Mengapa Umat Islam Berpuasa Asyura? Ternyata Berawal dari Kisah Nabi Musa dan Firaun

Suasana laut sebelum terbelah dengan ombak besar dan cahaya yang menembus awan gelap, menggambarkan momen penuh ketegangan dalam kisah Nabi Musa AS yang berkaitan dengan Hari Asyura.

Setiap kali bulan Muharram tiba, banyak umat Islam mulai membicarakan satu amalan yang sudah sangat dikenal sejak zaman Rasulullah ﷺ, yaitu puasa Asyura. Ada yang mengingatnya sebagai puasa yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu, ada pula yang sekadar mengetahui bahwa puasa ini dilakukan pada tanggal 10 Muharram.

Namun di balik amalan itu, tersimpan sebuah kisah besar yang melibatkan salah satu nabi paling terkenal dalam sejarah manusia, yaitu Nabi Musa AS.

Kisah ini bukan hanya tentang laut yang terbelah atau seorang raja zalim yang tenggelam. Lebih dari itu, kisah ini berbicara tentang harapan di tengah ketakutan, tentang pertolongan Allah SWT yang datang pada saat yang paling tidak terduga, dan tentang rasa syukur yang kemudian menjadi salah satu ibadah sunnah bagi umat Islam hingga hari ini.


Apa Itu Hari Asyura?

Hari Asyura adalah tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah. Nama “Asyura” berasal dari kata Arab ‘asyarah yang berarti sepuluh.

Muharram sendiri merupakan bulan pertama dalam kalender Islam dan termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Karena itu, datangnya Muharram selalu menjadi momen yang istimewa bagi umat Muslim.

Tak sedikit pula yang bertanya-tanya apakah ada amalan khusus yang dianjurkan ketika memasuki tahun baru Hijriah. Selain puasa Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, pembahasan mengenai keutamaan dan amalan di bulan Muharram memang sering menjadi perhatian umat Islam setiap tahunnya.


Sebuah Kisah Besar yang Berawal dari Kesombongan Firaun

Jauh sebelum Rasulullah ﷺ diutus, Mesir berada di bawah kekuasaan seorang penguasa yang dikenal dalam Al-Qur’an dengan nama Firaun.

Ia bukan sekadar raja yang kuat. Dalam kesombongannya, Firaun bahkan mengaku sebagai tuhan dan menuntut rakyatnya untuk tunduk sepenuhnya kepadanya.

Di bawah kekuasaannya, Bani Israil hidup dalam penindasan. Mereka dipaksa bekerja keras, diperlakukan dengan kejam, bahkan anak-anak laki-laki mereka dibunuh karena Firaun takut kehilangan kekuasaannya.

Di tengah situasi itulah Allah SWT mengutus Nabi Musa AS.

Nabi Musa AS datang membawa satu pesan yang maknanya, hanya menyembah Allah SWT  dan meninggalkan kesyirikan.

Namun seperti kisah para nabi lainnya, kebenaran tidak langsung diterima.

Firaun menolak. Ia mengejek. Ia menantang. Bahkan setelah melihat berbagai mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Musa AS, kesombongannya tidak juga luluh.

Hingga akhirnya Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir.

Malam itu mereka pergi meninggalkan negeri yang selama bertahun-tahun menjadi tempat penderitaan.

Tetapi kebebasan yang sudah tampak di depan mata ternyata belum benar-benar mereka raih.


Saat Laut di Depan dan Pasukan di Belakang

Bayangkan sebuah kelompok besar yang sedang melarikan diri.

Di depan mereka terbentang lautan yang luas. Di belakang mereka, pasukan Firaun yang lengkap dengan kuda dan senjata yang terus mendekat.

Secara logika manusia, tidak ada jalan keluar.

Al-Qur’an menggambarkan momen menegangkan itu dalam kisah Nabi Musa AS dan kaumnya. Ketika Bani Israil melihat pasukan Firaun semakin dekat, mereka merasa akan tertangkap.

Namun Nabi Musa AS menjawab dengan keyakinan yang luar biasa.

“Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

(QS. Asy-Syu’ara: 62)

Kalimat tersebut sebagai bentuk keyakinan dan tawakal yang luar biasa.

Lalu datanglah pertolongan Allah SWT.

Dengan izin-Nya, laut terbelah dan terbuka jalan bagi Nabi Musa AS dan kaumnya untuk menyeberang.

Mereka selamat.

Sebaliknya, ketika Firaun dan pasukannya mencoba mengikuti jalan yang sama, lautan kembali menyatu dan menenggelamkan mereka.

Peristiwa ini juga diabadikan dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya karena hendak menganiaya dan menindas mereka…”

(QS. Yunus: 90)

Hari itulah yang kemudian menjadi salah satu hari yang dikenang dalam sejarah para nabi.


Mengapa Peristiwa Ini Berkaitan dengan Puasa Asyura?

Hubungan antara peristiwa tersebut dengan puasa Asyura baru terlihat jelas ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah.

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah ﷺ mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura.

Beliau lalu bertanya tentang alasan mereka berpuasa.

Mereka menjawab bahwa hari tersebut adalah hari ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya serta menenggelamkan Firaun beserta pasukannya. Sebagai bentuk syukur, Nabi Musa AS berpuasa pada hari itu.

Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah itu beliau berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.

Hadis ini menjadi dasar utama mengapa umat Islam mengenal puasa Asyura hingga hari ini.


Keutamaan Puasa Asyura yang Sering Dicari Umat Islam

Selain karena sejarahnya yang besar, puasa Asyura juga memiliki keutamaan yang sangat istimewa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.”

(HR. Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap membutuhkan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT.

Hadis ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya. Sebuah puasa sunnah yang dilakukan hanya satu hari ternyata memiliki keutamaan yang luar biasa.


Mengapa Banyak Ulama Menganjurkan Puasa 9 dan 10 Muharram?

Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan keinginan untuk menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”

(HR. Muslim)

Karena itulah banyak ulama menganjurkan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus.

Di antara hikmahnya adalah untuk menyelisihi kebiasaan Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Karena itu, yang paling utama adalah berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Namun jika seseorang hanya mampu berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, ia tetap mendapatkan keutamaan puasa Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih.


Lebih dari Puasa Menahan Lapar dan Haus

Inti dari Hari Asyura sebenarnya bukan hanya tentang menahan lapar dan haus.

Di balik puasa tersebut terdapat sebuah pesan yang sangat dalam.

Kisah Nabi Musa AS mengajarkan bahwa pertolongan Allah SWT datang ketika semua jalan yang terlihat oleh manusia telah tertutup.

Bani Israil melihat laut di depan dan musuh di belakang. Secara logika, mereka tidak memiliki peluang untuk selamat.

Namun justru pada saat itulah pertolongan Allah SWT datang dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.

Mungkin itulah sebabnya kisah ini terus dikenang hingga ribuan tahun kemudian.

Karena dalam hidup, hampir setiap orang pernah mengalami “laut di depan dan Firaun di belakang” versinya masing-masing. Ada yang menghadapi kesulitan ekonomi, kehilangan pekerjaan, masalah keluarga, atau ujian yang terasa begitu berat.

Di saat-saat seperti itu, kisah Asyura mengingatkan bahwa harapan tidak selalu berakhir ketika jalan terlihat buntu.

Pertolongan datang justru ketika manusia merasa tidak lagi memiliki pegangan selain kepada Allah SWT.

Dan di situlah makna syukur yang sebenarnya.

Bukan hanya ketika keadaan sedang baik-baik saja, tetapi juga ketika seseorang tetap percaya bahwa di balik kesulitan yang sedang dihadapi, Allah SWT mampu membuka jalan yang belum terlihat oleh mata manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *