
Ada satu istilah yang selalu muncul ketika seseorang mulai mencari tahu soal mobil listrik, yaitu regenerative braking.
Namanya terdengar teknis. Mungkin juga sedikit rumit bagi orang yang selama bertahun-tahun terbiasa memakai mobil bensin. Namun, ketika dijelaskan oleh sales, teknologi ini sering terdengar sangat menarik.
“Kalau mobil direm, energinya bisa masuk lagi ke baterai.”
Kalimat itu kemudian memunculkan pertanyaan baru. Apakah mobil listrik bisa mengecas baterainya sendiri ketika sedang berjalan? Kalau memang listrik bisa masuk setiap kali mobil direm, apakah pengemudi sebaiknya lebih sering mengerem?
Lalu bagaimana ketika pedal akselerator, yang dalam percakapan sehari-hari masih sering disebut pedal gas dilepas? Apakah mobil tetap melaju dengan kecepatan stabil sambil mengisi baterai, atau justru otomatis melambat?
Baterai mobil listrik memang dapat menerima kembali sebagian energi ketika kendaraan melambat. Namun, regenerative braking bukan mesin pencipta listrik. Sistem ini juga tidak membuat perjalanan lebih hemat hanya karena pengemudi sering menginjak rem.
Untuk memahaminya, kita perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ketika mobil listrik bergerak, meluncur, melambat, lalu kembali dipercepat.
Apa Itu Regenerative Braking pada Mobil Listrik?
Dalam bahasa sederhana, regenerative braking adalah sistem yang mengambil kembali sebagian energi gerak ketika mobil melambat, kemudian mengubahnya menjadi listrik untuk disimpan ke baterai.
Motor listrik pada mobil listrik dapat bekerja dalam dua arah.
Ketika pengemudi menekan pedal gas, baterai mengirimkan listrik ke motor. Motor kemudian memutar roda sehingga mobil bergerak.
Namun, ketika mobil melambat, prosesnya dapat berbalik. Roda yang masih berputar membantu menggerakkan motor listrik. Pada saat itulah motor berubah fungsi menjadi generator dan menghasilkan listrik.
Menurut penjelasan Bosch mengenai regenerative braking, roda menyalurkan energi kinetik melalui sistem penggerak menuju motor yang sedang bekerja sebagai generator. Sebagian energi gerak tersebut diubah menjadi energi listrik, lalu disimpan ke baterai tegangan tinggi.
Proses menghasilkan listrik itu sekaligus menciptakan tahananatau penghambat pada putaran roda. Tahanan inilah yang membantu mobil melambat.
Karena itu, regenerative braking bisa dibayangkan sebagai sistem daur ulang energi saat mobil melambat.
Energinya tidak muncul dari udara. Sistem hanya berusaha mengambil kembali sebagian energi yang sebelumnya sudah dipakai untuk membuat mobil bergerak dan yang, tanpa regenerasi, akan lebih banyak terbuang sebagai panas pada sistem pengereman.
Apakah Baterai Mobil Listrik Benar-Benar Terisi Saat Direm?
Jawabannya, ya.
Ketika regenerative braking bekerja, sebagian energi gerak mobil memang diubah menjadi listrik dan dikirim kembali ke baterai.
Hyundai Motor Indonesia menjelaskan bahwa sistem pengereman regeneratif mengubah energi pengereman menjadi daya listrik untuk mengisi ulang baterai.
Pada sejumlah mobil listrik, pengemudi bahkan dapat melihat proses tersebut melalui panel instrumen. Ketika mobil dipercepat, indikator menunjukkan energi sedang keluar dari baterai menuju motor. Saat mobil melambat, arah alirannya berubah dan indikator menunjukkan energi sedang kembali ke baterai.
Namun, kata “mengisi” di sini perlu dipahami secara proporsional.
Bukan berarti persentase baterai akan langsung naik setiap kali pedal rem disentuh. Energi yang berhasil dikembalikan bisa sangat kecil, terutama jika perlambatannya singkat atau kecepatannya rendah.
Energi yang kembali juga tidak pernah sebesar energi yang sebelumnya dipakai untuk mempercepat mobil. Sebagian sudah hilang karena hambatan udara, gesekan ban, panas, serta proses perubahan energi dari listrik menjadi gerak dan kembali menjadi listrik.
Jadi, baterainya memang menerima energi. Namun, regenerative braking lebih tepat dianggap sebagai cara mengurangi energi yang terbuang, bukan cara mengecas mobil sampai penuh selama perjalanan.
Apa yang Terjadi Ketika Pedal Gas Dilepas?
Inilah bagian yang membuat pengemudi mobil bensin merasa asing saat pertama kali mencoba mobil listrik.
Pada mobil bensin, ketika pedal gas dilepas, mobil biasanya masih meluncur menggunakan momentum. Kecepatan perlahan turun karena hambatan angin, gesekan ban, dan tahanan dari mesin.
Pada mobil listrik, responsnya dapat berbeda-beda. Semua bergantung pada tingkat regenerative braking, mode berkendara, serta pengaturan yang disediakan oleh setiap produsen.
Regenerasi Rendah atau Mode Coasting
Jika regenerative braking diatur rendah, mobil akan terasa meluncur cukup bebas ketika pedal akselerator dilepas.
Mobil memang tetap melambat, tetapi penurunan kecepatannya terasa ringan. Sensasinya mendekati mobil bensin yang sedang menggelinding tanpa pedal gas diinjak.
Kondisi ini sering disebut coasting.
Pada mode coasting, mobil memanfaatkan momentum yang sudah dimilikinya. Motor tidak memberikan tahanan regeneratif yang besar sehingga energi yang masuk kembali ke baterai relatif kecil atau bahkan nyaris tidak terasa.
Mode seperti ini dapat nyaman digunakan ketika jalan masih panjang, datar, dan lancar. Mobil bisa terus meluncur tanpa harus segera ditekan pedal akselerator lagi.
Regenerasi Sedang atau Kuat
Ketika regenerative braking diatur lebih kuat, perilakunya berbeda.
Begitu kaki diangkat dari pedal akselerator, motor listrik mulai menahan putaran roda. Mobil terasa seperti direm perlahan meskipun pengemudi belum menginjak pedal rem.
Semakin kuat pengaturan regenerasinya, semakin cepat mobil mengurangi kecepatan.
Energy.gov.au menjelaskan bahwa banyak mobil listrik mengubah motor menjadi generator ketika kendaraan melambat. Energi kemudian diambil kembali dan disimpan ke baterai. Beberapa mobil bahkan menawarkan one-pedal driving, yang memungkinkan kendaraan melambat secara signifikan ketika pedal akselerator dilepas, dalam kondisi tertentu hingga berhenti.
Jadi, ketika pedal akselerator dilepas dan regenerative braking aktif, dua hal terjadi bersamaan, mobil melambat dan sebagian energi geraknya dikirim kembali ke baterai.
Apakah Mobil Listrik Tetap Melaju Stabil Saat Pedal Gas Dilepas?
Kalau yang dimaksud “stabil” adalah kecepatannya tetap sama, umumnya tidak.
Jika mobil berjalan di jalan datar dan regenerative braking aktif, mobil akan kehilangan kecepatan ketika pedal gas dilepas. Semakin kuat tingkat regenerasinya, semakin terasa perlambatannya.
Logikanya sederhana.
Untuk menghasilkan listrik, motor harus mengambil sebagian energi dari putaran roda. Ketika energi gerak roda diambil, mobil kehilangan momentum. Akibatnya, kendaraan melambat.
Mobil mungkin masih terasa melaju cukup lama jika regenerasi diatur rendah, mode coasting digunakan, momentum kendaraan masih besar, atau jalannya sedang menurun.
Jika cruise control aktif, mobil juga dapat mempertahankan kecepatan. Namun, dalam kondisi itu, sistem mungkin sedang memberikan tenaga dari baterai untuk menjaga laju kendaraan, bukan terus-menerus mengisi baterai secara gratis.
Mobil tidak bisa mempertahankan kecepatan di jalan datar sambil terus mengambil energi dari putaran rodanya tanpa ada energi lain yang masuk. Bila roda terus diperlambat untuk menghasilkan listrik, cepat atau lambat mobil akan kehilangan kecepatan.
Kalau Begitu, Apakah Sebaiknya Sering Mengerem?
Di sinilah salah paham muncul.
Karena energi bisa kembali ke baterai ketika mobil direm, mungkin muncul anggapan bahwa semakin sering mengerem, semakin banyak listrik yang diperoleh.
Kenyataannya justru sebaliknya.
Bayangkan mobil sedang berjalan 60 kilometer per jam. Untuk mencapai kecepatan itu, baterai harus mengeluarkan energi agar motor dapat mempercepat kendaraan.
Setelah itu, pengemudi mengerem. Regenerative braking mengambil kembali sebagian energi gerak dan mengirimkannya ke baterai.
Namun, energi yang kembali tidak sebanyak energi yang sebelumnya dikeluarkan. Ketika mobil kembali dipercepat ke 60 kilometer per jam, baterai harus mengeluarkan energi lagi.
Jika pola mempercepat, mengerem, lalu mempercepat kembali dilakukan berulang kali, konsumsi energi justru akan meningkat.
Karena itu, regenerative braking bukan alasan untuk sengaja sering mengerem. Sistem ini paling bermanfaat ketika mobil memang harus melambat, misalnya saat mendekati lampu merah, memasuki kemacetan, menghadapi kendaraan yang melambat di depan, atau melewati jalan menurun.
Regenerative braking bukan menciptakan kesempatan untuk mendapat energi. Sistem ini menyelamatkan sebagian energi ketika kesempatan untuk melambat memang sudah ada.
Lebih Hemat Menjaga Kecepatan atau Sering Melepas Pedal Gas?
Di jalan datar yang lancar, menjaga kecepatan secara stabil umumnya lebih efisien daripada berulang kali mempercepat mobil, melepas pedal hingga kendaraan melambat, lalu mempercepatnya kembali.
Namun, situasinya berbeda ketika di depan sudah terlihat lampu merah.
Pengemudi yang terus menekan pedal gas sampai mendekati persimpangan, lalu mengerem keras, telah menggunakan energi untuk mempertahankan kecepatan yang sebenarnya tidak lagi dibutuhkan.
Pengemudi yang membaca situasi lebih awal dapat mengurangi tekanan pada pedal gas atau melepasnya secara bertahap. Mobil kemudian melambat menggunakan regenerative braking sambil mengambil kembali sebagian energi.
Kuncinya bukan “sering melepas pedal”, melainkan melepas pedal pada waktu yang tepat.
Pengemudi yang efisien tidak sibuk mengejar sebanyak mungkin indikator pengisian pada layar. Ia menjaga jarak, membaca arus lalu lintas dari jauh, berakselerasi dengan halus, dan menghindari pengereman mendadak.
Efisiensi bukan lahir dari seberapa sering mobil melambat. Efisiensi lahir dari seberapa sedikit energi yang harus dibuang karena keputusan yang terlambat.
Apa Itu One-Pedal Driving?
One-pedal driving adalah fitur yang memungkinkan pengemudi mengatur sebagian besar percepatan dan perlambatan hanya melalui pedal akselerator.
Ketika pedal ditekan, mobil bertambah cepat. Ketika tekanannya dikurangi, mobil mulai melambat. Saat pedal dilepas sepenuhnya, regenerative braking bekerja lebih kuat.
Pada beberapa mobil, perlambatan tersebut cukup untuk membawa kendaraan sampai berhenti. Pada mobil lainnya, pengemudi masih perlu menekan pedal rem untuk berhenti total.
Meskipun namanya one-pedal driving, mobil tetap memiliki pedal rem. Pengemudi tetap harus menggunakannya ketika membutuhkan pengereman lebih kuat, menghadapi keadaan darurat, atau ketika perlambatan regeneratif tidak mencukupi.
Kemampuan one-pedal driving juga berbeda pada setiap model. Ada yang terasa lembut, ada yang membuat mobil langsung melambat kuat begitu kaki sedikit diangkat.
Itulah sebabnya test drive penting. Bukan hanya untuk merasakan akselerasinya, tetapi juga untuk mengetahui apakah karakter perlambatan mobil terasa nyaman dalam penggunaan sehari-hari.
Apakah Regenerative Braking Menggantikan Rem Biasa?
Tidak.
Mobil listrik tetap memiliki kampas rem, cakram, kaliper, minyak rem, serta sistem pengereman hidraulis seperti kendaraan pada umumnya.
Ketika pengemudi melakukan pengereman ringan, mobil dapat lebih dahulu menggunakan regenerative braking. Motor listrik menahan putaran roda sambil mengembalikan energi ke baterai.
Jika pengemudi membutuhkan perlambatan lebih kuat daripada yang bisa diberikan motor, rem gesek akan ikut bekerja. Bosch menjelaskan bahwa tambahan pengereman dari rem gesek dibutuhkan ketika torsi pengereman motor-generator belum cukup, termasuk pada perlambatan sangat cepat dan kecepatan rendah.
Perpindahan antara pengereman regeneratif dan rem gesek biasanya dikelola oleh sistem kendaraan. Pengemudi cukup menekan pedal rem sesuai kebutuhan, sementara mobil menentukan seberapa besar perlambatan yang dapat dilakukan motor dan kapan kampas rem harus ikut bekerja.
Karena sebagian pengereman dapat ditangani oleh motor, penggunaan kampas dan cakram bisa berkurang. Namun, bukan berarti rem mobil listrik bebas perawatan. Komponennya tetap perlu diperiksa karena masih berperan penting, terutama dalam pengereman keras dan kondisi darurat.
Kapan Regenerative Braking Tidak Bekerja Maksimal?
Kekuatan regenerative braking tidak selalu sama dalam setiap perjalanan.
Ketika baterai sudah penuh atau mendekati penuh, sistem mungkin membatasi energi yang bisa dikirim kembali. Alasannya, baterai hanya memiliki sedikit ruang untuk menerima tambahan daya.
Regenerasi juga dapat dibatasi ketika temperatur baterai terlalu rendah atau terlalu tinggi, ketika mobil bergerak sangat pelan, saat roda kehilangan traksi, atau ketika sistem keselamatan kendaraan sedang bekerja.
Karena itu, mobil bisa terasa lebih ringan meluncur pada suatu waktu, lalu terasa lebih kuat melambat pada perjalanan lain meskipun pengaturan regenerasinya terlihat sama.
Pengemudi tetap harus siap menggunakan pedal rem. Jangan mengandalkan perlambatan dari regenerative braking sebagai satu-satunya cara menghentikan kendaraan, terutama saat jalan basah, menurun, atau kondisi lalu lintas berubah mendadak.
Di Kondisi Apa Regenerative Braking Paling Bermanfaat?
Regenerative braking terasa paling berguna ketika perjalanan dipenuhi aktivitas melambat dan bergerak kembali.
Di jalan perkotaan, mobil sering menghadapi lampu merah, antrean persimpangan, kendaraan yang keluar-masuk jalur, serta kemacetan stop-and-go. Setiap perlambatan memberi kesempatan bagi motor untuk mengambil kembali sebagian energi.
Di jalan menurun, gravitasi membuat kendaraan terus bergerak. Motor listrik dapat menahan laju mobil sambil mengubah sebagian energi gerak tersebut menjadi listrik. Pada turunan panjang, pengemudi mungkin melihat aliran energi menuju baterai berlangsung lebih lama daripada biasanya.
Namun, regenerative braking tetap bukan satu-satunya penentu daya jelajah. Kecepatan, penggunaan AC, beban kendaraan, tekanan ban, tanjakan, cuaca, dan gaya mengemudi ikut memengaruhi konsumsi energi.
Karena itu, angka range berdasarkan NEDC, CLTC, WLTP, dan EPA tidak selalu sama dengan jarak yang benar-benar diperoleh dalam pemakaian sehari-hari. Mobil yang efisien di tengah lalu lintas kota belum tentu menghasilkan konsumsi energi yang sama ketika terus dipacu di jalan tol.
Apakah Regenerative Braking Bisa Menggantikan Ngecas?
Tidak.
Mobil listrik tetap harus memperoleh energi dari sumber luar, baik melalui portable charger, wall charger di rumah, pengisian di kantor, maupun SPKLU.
Regenerative braking hanya mengambil kembali sebagian energi yang sebelumnya sudah digunakan atau energi yang tersedia ketika mobil meluncur menuruni jalan.
Anggap saja sistem ini seperti menerima sebagian uang kembali setelah melakukan pengeluaran. Uang yang kembali tentu membantu, tetapi jumlahnya tidak lebih besar daripada uang yang sudah keluar.
Karena itu, jangan berharap baterai yang hampir habis dapat dipulihkan hanya dengan sering melepas pedal gas atau mengerem. Saat sisa daya sudah rendah, keputusan yang benar tetap mencari tempat pengisian, bukan berputar-putar mencari jalan menurun.
Pengemudi juga perlu memahami apa yang terjadi jika mobil listrik kehabisan baterai di jalan. Mobil memang biasanya memberikan sejumlah peringatan sebelum kehilangan tenaga, tetapi regenerative braking tidak dapat menjadi penyelamat jika energi yang tersisa sudah terlalu sedikit.
Cara Memanfaatkan Regenerative Braking dengan Lebih Efisien
Pengemudi baru bisa memulai dari pengaturan rendah atau sedang agar terbiasa dengan sensasi mobil yang melambat ketika pedal gas dilepas. Setelah lebih nyaman, tingkat regenerasi dapat disesuaikan dengan karakter perjalanan.
Di tengah kota, regenerasi sedang atau kuat dapat membantu ketika kendaraan sering melambat. Di jalan panjang yang lancar, sebagian pengemudi mungkin lebih menyukai mode coasting agar mobil dapat meluncur lebih jauh menggunakan momentum.
Hal terpenting bukan memilih angka regenerasi terbesar.
Jaga jarak dengan kendaraan di depan. Lepaskan pedal gas lebih awal ketika memang perlu mengurangi kecepatan. Hindari nge-gas mendadak. Jangan sengaja mempercepat lalu mengerem hanya untuk melihat indikator energi bergerak menuju baterai.
Dan ketika situasi membutuhkan pengereman, tekan pedal rem tanpa ragu. Keselamatan selalu lebih penting daripada berusaha mengambil kembali sedikit energi.
Baterai Memang Terisi, tetapi Energi Terbaik Adalah yang Tidak Perlu Dibuang
Regenerative braking adalah salah satu teknologi yang membuat mobil listrik terasa berbeda. Saat kaki diangkat dari pedal gas, mobil dapat melambat sambil mengembalikan sebagian energi ke baterai.
Tapi, sistem ini bukan jalan pintas agar baterainya tidak pernah habis.
Semakin sering mobil dipercepat dan diperlambat, semakin banyak energi yang melewati proses perubahan dan semakin besar pula bagian yang hilang. Karena itu, berkendara dengan halus dan menjaga kecepatan tetap stabil masih lebih efisien daripada sengaja sering mengerem.
Regenerative braking mengajarkan kita sesuatu hal. Efisiensi bukan hanya soal bagaimana kita mengambil kembali energi yang hampir terbuang. Efisiensi juga soal menghindari penggunaan energi yang sejak awal sebenarnya tidak diperlukan.