Kenapa Tahun Hijriah dan Masehi Bisa Berbeda Jauh? Ternyata Selisihnya Bikin Kaget

Perbandingan kalender Hijriah dan kalender Masehi di atas meja kayu yang menunjukkan perbedaan sistem penanggalan bulan dan matahari

Saat kalender yang kita gunakan sehari-hari menunjukkan tahun 2026 Masehi, kalender Hijriah justru berada di tahun 1448 Hijriah. Angkanya terpaut cukup jauh. Bukan puluhan tahun, melainkan ratusan tahun.

Bagi sebagian orang, perbedaan ini mungkin hanya dianggap sebagai dua sistem penanggalan yang berbeda. Tapi jika ditelusuri lebih jauh, ternyata ada kisah sejarah, cara pandang terhadap waktu, dan bahkan dasar perhitungan yang sama sekali tidak sama di balik keduanya.

Lalu, mengapa tahun Hijriah dan Masehi bisa berbeda? Apakah karena yang satu berasal dari Islam dan yang satu lagi bukan? Atau karena keduanya memang menghitung waktu dengan cara yang berbeda?


Apa Itu Tahun Hijriah?

Kalender Hijriah adalah sistem penanggalan yang digunakan umat Islam untuk menentukan berbagai ibadah, mulai dari Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, hingga pelaksanaan ibadah haji.

Nama “Hijriah” berasal dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah, sebuah peristiwa yang menjadi titik balik penting dalam sejarah Islam.

Meski demikian, kalender Hijriah tidak langsung dibuat saat Nabi Muhammad ﷺ masih hidup. Sistem penanggalan ini baru ditetapkan secara resmi pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika kebutuhan administrasi pemerintahan semakin berkembang.

Menariknya, Islam sejak awal memang sangat dekat dengan perhitungan waktu berdasarkan bulan.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi…”

(QS. At-Taubah: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa sistem bulan memiliki kedudukan penting dalam penentuan waktu dalam Islam.

Hal yang sama juga dijelaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ:

“Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan…”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itulah berbagai ibadah dalam Islam selalu dikaitkan dengan bulan-bulan Hijriah, bukan kalender lain.


Apa Itu Tahun Masehi?

Jika kalender Hijriah berpatokan pada bulan, kalender Masehi menggunakan pendekatan yang berbeda.

Kalender Masehi mengikuti peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Karena itu, ia sering disebut sebagai kalender matahari atau solar calendar.

Sistem ini kemudian berkembang menjadi standar penanggalan yang digunakan hampir di seluruh dunia untuk urusan administrasi, pendidikan, perdagangan, teknologi, hingga hubungan internasional.

Secara historis, penomoran tahun Masehi dikaitkan dengan kelahiran Nabi Isa AS menurut tradisi agama Kristen. Dari sinilah muncul istilah seperti:

  • BC (Before Christ)
  • AD (Anno Domini)

Namun dalam penggunaannya saat ini, kalender Masehi lebih berfungsi sebagai sistem sipil global daripada simbol keagamaan.

Karena itulah seseorang bisa menggunakan kalender Masehi setiap hari tanpa harus terkait dengan keyakinan tertentu.


Perbedaan Utama Tahun Hijriah dan Masehi

Meski sama-sama digunakan untuk menghitung waktu, keduanya sebenarnya berdiri di atas dasar yang berbeda.

AspekHijriahMasehi
Dasar perhitunganPeredaran BulanPeredaran Bumi mengelilingi Matahari
Lama setahun354–355 hari365–366 hari
Titik awal penanggalanHijrah Nabi Muhammad ﷺSistem penomoran tahun Masehi
Fungsi utamaPenentuan ibadah IslamPenanggalan sipil internasional

Perbedaan inilah yang kemudian membuat angka tahunnya berkembang dengan kecepatan yang tidak sama.


Mengapa Angka Tahun Hijriah dan Masehi Berbeda Jauh?

Di sinilah letak jawabannya.

Satu tahun Hijriah terdiri dari sekitar 354 hari, sedangkan satu tahun Masehi sekitar 365 hari.

Artinya, setiap tahun Hijriah lebih pendek sekitar 10 hingga 11 hari.

Sekilas mungkin tidak terasa.

Namun bayangkan jika selisih itu terus terjadi setiap tahun selama ratusan tahun.

Lama-kelamaan, kalender Hijriah akan “berjalan” lebih cepat dibanding kalender Masehi.

Sebagai gambaran sederhana, dalam rentang sekitar 33 tahun Masehi, biasanya telah berlalu sekitar 34 tahun Hijriah.

Karena itulah hari ini kita melihat angka 1448 H dan 2026 M berdampingan, meskipun keduanya sama-sama sedang menghitung perjalanan waktu yang berlangsung di dunia yang sama.


Mengapa Ramadhan Selalu Bergeser?

Banyak orang mulai menyadari perbedaan kalender ini saat memasuki bulan Ramadhan.

Ada yang masih ingat ketika Ramadhan pernah jatuh pada musim kemarau. Beberapa tahun kemudian bergeser lagi. Terus bergeser dari tahun ke tahun.

Fenomena ini bukan keanehan kalender.

Justru itulah karakter kalender Hijriah.

Karena mengikuti siklus bulan, kalender Hijriah tidak terikat dengan musim tertentu.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa awal dan akhir bulan dalam Islam berkaitan dengan kemunculan hilal atau penampakan bulan sabit awal bulan.

Akibatnya, Ramadhan bisa berada di bulan Maret pada satu masa, lalu bergeser ke Februari, Januari, bahkan Desember pada masa yang lain.

Dalam satu siklus panjang, Ramadhan akan melewati seluruh musim.


Kalender Islam Dibangun di Atas Peredaran Bulan

Bagi sebagian orang, penggunaan kalender bulan mungkin terasa unik di era modern.

Namun dalam syariat Islam, sistem ini justru memiliki peran yang sangat mendasar.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ibadah-ibadah yang berkaitan dengan waktu dalam Islam dibangun di atas kalender qamariyah atau kalender bulan.

Hal ini terlihat jelas dalam penentuan:

  • Awal Ramadhan
  • Idul Fitri
  • Idul Adha
  • Hari Arafah
  • Musim Haji

Semuanya merujuk kepada kalender Hijriah.

Karena itu, meskipun banyak umat Islam yang menggunakan kalender Masehi dalam kehidupan sehari-hari, kalender Hijriah tetap memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pelaksanaan ibadah.


Kenapa Kalender Islam Dimulai dari Hijrah Nabi Muhammad ﷺ?

Ini mungkin pertanyaan yang tidak kalah menarik.

Jika Nabi Muhammad ﷺ adalah tokoh sentral dalam Islam, mengapa kalender Islam tidak dimulai dari kelahiran beliau?

Mengapa bukan dari turunnya wahyu pertama?

Mengapa bukan dari wafat beliau?

Ternyata para sahabat memiliki pertimbangan tersendiri.

Mereka memilih peristiwa Hijrah karena momen itulah yang menjadi titik perubahan besar dalam sejarah Islam. Dari sebuah komunitas kecil yang menghadapi tekanan di Makkah, umat Islam kemudian membangun masyarakat yang lebih kuat di Madinah.

Menariknya, keputusan tersebut memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang, yang menunjukkan bagaimana para sahabat memandang peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan Islam.

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Ia menjadi simbol perubahan, perjuangan, dan awal terbentuknya peradaban Islam yang lebih luas.


Apakah Umat Islam Boleh Menggunakan Kalender Masehi?

Dalam praktik sehari-hari, banyak umat Islam yang menggunakan kalender Masehi.

Jadwal sekolah, pekerjaan, perjalanan, hingga dokumen negara menggunakan sistem ini.

Para ulama  menjelaskan bahwa penggunaan kalender Masehi untuk urusan duniawi tidak menjadi masalah. Namun ketika berkaitan dengan ibadah yang telah ditetapkan syariat, maka rujukannya tetap kalender Hijriah.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa berbagai ibadah dalam Islam dikaitkan dengan bulan-bulan qamariyah sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Karena itu, keduanya bukanlah sistem yang harus dipertentangkan.

Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.


Ketika Dua Kalender Mengajarkan Cara Pandang yang Berbeda tentang Waktu

Pada akhirnya, perbedaan tahun Hijriah dan Masehi bukan sekadar soal angka.

Di balik angka 1448 H dan 2026 M, terdapat dua cara menghitung perjalanan waktu yang berbeda. Yang satu mengikuti siklus bulan, sementara yang lain mengikuti perjalanan Bumi mengelilingi Matahari.

Namun ada hal lain untuk direnungkan.

Kalender Masehi sering membuat kita akrab dengan target, jadwal, dan tenggat waktu. Sementara kalender Hijriah kerap mengingatkan kita pada momen-momen ibadah yang datang silih berganti, Ramadhan, Idul Fitri, Arafah, hingga musim haji.

Keduanya sama-sama menghitung waktu, tetapi ada yang berbeda.

Dan di situlah letak pelajaran yang paling berharga.

Waktu tidak hanya soal berapa tahun telah berlalu.

Waktu adalah tentang apa yang kita lakukan selama perjalanan tersebut.

Entah kalender di dinding menunjukkan 2026 M atau 1448 H, setiap hari yang berlalu tetaplah satu hari yang tidak akan pernah kembali. Maka yang paling penting bukanlah angka tahunnya, melainkan bagaimana kita mengisinya sebelum ia berubah menjadi bagian dari sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *