
Mobil listrik itu terlihat tenang ketika melaju. Tidak ada suara mesin yang menggeram, tidak ada perpindahan gigi yang terasa, dan tidak ada asap yang keluar dari belakang mobil.
Namun, di kepala calon pembelinya, suasananya belum tentu setenang itu.
Setelah menghitung harga, cicilan, jarak tempuh, biaya charging, dan kesiapan listrik di rumah, biasanya muncul satu pertanyaan yang cukup mengganggu.
“Kalau tiga atau lima tahun lagi mobil ini mau dijual, harganya masih bagus atau jatuh jauh banget ya?”
Pertanyaan itu wajar. Mobil bagi keluarga bukan sekadar alat transportasi. Nilainya juga sering dijadikan modal untuk membeli kendaraan berikutnya. Mobil lama dijual, uangnya dipakai untuk menambah uang muka, lalu perjalanan berlanjut dengan mobil baru.
Masalahnya, mulai banyak cerita tentang mobil listrik yang harga bekasnya turun puluhan bahkan ratusan juta rupiah dalam waktu relatif singkat. Ada yang baru berusia dua atau tiga tahun, tetapi harga iklannya sudah jauh di bawah harga ketika pertama kali diluncurkan.
Lalu, benarkah membeli mobil listrik berarti harus siap menghadapi harga jual kembali yang anjlok?
Benarkah Harga Mobil Listrik Bekas Turun Lebih Cepat?
Pada sejumlah merek dan model, jawabannya memang iya. Harga mobil listrik bekas saat ini dapat turun lebih cepat dibandingkan sejumlah mobil bensin atau hybrid.
Kekhawatiran tersebut bukan sekadar cerita dari media sosial. Data internal OLXmobbi yang dikutip GAIKINDO menyebut mobil bermesin konvensional dan hybrid dalam pengamatan mereka mengalami penurunan nilai sekitar 10–15 persen per tahun, sedangkan BEV berada di kisaran 35–60 persen per tahun. Cepatnya pembaruan model dan masih terbatasnya lembaga pembiayaan yang bersedia mendanai mobil listrik bekas disebut sebagai sebagian penyebabnya.
Angka itu tentu terlihat mengkhawatirkan. Namun, angka tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai nasib seluruh mobil listrik di Indonesia.
Depresiasi setiap kendaraan dapat berbeda. Merek, model, usia, kondisi mobil, harga transaksi awal, besarnya diskon, popularitas kendaraan, jaringan bengkel, garansi baterai, hingga jumlah calon pembeli juga ikut menentukan.
Mobil listrik yang dibeli ketika harganya masih tinggi juga akan memiliki cerita berbeda dengan mobil yang dibeli setelah mendapatkan diskon besar.
Jangan Hanya Membandingkan dengan Harga Peluncuran
Kesalahan yang sering terjadi adalah menghitung depresiasi berdasarkan harga mobil ketika pertama kali diluncurkan, bukan berdasarkan uang yang benar-benar dikeluarkan pembeli.
Bayangkan sebuah mobil listrik diluncurkan dengan harga Rp500 juta. Beberapa bulan kemudian, pembeli mendapat diskon Rp60 juta sehingga harga transaksinya menjadi Rp440 juta.
Tiga tahun setelahnya, mobil tersebut dijual kembali seharga Rp310 juta.
Jika dibandingkan dengan harga peluncuran, mobil itu terlihat kehilangan nilai Rp190 juta. Namun, apabila dibandingkan dengan harga transaksi yang benar-benar dibayarkan, penurunannya Rp130 juta.
Tetap besar, tetapi ceritanya berbeda.
Karena itu, hitung penurunan harga dari uang yang benar-benar dibayar saat membeli, lalu bandingkan dengan uang yang diterima saat mobil dijual.
Mengapa Harga Jual Kembali Mobil Listrik Bisa Turun Tajam?
Banyak orang langsung menunjuk baterai sebagai penyebab. Seolah-olah mobil listrik bekas murah karena baterainya pasti sudah rusak.
Padahal, penyebab depresiasi mobil listrik jauh lebih luas daripada itu.
Harga Mobil Listrik Baru Cepat Berubah
Pasar mobil listrik sedang bergerak sangat cepat. Hampir setiap beberapa bulan muncul model baru dengan harga lebih rendah, baterai lebih besar, jarak tempuh lebih jauh, fitur lebih lengkap, atau waktu charging lebih singkat.
Mobil yang dua tahun lalu terlihat sangat canggih bisa tiba-tiba harus berhadapan dengan model baru yang lebih murah dan lebih lengkap.
Misalnya, seseorang membeli mobil listrik seharga Rp500 juta. Dua tahun kemudian, muncul mobil baru seharga Rp370 juta dengan jarak tempuh yang hampir sama, layar lebih besar, fitur keselamatan lebih lengkap, serta garansi penuh dari pabrik.
Calon pembeli mobil bekas tentu akan membandingkan keduanya. Jika selisih harga mobil lama dan mobil baru terlalu tipis, mereka kemungkinan akan memilih mobil baru.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Reuters melaporkan bahwa nilai jual kembali mobil listrik di sejumlah pasar Eropa ikut tertekan oleh pemotongan harga mobil baru, kekhawatiran terhadap baterai dan infrastruktur charging, serta masuknya mobil listrik dengan harga lebih terjangkau.
Diskon Mobil Baru Ikut Menekan Harga Mobil Bekas
Harga mobil bekas tidak benar-benar mengikuti harga yang tercetak di brosur. Pasar akan melihat berapa harga mobil baru setelah diskon.
Jika harga resmi sebuah mobil Rp450 juta, tetapi dealer rutin memberikan potongan Rp50 juta, harga pembandingnya bukan lagi Rp450 juta. Calon pembeli akan melihat bahwa unit baru bisa dibawa pulang dengan harga sekitar Rp400 juta.
Mobil bekas berusia satu tahun tentu harus ditawarkan jauh di bawah angka tersebut agar tetap menarik.
Inilah sebabnya diskon besar memiliki dua sisi. Hari ini, diskon terasa menyenangkan karena membuat harga pembelian lebih murah. Namun, apabila diskon terus membesar atau harga resmi kemudian diturunkan, nilai mobil yang sudah berada di tangan konsumen ikut terkena tekanan.
Karena itu, jangan hanya tergiur promo mobil listrik tanpa memeriksa alasan di balik potongan tersebut. Lihat apakah promonya hanya program penjualan biasa, pergantian tahun produksi, penghabisan stok, atau tanda bahwa model baru akan segera hadir.
Teknologi Mobil Listrik Bergerak Lebih Cepat
Pada mobil bensin, perubahan dalam tiga tahun sering kali tidak terlalu drastis. Bentuknya mungkin diperbarui, fitur ditambah, tetapi fungsi dasarnya masih terasa mirip.
Pada mobil listrik, tiga tahun bisa membawa perubahan yang cukup besar.
Baterai menjadi lebih efisien. Jarak tempuh bertambah. Sistem pendinginan membaik. Kecepatan charging meningkat. Perangkat lunak lebih pintar. Fitur bantuan pengemudi semakin lengkap.
Perubahan cepat ini membawa manfaat bagi konsumen baru. Namun, bagi pemilik mobil lama, perkembangan teknologi dapat membuat kendaraannya lebih cepat dianggap tertinggal, meskipun sebenarnya masih nyaman dan berfungsi dengan baik.
Mirip dengan telepon seluler. Ponsel berusia tiga tahun belum tentu rusak, tetapi pasar sudah melihat generasi yang lebih baru.
Pasar Mobil Listrik Bekas Indonesia Belum Matang
Pedagang mobil bekas sudah sangat memahami mobil bensin populer. Mereka tahu kisaran harga belinya, berapa lama mobil biasanya terjual, jenis kerusakan yang sering muncul, biaya perbaikannya, dan siapa calon pembelinya.
Pada mobil listrik, banyak hal masih dipelajari.
Pedagang perlu memperkirakan apakah unit akan terjual dalam beberapa minggu atau justru berbulan-bulan. Mereka juga harus mempertimbangkan kondisi baterai, ketersediaan suku cadang, keberlanjutan merek, lokasi bengkel resmi, hingga kemungkinan harga mobil baru berubah lagi.
Karena ketidakpastiannya lebih tinggi, harga beli dari pemilik biasanya dibuat lebih konservatif.
BYD Indonesia juga pernah menyampaikan bahwa pasar sekunder mobil listrik di Indonesia belum benar-benar terbentuk. Usia pasar yang masih muda membuat pembeli mobil bekas cenderung berhati-hati, sementara pedagang berusaha mengambil harga serendah mungkin untuk mengurangi risiko unit sulit dijual kembali.
Tentu, pandangan itu perlu dibaca sebagai penjelasan dari pihak produsen. Dalam praktiknya, nilai jual kembali tetap ditentukan pula oleh kestabilan harga baru, jumlah pengguna, jaringan purnajual, pembiayaan, garansi, dan kepercayaan terhadap merek.
Pembeli Masih Khawatir terhadap Baterai
Di sinilah kekhawatiran terbesar biasanya muncul.
Saat membeli mobil bensin bekas, orang dapat mendengarkan suara mesin, memeriksa asap knalpot, melihat kebocoran oli, atau merasakan perpindahan transmisinya.
Pada mobil listrik, baterai tidak bisa dinilai hanya dengan melihat bodi atau angka kilometer.
Persentase yang muncul di layar juga bukan ukuran kesehatan baterai. Angka 80 persen di layar hanya menunjukkan sisa energi pada saat itu, atau State of Charge. Kondisi jangka panjangnya dinilai melalui State of Health atau SOH, yaitu kapasitas baterai saat ini dibandingkan ketika masih baru.
Kekhawatiran terhadap baterai memang masuk akal. Namun, harga mobil listrik bekas yang rendah tidak otomatis berarti baterainya sudah rusak.
Analisis Geotab terhadap lebih dari 22.700 kendaraan listrik dari 21 model menemukan rata-rata degradasi baterai sekitar 2,3 persen per tahun. Angkanya dapat berbeda menurut model, iklim, intensitas penggunaan, dan kebiasaan charging. Kendaraan yang sering menggunakan DC fast charging berdaya tinggi dalam data tersebut juga menunjukkan rata-rata degradasi lebih besar.
Artinya, baterai memang menurun seiring waktu, tetapi penurunan harga kendaraan dan penurunan kapasitas baterai bukanlah dua angka yang selalu bergerak sama.
Sebuah mobil dapat kehilangan harga jual cukup besar meskipun baterainya masih sehat. Penyebabnya bisa berasal dari diskon mobil baru, pergantian model, kekhawatiran pasar, atau merek yang belum memiliki pasar bekas kuat.
Karena itu, saat membeli EV bekas, jangan hanya melihat usia dan kilometernya. Kondisi baterai, laporan SOH, riwayat servis, sisa garansi, pola charging, kondisi port, serta riwayat banjir dan kecelakaan perlu diperiksa. Ada beberapa hal yang wajib ditanyakan ketika membeli mobil listrik bekas agar harga murah tidak berubah menjadi biaya besar setelah kendaraan dibawa pulang.
Merek dan Jaringan Purnajual Ikut Menentukan
Nilai jual kendaraan sangat bergantung pada rasa percaya.
Pembeli mobil listrik bekas akan bertanya apakah mereknya masih serius beroperasi di Indonesia, apakah bengkel resminya tersedia di kotanya, apakah suku cadang mudah diperoleh, dan apakah teknisi mampu menangani masalah baterai atau perangkat lunak.
Mereka juga akan mempertimbangkan apakah model tersebut masih dijual, masih mendapatkan pembaruan software, serta mempunyai populasi pengguna yang cukup besar.
Mobil dengan pengguna banyak biasanya lebih mudah dipahami pasar. Pedagang memiliki lebih banyak pembanding harga, bengkel lebih terbiasa menanganinya, dan suku cadangnya cenderung lebih mudah ditemukan.
Sebaliknya, model yang populasinya sangat kecil atau berasal dari merek dengan jaringan terbatas dapat mengalami tekanan harga lebih besar, meskipun spesifikasinya bagus.
Garansi Panjang Belum Tentu Sederhana
Garansi baterai sering menjadi kalimat besar dalam brosur. Ada yang menawarkan delapan tahun, bahkan lebih, dengan batas kilometer tertentu.
Namun, calon pembeli perlu membaca syaratnya.
Apakah garansi mengikuti mobil atau hanya berlaku untuk pemilik pertama? Berapa batas kesehatan baterai yang dianggap layak mendapat penggantian? Apakah servis wajib dilakukan di bengkel resmi? Apakah garansi berlaku apabila mobil pernah mengalami kecelakaan atau terendam banjir?
Garansi yang jelas dan dapat diteruskan kepada pemilik berikutnya akan meningkatkan rasa aman. Dalam pasar mobil bekas, rasa aman itu dapat berubah menjadi nilai.
Apakah Semua Mobil Listrik Pasti Turun Separuh Harga?
Tidak.
Ada mobil listrik yang mengalami penurunan sangat besar. Ada pula yang nilainya lebih terjaga karena mereknya dipercaya, jumlah penggunanya banyak, harga barunya stabil, serta jaringan bengkel dan suku cadangnya kuat.
Bentuk dan fungsi kendaraan juga berpengaruh. Mobil yang dapat digunakan sebagai kendaraan keluarga sehari-hari biasanya mempunyai pasar lebih luas daripada model dengan fungsi sangat khusus.
Namun, tidak ada satu pun faktor yang dapat menjamin harga jual.
Merek besar belum tentu bebas dari depresiasi. Jarak tempuh jauh juga belum tentu membuat harga bekas kuat. Garansi yang panjang juga belum tentu cukup apabila harga unit baru terus berubah.
Nilai jual kembali terbentuk dari gabungan antara produk, harga, kepercayaan, dan kebutuhan pasar.
Siapa yang Perlu Paling Khawatir?
Konsumen yang terbiasa mengganti mobil setiap dua atau tiga tahun perlu menghitung depresiasi dengan lebih serius.
Dalam waktu sesingkat itu, penghematan listrik dan perawatan mungkin belum cukup besar untuk mengimbangi penurunan nilai kendaraan.
Risikonya juga lebih tinggi bagi pembeli yang menggunakan uang muka kecil dan cicilan panjang. Bisa saja mobil ingin dijual ketika sisa utangnya masih lebih tinggi daripada harga pasar.
Misalnya, sisa kredit masih Rp300 juta, tetapi harga tertinggi yang ditawarkan pedagang hanya Rp240 juta. Pemilik harus menambah Rp60 juta agar kredit dapat dilunasi.
Harga jual kembali juga penting bagi konsumen yang mengandalkan uang penjualan mobil lama sebagai modal untuk membeli mobil berikutnya. Untuk kelompok ini, depresiasi harus dihitung sebelum membeli, bukan ketika mobil sudah akan dilepas.
Siapa yang Tidak Perlu Terlalu Cemas?
Depresiasi mungkin tidak terlalu menentukan bagi konsumen yang berencana menggunakan mobil selama tujuh sampai sepuluh tahun.
Semakin lama kendaraan digunakan, semakin banyak waktu untuk menikmati penghematan biaya energi dan perawatan. Terutama apabila mobil dipakai menempuh jarak cukup jauh setiap hari dan dapat diisi daya di rumah.
Namun, itu bukan berarti mobil listrik otomatis lebih murah dalam semua keadaan.
Penghematan tetap bergantung pada harga pembelian, kredit pembiayaan, jarak tempuh, tarif listrik, pajak, perawatan, dan nilai kendaraan ketika akhirnya dijual.
Jangan Hanya Melihat Harga Jual, Hitung Seluruh Biaya Kepemilikan
Harga jual kembali memang penting, tetapi itu hanya satu bagian dari keseluruhan biaya memiliki mobil.
Seseorang mungkin kehilangan nilai kendaraan lebih besar, tetapi menikmati biaya energi dan servis yang lebih rendah selama bertahun-tahun. Orang lain mungkin membeli mobil dengan depresiasi lebih kecil, tetapi mengeluarkan lebih banyak uang untuk bahan bakar dan perawatan.
Karena itu, hitung seluruh uang yang keluar.
Harga beli setelah diskon, biaya pembiayaan, listrik, pemasangan charger, servis, ban, pajak, dan depresiasi.
Baru setelah semuanya dijumlahkan, kurangi dengan uang yang diterima saat mobil dijual.
Di situlah biaya kepemilikan yang sebenarnya terlihat.
Mobil yang hemat ketika berjalan belum tentu murah ketika dimiliki. Sebaliknya, mobil yang harga bekasnya jatuh belum tentu selalu menjadi pilihan buruk apabila digunakan cukup lama dan benar-benar menghemat pengeluaran sehari-hari.
Cara Mengurangi Risiko Harga Mobil Listrik Turun Tajam
Sebelum membeli mobil baru, luangkan waktu melihat pasar mobil bekas.
Cari model yang sama dengan usia satu hingga tiga tahun. Lihat berapa banyak unit yang dijual, rentang harganya, kilometernya, dan apakah iklan yang sama terlihat bertahan cukup lama.
Harga iklan memang belum tentu menjadi harga transaksi. Namun, pola tersebut dapat memberi gambaran mengenai minat pasar.
Tanyakan juga apakah dealer memiliki program buyback atau trade-in. Jangan berhenti pada kalimat, “Nanti pasti kami terima kembali.” Minta penjelasan mengenai syaratnya, cara penilaian, serta apakah ada nilai minimum yang dijamin secara tertulis.
Periksa riwayat perubahan harga model tersebut. Apakah pernah mengalami penurunan harga resmi? Apakah sering mendapat diskon besar? Apakah model baru segera hadir?
Pastikan garansi baterai dapat dialihkan kepada pemilik berikutnya. Simpan semua invoice servis, laporan diagnosis, hasil pemeriksaan SOH, dan dokumen garansi. Ketika mobil dijual, data yang lengkap dapat mengurangi keraguan calon pembeli.
Untuk mobil listrik, kepercayaan sering kali tidak datang dari bodi yang mengilap. Kepercayaan datang dari catatan yang jelas.
Jadi, Apakah Mobil Listrik Tetap Layak Dibeli?
Mobil listrik tetap dapat menjadi pilihan yang masuk akal. Namun, keputusan tersebut perlu dibuat dengan mata terbuka.
Benar, beberapa mobil listrik mengalami depresiasi lebih cepat daripada mobil bensin atau hybrid. Akan tetapi, penyebabnya bukan hanya baterai. Harga mobil baru yang cepat berubah, diskon besar, perkembangan teknologi, pasar bekas yang belum matang, pembiayaan terbatas, serta kekuatan merek dan purnajual ikut menentukan.
Bagi orang yang ingin mengganti mobil dalam dua atau tiga tahun, risiko tersebut tidak boleh dianggap kecil. Namun, bagi orang yang berniat memakai mobil cukup lama, memiliki tempat charging di rumah, dan menempuh perjalanan rutin setiap hari, penghematan selama masa penggunaan dapat mengubah perhitungannya.
Pertanyaan bukan hanya, “Nanti mobil ini bisa dijual berapa?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Selama mobil ini menemani hidup saya, berapa banyak uang, waktu, dan ketenangan yang diberikannya, dan apakah semuanya sepadan dengan nilai yang hilang?”
Mobil bukan hanya angka yang tertulis di marketplace ketika waktunya dijual.
Di antara hari pertama menerima kunci dan hari ketika kunci itu berpindah tangan, ada perjalanan ke kantor, perjalanan pulang saat hujan, belanja bersama keluarga, mengantar anak, menjenguk orang tua, dan mungkin perjalanan jauh yang akan terus dikenang.