Kemudian, pesawat mulai menurunkan ketinggian dan akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Changi.
Seperti banyak wisatawan lainnya, saya selalu kagum dengan bandara ini.
Bersih, tertata rapi, modern, dan terasa nyaman sejak langkah pertama keluar dari pesawat.
Namun ternyata ada satu pengalaman yang menunggu di depan.
Saat Petugas Meminta Saya Melepas Sepatu
Setelah mengikuti alur kedatangan, saya tiba di area pemeriksaan keamanan.
Tidak ada yang terasa berbeda.
Saya hanya mengikuti instruksi petugas seperti biasa.
Saat itu saya mengenakan sepatu Converse high-top berbahan kanvas. Modelnya menutupi mata kaki, tetapi bukan sepatu boots, bukan sepatu kulit tebal, dan bukan pula sepatu khusus yang terlihat mencolok.
Karena itu saya cukup terkejut ketika petugas meminta saya melepas sepatu tersebut.
Awalnya saya sempat berpikir,
“Apakah ada masalah dengan sepatu saya?”
Atau mungkin ada aturan tertentu yang belum saya ketahui?
Saya mengikuti instruksi petugas dan melepas sepatu tanpa banyak bertanya. Prosesnya berlangsung cepat. Setelah diperiksa, saya diperbolehkan melanjutkan perjalanan seperti biasa.
Tidak ada pertanyaan tambahan. Tidak ada pemeriksaan khusus yang panjang.
Selesai begitu saja.
Namun rasa penasaran tetap tertinggal.
Kenapa saya yang diminta melepas sepatu, sementara tidak semua penumpang mengalami hal yang sama?
Kenapa Sepatu Bisa Menjadi Bagian dari Pemeriksaan Keamanan?
Setelah mencari tahu lebih lanjut, saya baru memahami bahwa pengalaman tersebut sebenarnya cukup umum terjadi di berbagai bandara internasional.
Pemeriksaan Tambahan Tidak Selalu Berarti Ada Masalah
Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa pemeriksaan tambahan bukan berarti seseorang dicurigai melakukan pelanggaran.
Dalam banyak kasus, pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari prosedur keamanan rutin.
Bandara internasional menerapkan berbagai lapisan pengamanan untuk memastikan keselamatan seluruh penumpang.
Karena itu, petugas kadang melakukan pemeriksaan tambahan meskipun tidak ada indikasi masalah.
Sepatu High-Top Memiliki Ruang yang Lebih Besar
Dibandingkan sepatu low-top biasa, sepatu yang menutupi mata kaki memiliki struktur yang lebih tinggi dan ruang yang lebih luas.
Dari sudut pandang keamanan, area tambahan tersebut perlu dipastikan tidak menyimpan benda yang tidak seharusnya berada di sana.
Bukan karena model sepatunya dilarang.
Bukan juga karena bahannya berbahan kanvas.
Namun karena bentuk fisiknya memang memberikan lebih banyak ruang dibanding sepatu biasa.
Pemeriksaan Acak Juga Bisa Terjadi
Kemungkinan lainnya adalah pemeriksaan acak atau random screening.
Bandara di berbagai negara sering menerapkan pemeriksaan tambahan secara acak kepada sebagian penumpang.
Tujuannya sederhana, menjaga sistem keamanan tetap efektif dan tidak mudah diprediksi.
Jadi sangat mungkin seseorang diminta melepas sepatu, sementara penumpang lain yang berada tepat di belakangnya tidak mengalami hal yang sama.
Pengalaman Kecil yang Mengubah Cara Pandang Saya
Sebelum mengalami sendiri kejadian tersebut, saya mengira hanya sepatu boots besar atau alas kaki tertentu yang biasanya diperiksa.
Ternyata kenyataannya tidak selalu demikian.
Pengalaman singkat di Bandara Changi membuat saya memahami bahwa prosedur keamanan sering kali jauh lebih kompleks daripada yang terlihat.
Sebagai penumpang, terkadang kita hanya melihat beberapa menit pemeriksaan.
Namun di balik itu ada sistem yang dirancang untuk melindungi ribuan bahkan jutaan orang yang bepergian setiap tahunnya.
Karena itu, jika suatu saat Anda bepergian dan diminta membuka sepatu, melepas jaket, atau menjalani pemeriksaan tambahan, tidak perlu langsung panik.
Dalam banyak kasus, hal tersebut hanyalah bagian dari prosedur normal.
Pelajaran yang Saya Bawa Pulang dari Perjalanan Ini
Menariknya, hal yang paling saya ingat dari perjalanan tersebut bukanlah gedung-gedung tinggi Singapura atau pusat perbelanjaannya.
Justru sebuah momen sederhana ketika saya berdiri di area pemeriksaan sambil membawa sepatu di tangan.
Peristiwa yang mungkin hanya berlangsung beberapa menit itu mengingatkan saya bahwa perjalanan selalu menyimpan hal-hal kecil yang tidak bisa diprediksi.
Kita sering fokus pada tujuan akhir.
Fokus pada tempat yang ingin dikunjungi, makanan yang ingin dicoba, atau foto yang ingin diambil.
Padahal kadang kenangan yang paling membekas justru lahir dari hal-hal yang tidak masuk dalam rencana.
Itulah mengapa perjalanan selalu menarik.
Ia mengajarkan bahwa tidak semua pengalaman harus besar untuk menjadi berkesan. Sebagaimana doa safar yang kami baca sebelum berangkat, kita sebagai manusia memang hanya bisa merencanakannya langkah demi langkah.