
Bagi orang yang bertahun-tahun menggunakan mobil bensin, pergi ke bengkel sudah menjadi bagian dari rutinitas.
Beberapa bulan sekali, mobil dibawa servis. Oli mesin diganti, filter diperiksa, kondisi busi dilihat, rem dibersihkan, lalu teknisi mulai menyebut beberapa komponen yang mungkin perlu diganti pada kunjungan berikutnya.
Terasa wajar karena memang begitulah cara mobil bermesin bensin dirawat.
Namun, ketika mulai melirik mobil listrik, muncul cerita yang berbeda. Teman-teman mengatakan biaya servisnya lebih murah. Tidak perlu ganti oli mesin, tidak ada busi, dan komponen yang dirawat disebut jauh lebih sedikit.
Kedengarannya menyenangkan. Apalagi bagi calon pembeli yang sedang menghitung cicilan, biaya listrik, dan pengeluaran rumah tangga lainnya.
Pertanyaannya, apakah perawatan mobil listrik benar-benar lebih murah daripada mobil bensin? Atau perbedaannya hanya terasa karena mobil listrik yang beredar masih relatif baru?
Untuk melihatnya, mari kita pahami dahulu apa yang sebenarnya dirawat, lalu membandingkan dua mobil yang sama-sama dekat dengan kebutuhan konsumen di Indonesia, contohnya ada BYD Atto 1 dan Honda Brio Satya E CVT.
Benarkah Perawatan Mobil Listrik Lebih Murah?
Jawaban secara umum, benar.
Namun, yang dimaksud lebih murah adalah perawatan rutin atau servis terjadwal. Bukan berarti semua jenis kerusakan pada mobil listrik pasti lebih murah diperbaiki.
Secara umum, biaya perawatan rutin mobil listrik memang lebih rendah daripada mobil bensin. Analisis Consumer Reports terhadap data biaya perawatan dan perbaikan dari ribuan pemilik kendaraan menemukan bahwa pemilik mobil listrik baterai dan plug-in hybrid mengeluarkan biaya rata-rata sekitar 50 persen lebih rendah dibandingkan pemilik kendaraan bermesin pembakaran. Penghematan itu terutama berasal dari sistem penggerak yang lebih sederhana, komponen bergerak yang lebih sedikit, serta tidak adanya kebutuhan mengganti oli mesin, filter oli, busi, dan sejumlah komponen pembakaran.
Logikanya cukup mudah dipahami.
Semakin banyak komponen yang bergerak, bergesekan, mengalami panas, dan bekerja terus-menerus, semakin banyak pula bagian yang perlu diperiksa, dilumasi, dibersihkan, atau diganti.
Mobil bensin memiliki banyak komponen tersebut. Mobil listrik memiliki lebih sedikit.
Jadi, penghematan mobil listrik bukan muncul karena kendaraan ini tidak perlu dirawat. Penghematannya muncul karena daftar pekerjaannya lebih sedikit.
Kenapa Mobil Bensin Membutuhkan Lebih Banyak Perawatan?
Saat mesin bensin dinyalakan, bahan bakar dan udara dibakar di dalam ruang mesin. Proses tersebut menghasilkan tenaga, tetapi juga menciptakan panas, tekanan, residu, dan gesekan.
Di dalam mesin, piston bergerak naik turun. Katup membuka dan menutup. Poros engkol berputar. Oli bersirkulasi untuk melindungi komponen-komponen yang terus bekerja.
Semua proses itu berlangsung ribuan kali dalam waktu singkat, bahkan ketika mobil hanya sedang berjalan pelan di tengah kemacetan.
Karena itulah mobil bensin membutuhkan oli mesin.
Oli tidak dapat digunakan selamanya. Seiring waktu, kualitasnya menurun dan kotoran mulai terkumpul. Filter oli pun harus diganti agar sirkulasi pelumas tetap bersih.
Belum selesai di sana.
Ada Busi, Filter, dan Sistem Bahan Bakar
Mesin bensin membutuhkan busi untuk memicu pembakaran. Udara yang masuk perlu disaring. Bahan bakar dialirkan melalui pompa dan injektor. Gas sisa pembakaran harus dibuang melalui sistem knalpot.
Dalam perawatan berkala, pemilik mobil bensin dapat berhadapan dengan pemeriksaan atau penggantian:
- oli mesin dan filter oli;
- busi;
- filter udara mesin;
- filter bahan bakar;
- cairan pendingin;
- drive belt;
- sistem injeksi;
- throttle body;
- knalpot dan sistem emisi.
Tidak semua komponen tersebut diganti dalam setiap kunjungan. Namun, semuanya tetap menjadi bagian dari ekosistem perawatan mobil bensin.
Transmisi CVT Juga Memerlukan Perhatian
Mobil seperti Honda Brio Satya E CVT tidak hanya memiliki mesin bensin, tetapi juga transmisi continuously variable transmission atau CVT.
Transmisi ini memberikan pengalaman berkendara yang praktis dan halus, tetapi tetap menggunakan komponen serta fluida yang harus diperiksa dan dirawat sesuai jadwal.
Mobil listrik juga memiliki sistem reduksi untuk menyalurkan tenaga motor ke roda. Beberapa model menggunakan fluida tertentu. Namun, konstruksinya umumnya lebih sederhana karena tidak membutuhkan banyak rasio gigi seperti transmisi konvensional.
Komponen Apa yang Tidak Ada pada Mobil Listrik?
Mobil listrik murni tidak memiliki mesin pembakaran. Motor listrik mengambil energi dari baterai, lalu mengubahnya menjadi tenaga untuk memutar roda.
Karena tidak ada proses pembakaran bensin, mobil listrik umumnya tidak membutuhkan:
- oli mesin;
- filter oli;
- busi;
- filter bahan bakar;
- injektor bensin;
- timing belt;
- catalytic converter;
- knalpot;
- tune-up ruang pembakaran.
Setiap komponen yang tidak digunakan berarti ada satu pekerjaan servis yang hilang dari daftar perawatan berkala.
Tidak ada oli mesin yang harus diganti setiap beberapa ribu kilometer. Tidak ada busi yang menunggu masa penggantian. Tidak ada sistem knalpot yang berkarat atau sistem bahan bakar yang perlu dibersihkan.
Inilah sumber utama mengapa biaya perawatan mobil listrik dapat lebih rendah.
Lebih Sederhana Bukan Berarti Bebas Servis
Mobil listrik bukan telepon genggam yang cukup diisi daya lalu digunakan sampai rusak. Ia tetap kendaraan yang membawa penumpang, melewati lubang, terkena hujan, menghadapi kemacetan, dan menahan beban setiap hari.
Ban tetap bergesekan dengan aspal. Suspensi tetap menerima benturan. Rem tetap bekerja. AC tetap harus mendinginkan kabin.
BYD Indonesia melalui panduan servis dan pemeliharaannya juga menegaskan pentingnya perawatan berkala untuk menjaga baterai, motor listrik, sistem penggerak, perlindungan garansi, dan nilai jual kendaraan. Jadwal yang dicantumkan BYD mencakup pemeriksaan awal pada tiga bulan atau 5.000 km, kemudian setiap satu tahun atau 20.000 km, dengan ketentuan rinci tetap mengikuti model dan buku panduan kendaraan.
Ban Bisa Menjadi Pengeluaran yang Terlupakan
Mobil listrik membawa baterai yang menambah bobot kendaraan. Motor listrik juga memberikan torsi secara cepat sejak pedal akselerator ditekan.
Kombinasi bobot dan torsi tersebut dapat membuat ban lebih cepat aus jika pengemudi sering berakselerasi agresif.
Karena itu, tekanan angin, rotasi ban, spooring, balancing, serta kondisi tapak tetap perlu diperhatikan. Penghematan dari tidak mengganti oli mesin dapat berkurang jika ban terlalu cepat habis akibat gaya mengemudi.
Rem Bisa Lebih Awet, tetapi Tetap Harus Diperiksa
Mobil listrik menggunakan regenerative braking atau pengereman regeneratif.
Ketika pengemudi melepas pedal akselerator, motor listrik membantu memperlambat kendaraan sekaligus mengembalikan sebagian energi ke baterai. Akibatnya, rem mekanis tidak selalu bekerja sekeras pada mobil bensin.
Kampas rem pun berpotensi lebih awet.
Namun, cakram, kampas, kaliper, dan minyak rem tetap harus diperiksa. Komponen rem yang jarang bekerja keras pun dapat mengalami karat atau macet, terutama jika mobil lama tidak digunakan atau sering berada di lingkungan lembap.
AC, Filter Kabin, dan Baterai 12 Volt Tetap Ada
Mobil listrik masih memiliki AC, filter kabin, wiper, lampu, suspensi, cairan rem, serta baterai 12 volt.
Selain itu, teknisi perlu memeriksa kondisi port charging, konektor, sistem pendingin baterai, motor listrik, perangkat lunak, dan sistem tegangan tinggi.
Jadi, kalimat yang tepat bukan “mobil listrik tidak perlu servis”, melainkan “mobil listrik memiliki lebih sedikit komponen servis”.
Contoh Nyata, BYD Atto 1 vs Honda Brio Satya E CVT
Agar pembahasannya tidak berhenti pada teori, BYD Atto 1 dan Honda Brio Satya E CVT bisa menjadi contoh yang menarik.
Keduanya berada di kelas harga yang berdekatan, sama-sama berukuran ringkas, dapat membawa lima penumpang, dan masuk dalam pertimbangan konsumen yang membutuhkan kendaraan harian.
Tentu, keduanya tidak identik.
Atto 1 adalah mobil listrik yang sangat bergantung pada kesiapan charging. Brio merupakan mobil bensin yang memiliki fleksibilitas lebih luas untuk perjalanan mendadak dan pengisian energi yang cepat di SPBU.
Perbandingan berikut hanya difokuskan pada struktur perawatannya.
| Komponen perawatan | BYD Atto 1 | Honda Brio Satya E CVT |
| Oli mesin | Tidak digunakan | Diganti berkala |
| Filter oli | Tidak digunakan | Diganti berkala |
| Busi | Tidak digunakan | Diganti sesuai jadwal |
| Filter udara mesin | Tidak digunakan | Diperiksa dan diganti |
| Sistem bahan bakar | Tidak digunakan | Tetap diperiksa |
| Sistem knalpot | Tidak digunakan | Tetap ada |
| Fluida penggerak | Sistem reduksi lebih sederhana | Fluida CVT perlu dirawat |
| Minyak rem | Tetap diperiksa | Tetap diperiksa |
| Filter kabin | Tetap diganti | Tetap diganti |
| Ban dan suspensi | Tetap dirawat | Tetap dirawat |
| Sistem pendingin | Baterai dan motor | Mesin dan radiator |
Dari tabel tersebut, terlihat bahwa keduanya tetap membutuhkan perawatan pada ban, rem, suspensi, AC, dan sejumlah cairan.
Perbedaannya muncul pada komponen mesin pembakaran yang hanya dimiliki Brio.
Berapa Biaya Perawatan BYD Atto 1?
Berdasarkan data internal BYD Indonesia yang dikutip DetikOto pada Oktober 2025, biaya perawatan BYD Atto 1 disebut sekitar Rp1 juta untuk setiap 20.000 km atau satu tahun. Pemeriksaannya antara lain mencakup sistem kelistrikan, perangkat lunak, filter kabin, sistem pengereman, dan kondisi baterai.
Jika nominal tersebut digunakan sebagai proyeksi sederhana hingga 100.000 km, pemilik akan melewati sekitar lima interval servis utama.
Gambaran biayanya menjadi:
5 kali servis × Rp1 juta = sekitar Rp5 juta.
Angka Rp5 juta tersebut bukan daftar harga resmi yang mengikat sampai 100.000 km. Itu adalah proyeksi sederhana berdasarkan informasi biaya per interval yang tersedia untuk publik.
Harga jasa, suku cadang, cairan, pajak, dan kebijakan produsen dapat berubah.
Berapa Biaya Perawatan Honda Brio Satya E CVT?
Honda Indonesia menyediakan kalkulator biaya perawatan berkala yang dapat digunakan untuk memeriksa estimasi berdasarkan model, varian, dan interval kilometer. Karena harga suku cadang dan jasa dapat berubah, kalkulator resmi tersebut menjadi tempat paling aman untuk memeriksa biaya terbaru sebelum membeli.
Sebagai gambaran pembanding, perhitungan GridOto yang diterbitkan pada 31 Januari 2024 mencatat total biaya servis Honda Brio Satya hingga 100.000 km sekitar Rp9,928 juta.
Dengan demikian, ilustrasinya menjadi seperti berikut:
| Perbandingan hingga 100.000 km | BYD Atto 1 | Honda Brio Satya E CVT |
| Interval servis yang digunakan | 20.000 km atau satu tahun | Setiap kelipatan 10.000 km |
| Gambaran biaya | Sekitar Rp5 juta | Sekitar Rp9,928 juta |
| Dasar angka | Proyeksi biaya Rp1 juta per interval | Perhitungan GridOto Januari 2024 |
| Potensi selisih | Sekitar Rp4,9 juta lebih rendah | — |
Dalam ilustrasi tersebut, biaya servis terjadwal Atto 1 berada di kisaran separuh biaya Brio.
Namun, hasil ini tidak boleh dibaca sebagai kepastian mutlak.
Data keduanya diterbitkan pada waktu berbeda dan tidak dihitung menggunakan metode yang sepenuhnya sama. Biaya aktual juga dapat dipengaruhi lokasi bengkel, harga suku cadang, pekerjaan tambahan, kondisi kendaraan, serta program perawatan yang diterima ketika mobil dibeli.
Paket Servis Gratis Bisa Mengubah Hasilnya
Ada satu hal yang sering kelewat ketika konsumen membandingkan biaya servis, nilai servis tidak selalu sama dengan uang yang keluar dari dompet pemilik.
Pada Mei 2026, Honda menawarkan gratis Paket Prima Blue untuk Honda Brio Satya E CVT hingga empat tahun atau 50.000 km. Promo tersebut membuat pengeluaran servis pemilik pada beberapa tahun pertama dapat jauh lebih rendah, selama pembelian dan penggunaannya memenuhi ketentuan program.
Artinya, seseorang bisa saja memiliki Brio baru dan nyaris tidak merasakan biaya servis rutin pada awal kepemilikan karena sudah ditanggung paket.
Baru setelah paket berakhir, struktur biaya sebenarnya mulai terasa.
Sebelum membeli, tanyakan kepada tenaga penjual:
- Apakah paket mencakup biaya jasa dan suku cadang?
- Berapa lama masa berlakunya?
- Apakah menggunakan batas tahun atau kilometer?
- Komponen apa saja yang tidak termasuk?
- Berapa perkiraan biaya setelah paket selesai?
Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini sering lebih berguna daripada sekadar membaca tulisan “gratis servis” pada brosur.
Apakah Baterai Mobil Listrik Harus Diganti Setiap Lima Tahun?
Kekhawatiran lain biasanya muncul setelah melihat angka servis mobil listrik yang murah.
“Kalau baterainya rusak bagaimana?”
Pertanyaan tersebut wajar karena baterai merupakan salah satu komponen termahal dalam mobil listrik. Namun, baterai traksi bukan komponen yang dijadwalkan untuk diganti setiap beberapa tahun seperti oli, busi, atau filter.
Menambahkan biaya penggantian baterai penuh ke dalam biaya servis lima tahunan akan membuat perbandingannya tidak adil.
Baterai baru menjadi biaya ketika mengalami kerusakan, degradasi berat, benturan, masalah manufaktur, atau kondisi lain yang tidak dapat diselesaikan melalui perbaikan modul.
Karena itu, calon pembeli perlu membaca ketentuan garansi resmi BYD, termasuk kewajiban melakukan perawatan berkala di bengkel resmi dan berbagai pengecualian garansi. BYD menyebut kerusakan akibat kecelakaan, penggunaan tidak sesuai, modifikasi tanpa izin, atau penggunaan pengisi daya tidak resmi dapat berada di luar perlindungan. Detail yang berlaku tetap harus dicocokkan dengan buku garansi kendaraan.
Servis Murah Bukan Berarti Semua Perbaikan Murah
Mobil listrik memiliki lebih sedikit komponen bergerak, tetapi membawa sistem elektronik dan tegangan tinggi yang kompleks.
Jika terjadi kerusakan pada inverter, onboard charger, motor listrik, modul kontrol, atau baterai di luar garansi, biaya perbaikannya dapat besar dan membutuhkan teknisi khusus.
Ketersediaan bengkel juga perlu dipikirkan. Biaya servis murah tidak banyak membantu jika pemilik harus menempuh perjalanan jauh setiap kali kendaraan perlu diperiksa.
Karena itu, jangan mengambil keputusan hanya karena melihat angka perawatan yang rendah. Garansi baterai, jaringan bengkel, ketersediaan suku cadang, kesiapan rumah, hingga kebiasaan perjalanan tetap menjadi bagian dari hal yang harus dicek sebelum membeli mobil listrik.
Mobil yang perawatannya murah belum tentu menjadi mobil yang paling mudah dimiliki oleh setiap orang.
Biaya Perawatan Hanya Salah Satu Pengeluaran
Setelah mobil dibawa pulang, pengeluaran tidak berhenti pada servis.
Masih ada biaya energi, ban, asuransi, pajak, parkir, tol, cicilan, serta kemungkinan perbaikan akibat kecelakaan.
Bagi pemilik yang bisa melakukan pengisian di rumah, mobil listrik juga berpotensi memberikan penghematan energi. Namun, tambahan tagihan listrik setelah beralih ke mobil listrik tetap dipengaruhi jarak tempuh, konsumsi kendaraan, tarif listrik, charging loss, dan seberapa sering pengisian dilakukan di SPKLU.
Mobil listrik mungkin lebih murah diservis. Biaya energinya juga dapat lebih rendah. Namun, kecocokan akhirnya tetap bergantung pada pola hidup pemiliknya.
Seseorang yang setiap hari menempuh perjalanan puluhan kilometer dan bisa charging di rumah mungkin cepat merasakan penghematan.
Sebaliknya, orang yang jarang memakai mobil, tinggal jauh dari bengkel resmi, atau tidak memiliki tempat charging yang tetap mungkin mendapatkan pengalaman yang berbeda.
Jadi, Mobil Listrik atau Mobil Bensin yang Lebih Murah Dirawat?
Jika yang dibandingkan adalah perawatan rutin, mobil listrik umumnya memang lebih murah.
Alasannya bukan karena teknologi listrik memiliki “keajaiban” yang membuat mobil tidak perlu masuk bengkel. Sistem penggeraknya memang lebih sederhana dan tidak memiliki banyak komponen mesin pembakaran.
Tidak ada oli mesin, filter oli, busi, sistem bahan bakar, serta knalpot yang harus masuk dalam daftar servis.
Dalam ilustrasi BYD Atto 1 dan Honda Brio Satya E CVT, biaya perawatan hingga 100.000 km berada di kisaran Rp5 juta untuk Atto 1 dan sekitar Rp9,928 juta untuk Brio.
Selisihnya terlihat besar, tetapi tetap harus dibaca dengan hati-hati. Angka berasal dari periode dan metode perhitungan berbeda. Paket servis gratis juga dapat membuat pengeluaran nyata pemilik Brio jauh lebih kecil pada tahun-tahun awal.
Memiliki kendaraan tidak hanya berurusan dengan angka di tabel.
Mobil hadir dalam perjalanan pagi yang tergesa-gesa, hujan yang turun saat anak belum dijemput, kunjungan mendadak ke rumah orang tua, dan perjalanan jauh yang kadang tidak direncanakan.
Biaya memang penting. Namun, ketenangan datang bukan dari memilih mobil dengan angka servis paling rendah, melainkan dari memilih kendaraan yang paling sesuai dengan ritme hidup kita.