Dari Mobil Bensin ke Mobil Listrik, Tagihan PLN Sebulan Jadi Berapa?

Mobil listrik sedang dicas di rumah pada malam hari dengan pemilik melihat ponsel di dekat meteran listrik

Bagi pemilik mobil bensin, biaya perjalanan bulanan biasanya ada ritmenya. Isi bensin seminggu sekali, kadang dua kali. Begitu lampu indikator mulai nyala, mampir ke SPBU, bayar, lalu jalan lagi. Lama-lama, tanpa perlu mencatat terlalu detail, kita sudah punya perkiraan sendiri, sebulan habis sekian ratus ribu, atau bahkan lebih dari sejuta rupiah.

Tapi begitu mulai melirik mobil listrik, hitungannya berubah.

Bukan lagi soal berapa liter bensin yang masuk ke tangki. Bukan lagi soal konsumsi 1 liter bisa menempuh berapa kilometer. Pertanyaannya bergeser ke yang terdengar lebih terasa “rumahan”, yaitu kalau mobil listrik dicas di rumah, nanti tagihan PLN-nya naik berapa?

Bagi banyak orang, mobil listrik bukan cuma soal teknologi baru. Ini soal kebiasaan hidup yang ikut berubah. Dulu mobil “minum” di SPBU. Sekarang mobil ikut “makan listrik” di rumah. Dulu pengeluaran kendaraan terasa terpisah dari tagihan rumah. Sekarang, biaya perjalanan harian bisa ikut muncul di meteran listrik.

Jadi, apakah tagihan PLN pasti naik setelah punya mobil listrik?

Ya, pasti naik.

Tapi naiknya tidak perlu ditebak-tebak. Dengan asumsi yang masuk akal, kenaikan itu bisa dihitung. Dan untuk pemakaian harian normal, angkanya sering kali tidak semenakutkan yang dibayangkan.


Tagihan PLN Pasti Naik, Tapi Tenang Saja

Mobil listrik pada dasarnya menambah beban listrik baru di rumah. Kalau sebelumnya listrik rumah dipakai untuk lampu, kulkas, AC, mesin cuci, televisi, pompa air, dan perangkat elektronik lain, setelah punya mobil listrik ada satu “penghuni baru” yang ikut mengambil energi.

Bedanya, energi untuk mobil listrik tidak dihitung dalam liter, tetapi dalam kilowatt-hour atau kWh.

Di sinilah banyak calon pembeli yang mulai bingung. Kalau mobil bensin mudah dibayangkan, isi 30 liter, harga sekian per liter, totalnya sekian. Mobil listrik terdengar lebih abstrak, baterai 40 kWh, konsumsi 15 kWh per 100 km, charging loss, tarif listrik per kWh.

Tenang, tidak rumit.

Biaya listrik mobil listrik terutama ditentukan oleh tiga hal, seberapa jauh mobil dipakai, seberapa hemat konsumsi energinya, dan berapa tarif listrik yang dikenakan di rumah.

Untuk konteks Indonesia, tarif listrik perlu mengacu pada ketentuan yang sedang berlaku. Kementerian ESDM menetapkan tarif tenaga listrik PLN Triwulan III 2026 atau periode Juli–September 2026 untuk 13 golongan pelanggan nonsubsidi tidak mengalami kenaikan. Kebijakan ini diumumkan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberi kepastian bagi pelanggan dan pelaku usaha.

Dalam simulasi artikel ini, kita memakai tarif Rp1.444,70 per kWh sebagai acuan hitung untuk pelanggan rumah tangga tertentu, terutama yang banyak dijadikan contoh pada golongan 1.300 VA dan 2.200 VA. Namun, kita tetap perlu menyesuaikan dengan golongan listrik rumah kita masing-masing, karena tarif bisa berbeda untuk daya dan kategori pelanggan yang berbeda.


Jangan Menghitung dari Kapasitas Baterai Saja

Kesalahan yang sering terjadi saat orang baru mulai mengenal mobil listrik adalah menghitung dari kapasitas baterai.

Misalnya begini, mobil listrik punya baterai 50 kWh. Lalu muncul bayangan, “Kalau sebulan dicas empat kali penuh, berarti 200 kWh.” Hitungan ini tidak sepenuhnya salah, tapi sering kurang menggambarkan pemakaian nyata.

Dalam kehidupan sehari-hari, mobil jarang benar-benar dipakai sampai baterainya 0 persen, lalu dicas penuh sampai 100 persen. Kebanyakan orang justru mengisi baterai seperti mengisi daya ponsel, kadang dari 40 ke 80 persen, kadang dari 50 ke 90 persen, kadang hanya menambah sedikit karena besok harus berangkat pagi.

Jadi, cara yang lebih baik bukan menghitung dari kapasitas baterai, tetapi dari jarak tempuh.

Berapa kilometer mobil dipakai dalam sebulan? Berapa konsumsi listrik mobil itu untuk menempuh 100 km? Dari sana, baru terlihat berapa kWh yang kira-kira dibutuhkan.

Prinsip ini sejalan dengan cara pengukuran efisiensi kendaraan listrik secara umum. Environmental Protection Agency atau EPA, misalnya, menggunakan satuan energi untuk membandingkan efisiensi kendaraan listrik, termasuk konsep bahwa 33,7 kWh setara dengan energi dalam satu galon bensin untuk perhitungan MPGe.

Artinya, energi mobil listrik memang bisa dihitung. Hanya satuannya saja yang berbeda dari mobil bensin.

Penting juga untuk tidak terlalu polos membaca angka jarak tempuh di brosur. Klaim 400 km atau 500 km tidak selalu sama dengan pemakaian nyata di jalan. Kondisi lalu lintas, kecepatan, AC, muatan, gaya mengemudi, dan standar pengujian bisa membuat hasilnya berbeda. Karena itu, calon pembeli perlu memahami bahwa klaim range mobil listrik di brosur belum tentu sama dengan pemakaian nyata, terutama ketika angka tersebut berasal dari standar pengujian yang berbeda-beda.


Rumus Sederhana Menghitung Biaya Listrik Mobil Listrik

Untuk menghitung estimasi tagihan listrik mobil listrik, rumus sederhananya seperti ini:

Biaya bulanan = jarak bulanan × konsumsi energi mobil × tarif listrik

Agar lebih akurat, kita tambahkan satu faktor lagi, efisiensi charging.

Sebab, listrik yang keluar dari jaringan PLN tidak semuanya masuk menjadi energi yang tersimpan di baterai. Ada sebagian energi yang hilang dalam proses pengisian, misalnya karena panas, konversi arus, dan kerja perangkat charger. Dalam penjelasan populer tentang charging loss, Car and Driver mencatat bahwa mobil listrik secara umum bisa memakai energi sekitar 12–15 persen lebih banyak dibanding energi yang benar-benar masuk ke baterai, meski angka ini bisa lebih rendah atau lebih tinggi tergantung kondisi pengisian.

Untuk membuat simulasi ini mudah dibaca, kita pakai asumsi charging loss sekitar 10 persen. Jadi, efisiensi charging dianggap sekitar 90 persen.

Rumus yang lebih lengkap menjadi:

Biaya bulanan = jarak bulanan × konsumsi kWh per km ÷ efisiensi charging × tarif listrik

Kalau terasa terlalu teknis, sederhananya begini, kita hitung dulu kebutuhan energi mobil, lalu tambahkan sedikit karena proses charging tidak 100 persen sempurna.

Alternative Fuels Data Center juga menjelaskan prinsip yang sama, untuk menghitung biaya pemakaian kendaraan listrik, yang perlu diketahui adalah biaya listrik per kWh dan efisiensi kendaraan, yaitu seberapa banyak listrik yang dipakai untuk menempuh jarak tertentu.

Sekarang kita masuk ke bagian yang paling ditunggu, simulasinya.


Simulasi Tagihan PLN: Mobil Listrik Dipakai 60 Km per Hari Kerja

Kita ambil contoh yang cukup dekat dengan kehidupan banyak orang di kota besar dan sekitarnya.

Misalnya seseorang tinggal di pinggiran kota, bekerja di Jakarta atau kawasan perkotaan lain, dan menempuh perjalanan sekitar 60 km pulang-pergi per hari.

Asumsinya seperti ini:

Asumsi Simulasi

  • Jarak harian: 60 km
  • Pemakaian: 22 hari kerja per bulan
  • Total jarak bulanan: 1.320 km
  • Konsumsi mobil listrik: 15 kWh per 100 km
  • Efisiensi charging: 90 persen
  • Tarif listrik acuan: Rp1.444,70 per kWh

Angka konsumsi 15 kWh per 100 km dipakai sebagai contoh tengah. Mobil listrik kecil bisa lebih irit dari itu. SUV listrik besar bisa lebih boros.

Sekarang kita hitung.

Total energi yang dibutuhkan baterai:

1.320 km ÷ 100 × 15 kWh = 198 kWh

Namun karena ada charging loss, energi yang ditarik dari jaringan listrik menjadi lebih besar:

198 kWh ÷ 90 persen = 220 kWh

Lalu dikalikan tarif listrik:

220 kWh × Rp1.444,70 = Rp317.834

Jadi, untuk pemakaian 60 km per hari selama 22 hari kerja, tagihan listrik rumah diperkirakan naik sekitar:

Sekitar Rp318 ribu per bulan

Angka ini belum termasuk komponen kecil lain yang mungkin muncul di tagihan, seperti pajak penerangan jalan atau biaya administrasi pembayaran. Namun sebagai gambaran kasar, angka Rp300 ribuan ini sudah cukup membantu untuk membayangkan biaya energi mobil listrik di rumah.

Dan kalau dibandingkan dengan biaya bensin, selisihnya mulai terasa.


Kalau Dipakai Setiap Hari Selama Sebulan, Biayanya Jadi Berapa?

Sekarang kita buat skenario kedua.

Tidak semua orang hanya memakai mobil untuk berangkat kerja. Ada yang Sabtu-Minggu tetap jalan, mengantar keluarga, belanja bulanan, mengunjungi orang tua, atau sekadar keluar rumah karena anak-anak sudah bosan di rumah.

Kalau mobil listrik dipakai 60 km setiap hari selama 30 hari, total jaraknya menjadi:

60 km × 30 hari = 1.800 km per bulan

Kebutuhan energi baterai:

1.800 km ÷ 100 × 15 kWh = 270 kWh

Dengan charging loss 10 persen:

270 kWh ÷ 90 persen = 300 kWh

Biaya listrik:

300 kWh × Rp1.444,70 = Rp433.410

Jadi, jika mobil dipakai setiap hari selama sebulan penuh, kenaikan tagihan listriknya menjadi sekitar:

Sekitar Rp433 ribu per bulan

Dari sini terlihat bahwa kenaikannya memang ada, tetapi masih dalam hitungan ratusan ribu rupiah. Bukan otomatis melonjak menjadi jutaan rupiah, selama pemakaiannya masih dalam skenario harian yang wajar.


Mobil Lebih Irit atau Lebih Boros, Tagihan Ikut Berubah

Tentu saja, tidak semua mobil listrik sama.

Mobil listrik kecil yang ringan bisa lebih hemat energi. Mobil listrik besar, terutama SUV dengan baterai besar dan bobot berat, bisa memakai energi lebih banyak. Cara mengemudi juga berpengaruh. Begitu pula penggunaan AC, tekanan ban, kondisi jalan, macet, kecepatan tinggi di jalan tol, sampai jumlah penumpang.

Untuk jarak 1.320 km per bulan, berikut gambaran kasarnya:

Konsumsi Mobil ListrikEnergi dari PLNEstimasi Biaya per Bulan
12 kWh/100 kmsekitar 176 kWhsekitar Rp254 ribu
15 kWh/100 kmsekitar 220 kWhsekitar Rp318 ribu
18 kWh/100 kmsekitar 264 kWhsekitar Rp381 ribu
20 kWh/100 kmsekitar 293 kWhsekitar Rp424 ribu

Jadi, kalau ada yang bertanya, “Punya mobil listrik tagihan PLN naik berapa?”, jawabannya tidak bisa satu angka untuk semua orang.

Untuk pemakaian sekitar 1.300 km per bulan, kenaikan tagihan bisa berada di kisaran Rp250 ribuan sampai Rp420 ribuan, tergantung jenis mobil dan pola penggunaan.


Dibandingkan Mobil Bensin, Selisihnya Mulai Terasa

Sekarang kita lihat dari sisi pemilik mobil bensin.

Misalnya mobil bensin yang digunakan sehari-hari punya konsumsi sekitar 14 km per liter. Untuk menempuh 1.320 km per bulan, kebutuhan bensinnya kira-kira:

1.320 km ÷ 14 km/liter = 94 liter

Kalau harga bensin yang dipakai sebagai ilustrasi berada di Rp13.000 per liter, biaya bulanannya sekitar:

94 liter × Rp13.000 = Rp1,22 juta

Kalau Rp15.000 per liter:

94 liter × Rp15.000 = Rp1,41 juta

Kalau Rp17.000 per liter:

94 liter × Rp17.000 = Rp1,60 juta

Harga BBM tentu perlu dicek sesuai wilayah dan jenis bahan bakar yang digunakan.

Namun dari simulasi sederhana ini, perbedaannya sudah terlihat.

Untuk jarak yang sama, mobil bensin bisa menghabiskan sekitar Rp1,2 juta sampai Rp1,6 juta per bulan, sementara mobil listrik dalam skenario tadi membutuhkan sekitar Rp318 ribu jika mayoritas charging dilakukan di rumah.

Artinya, dari sisi energi saja, mobil listrik bisa jauh lebih murah.

Tapi kalimat “dari sisi energi saja” ini penting digarisbawahi. Karena membeli mobil bukan cuma soal biaya bensin atau listrik.


Charge di Rumah Lebih Praktis, Tapi SPKLU Tetap Perlu Diperhitungkan

Salah satu keunggulan mobil listrik adalah kebiasaan baru yang unik, pulang ke rumah, colok charger, besok pagi baterai sudah terisi lagi.

Tidak perlu antre SPBU. Tidak perlu mampir setelah pulang kerja. Tidak perlu menunggu indikator bensin turun dulu baru mencari tempat isi bahan bakar.

Namun, simulasi biaya murah tadi terutama berlaku kalau mayoritas pengisian dilakukan di rumah.

Kalau pemilik mobil sering melakukan charging di SPKLU, terutama fast charging atau ultra fast charging, biaya dan pola penggunaannya bisa berbeda. SPKLU tetap penting, terutama untuk perjalanan jauh atau kondisi darurat, tetapi untuk pemakaian harian, home charging biasanya lebih nyaman dan lebih mudah dikontrol.

Di Indonesia, ekosistem pengisian daya publik juga terus berkembang. Ditjen Ketenagalistrikan ESDM menjelaskan bahwa Charge.IN dibuat untuk mendukung proses pengisian kendaraan listrik di SPKLU, termasuk mengontrol dan memonitor pengisian baterai mobil atau motor listrik.

PLN juga membedakan teknologi pengisian di SPKLU, mulai dari medium charging dengan daya lebih dari 7 kW sampai 22 kW, fast charging di atas 22 kW sampai 50 kW, hingga ultra fast charging di atas 50 kW.

Buat calon pembeli, ini penting. Jangan hanya bertanya, “Mobilnya bisa dicas di mana?” Tapi tanyakan juga: “Saya paling sering akan ngecas di mana?”

Kalau jawabannya di rumah, hitungan bulanannya lebih mudah diprediksi. Kalau sering di luar rumah, biaya dan waktu charging perlu dihitung lebih hati-hati.


Jangan Lupa, Biaya Mobil Listrik Bukan Cuma Tagihan PLN

Sampai titik ini, mobil listrik terdengar sangat menggoda. Tagihan PLN naik sekitar Rp300 ribuan, sementara biaya bensin bisa di atas Rp1 juta. Selisihnya terasa besar.

Tapi sebagai pembeli, kita tetap perlu tenang.

Karena total biaya punya mobil listrik bukan cuma tagihan listrik.

Ada harga mobil. Ada cicilan. Ada kemungkinan biaya pemasangan home charger. Ada kemungkinan tambah daya listrik rumah. Ada pertanyaan tentang garansi baterai. Ada akses bengkel resmi. Ada juga soal nilai jual kembali beberapa tahun ke depan.

Jadi, sebelum pindah dari mobil bensin ke mobil listrik, biaya listrik bulanan memang perlu dihitung. Namun, daya rumah, akses charging, garansi baterai, jaringan bengkel, kebutuhan perjalanan harian, sampai pola pemakaian keluarga tetap termasuk hal-hal yang harus dicek sebelum membeli mobil listrik.

Bagian ini sering terlewat karena orang terlalu fokus pada promo, cicilan ringan, atau klaim biaya operasional murah. Padahal, mobil yang paling cocok bukan selalu yang paling murah di brosur. Mobil yang paling cocok adalah yang paling masuk akal untuk hidup sehari-hari.


Jadi, Tagihan PLN Naik Berapa Setelah Punya Mobil Listrik?

Kalau kita rangkum, hasil simulasinya seperti ini:

Untuk mobil listrik yang dipakai 60 km per hari selama 22 hari kerja, dengan konsumsi 15 kWh per 100 km, charging loss 10 persen, dan tarif listrik acuan Rp1.444,70 per kWh, kenaikan tagihan PLN diperkirakan sekitar:

Rp318 ribu per bulan

Kalau mobil dipakai 60 km setiap hari selama 30 hari, estimasinya menjadi sekitar:

Rp433 ribu per bulan

Kalau mobilnya lebih irit, bisa lebih rendah. Kalau mobilnya besar, sering dipakai jauh, atau sering charging di luar rumah, biayanya bisa lebih tinggi.

Maka, jawaban untuk pertanyaan “tagihan listrik naik berapa setelah punya mobil listrik?” adalah, naiknya tergantung pemakaian, tetapi untuk perjalanan harian normal, kenaikannya masih bisa dihitung dan umumnya berada di kisaran ratusan ribu rupiah per bulan.


FAQ Singkat soal Tagihan Listrik Mobil Listrik

Apakah mobil listrik bikin tagihan PLN naik banyak?

Naik, tetapi tidak selalu besar. Untuk pemakaian sekitar 60 km per hari selama 22 hari kerja, kenaikan tagihan bisa berada di sekitar Rp300 ribuan per bulan dalam simulasi ini.

Apakah lebih murah charge di rumah atau di SPKLU?

Untuk pemakaian harian, charge di rumah biasanya lebih mudah diprediksi dan nyaman. SPKLU tetap penting untuk perjalanan jauh, tetapi biaya dan kecepatan charging bisa berbeda tergantung lokasi dan jenis charger.

Apakah harus tambah daya listrik rumah?

Tergantung daya listrik rumah dan jenis charger yang dipakai. Calon pembeli perlu mengecek kebutuhan daya sebelum memasang home charger, agar pengisian mobil tidak mengganggu pemakaian listrik rumah lainnya.

Apakah angka simulasi ini berlaku untuk semua mobil listrik?

Tidak. Konsumsi energi setiap mobil berbeda. Mobil kecil bisa lebih hemat, SUV listrik besar bisa lebih boros. Karena itu, angka ini sebaiknya dipakai sebagai gambaran awal, bukan janji biaya pasti.


Yang Berubah Bukan Cuma Cara Mengisi Energi

Pindah dari mobil bensin ke mobil listrik bukan sekadar pindah dari SPBU ke colokan rumah. Ada kebiasaan yang ikut berubah. Ada cara berpikir yang bergeser.

Dulu, biaya perjalanan muncul setiap kali kita berhenti di SPBU. Terlihat jelas di struk pembelian. Ada angka yang langsung keluar dari dompet.

Dengan mobil listrik, biayanya berbeda. Ia masuk ke tagihan rumah. Tidak terasa setiap hari, tetapi muncul di akhir bulan. Karena itu, wajar kalau pemilik mobil bensin ingin tahu sejak awal, seberapa besar tagihan itu akan bertambah?

Dari simulasi ini, jawabannya cukup menenangkan. Ya, tagihan PLN akan naik. Tapi untuk pemakaian harian yang wajar, kenaikannya masih bisa dihitung, masih bisa diperkirakan, dan dalam banyak kasus masih jauh lebih rendah dibanding biaya bensin untuk jarak yang sama.

Namun, keputusan mengganti mobil bensin ke mobil listrik tetap tidak sebaiknya diambil hanya karena “listrik lebih murah daripada bensin”.

Mobil adalah bagian dari hidup sehari-hari. Ia mengantar kita bekerja, menjemput anak, pulang ke rumah orang tua, berhenti di minimarket saat hujan, atau hanya jalan-jalan biasa.

Maka pertanyaannya bukan hanya, “Tagihan PLN naik berapa?”

Pertanyaan adalah, apakah mobil listrik benar-benar cocok dengan ritme hidup kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *