
Mobil listrik semakin sering terlihat bergerak di jalan raya. Tidak ada suara mesin yang meraung ketika lampu lalu lintas berubah hijau. Tidak ada asap tipis yang keluar dari knalpot saat mobil berhenti di tengah kemacetan.
Pemandangan itu memberi kesan mobil listrik lebih bersih.
Namun, jauh di bawah lantai kendaraan, tersimpan sebuah paket baterai berukuran besar. Baterai itulah yang menyimpan energi untuk membawa mobil berjalan puluhan hingga ratusan kilometer. Selama bertahun-tahun, baterai tersebut akan terus diisi, digunakan, dikosongkan, lalu diisi kembali.
Sampai akhirnya muncul pertanyaan yang jarang terdengar di show room mobil.
Ketika baterai itu sudah tua dan tidak lagi digunakan, baterainya akan dibuang ke mana?
Pertanyaan ini penting karena perpindahan dari mobil bensin ke mobil listrik seharusnya tidak hanya memindahkan persoalan dari asap knalpot ke tumpukan baterai bekas.
Kabar baiknya, baterai mobil listrik tidak selalu langsung berubah menjadi limbah. Bergantung pada kondisi dan tingkat kesehatannya, baterai masih mungkin diperbaiki, digunakan kembali untuk menyimpan energi, atau dibongkar agar material di dalamnya dapat didaur ulang.
Baterai Mobil Listrik Bekas Tidak Langsung Menjadi Sampah
Ketika sebuah baterai tidak lagi memberikan jarak tempuh seperti saat baru, bukan berarti seluruh bagian di dalamnya sudah mati.
Bisa saja kapasitas penyimpanannya berkurang. Bisa pula hanya ada beberapa modul, sensor, konektor, atau bagian sistem pendingin yang bermasalah. Kondisi seperti ini perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum baterai diputuskan harus diganti atau didaur ulang.
Baterai yang sudah tidak ideal untuk membawa mobil menempuh perjalanan jauh mungkin masih mampu menyimpan listrik. Beban kerja mobil memang berat. Baterai harus menghadapi akselerasi, pengereman, perubahan temperatur, getaran jalan, dan kebutuhan daya yang berubah dalam hitungan detik.
Karena itu, baterai yang dianggap “pensiun” dari mobil belum tentu kehilangan seluruh kegunaannya.
Bahkan, gelombang terbesar baterai kendaraan listrik bekas sebenarnya belum tiba. International Energy Agency atau IEA mencatat bahwa hampir seluruh baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi yang dipasang dalam beberapa tahun terakhir masih digunakan. Sebagian besar diperkirakan baru mencapai akhir masa pakai mulai pertengahan 2030-an atau lebih lama.
Artinya, persoalan baterai bekas bukan masalah yang bisa ditunda. Ketika jumlah mobil listrik di jalan terus bertambah, sistem pengumpulan dan pengolahannya harus disiapkan sebelum baterainya datang dalam jumlah besar.
Ke Mana Baterai Mobil Listrik Setelah Tidak Dipakai?
Secara umum, ada tiga jalan yang dapat ditempuh baterai setelah tidak lagi digunakan secara normal di dalam mobil.
Baterai Diperbaiki atau Direkondisi
Battery pack mobil listrik terdiri atas banyak bagian. Di dalamnya terdapat sel, modul, sensor, kabel, sistem pendingin, perangkat elektronik, dan Battery Management System atau BMS.
Karena strukturnya kompleks, kerusakan tidak selalu terjadi pada seluruh baterai. Dalam kondisi tertentu, bagian yang bermasalah mungkin dapat diperbaiki atau diganti.
Namun, pekerjaan ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Baterai mobil listrik bekerja dengan tegangan tinggi dan menyimpan energi dalam jumlah besar. Pemeriksaan seharusnya dilakukan oleh teknisi terlatih dengan peralatan serta prosedur keselamatan yang sesuai.
Jika perbaikannya masih aman dan masuk akal secara ekonomi, memperpanjang masa pakai baterai biasanya lebih baik daripada langsung membongkarnya menjadi material mentah.
Baterai Mendapat Kehidupan Kedua
Kemungkinan berikutnya disebut second life battery.
Bayangkan baterai yang sudah tidak cukup bertenaga untuk membawa mobil menempuh perjalanan jauh. Baterai tersebut mungkin tidak lagi cocok menghadapi kebutuhan daya tinggi di jalan, tetapi masih dapat digunakan untuk pekerjaan yang lebih tenang.
Misalnya sebagai penyimpan energi untuk:
- rumah atau bangunan;
- panel surya;
- fasilitas industri;
- mesin berdaya lebih rendah;
- cadangan listrik;
- sistem penyimpanan energi stasioner.
Contoh nyata datang dari Jepang. Nissan bersama Sumitomo Corporation membentuk 4R Energy untuk mengembangkan proses reuse, resell, refabricate, dan recycle baterai kendaraan listrik.
Di fasilitas 4R Energy, baterai bekas diperiksa dan dikelompokkan berdasarkan kondisinya. Baterai dengan kondisi terbaik dapat digunakan kembali untuk kebutuhan kendaraan. Baterai pada tingkat berikutnya dapat dipakai untuk mesin industri atau penyimpanan energi berukuran besar. Baterai lainnya masih mungkin digunakan sebagai sumber listrik cadangan.
Praktik pemberian kehidupan kedua pada baterai Nissan menunjukkan bahwa pilihan yang tersedia tidak hanya “dipasang di mobil” atau “dibuang”. Ada ruang panjang di antara keduanya.
Baterai dapat menjalani pekerjaan baru yang lebih ringan sebelum akhirnya benar-benar memasuki proses daur ulang.
Baterai Mobil Listrik Dibongkar dan Didaur Ulang
Jika baterai sudah rusak berat, tidak lagi aman, atau tidak ekonomis untuk diperbaiki dan digunakan kembali, barulah baterai masuk ke fasilitas daur ulang.
Tujuannya bukan sekadar menghancurkan battery pack. Material di dalam baterai masih memiliki nilai dan dapat dikembalikan ke rantai produksi.
Proses ini menjadi penting karena baterai mobil listrik mengandung berbagai material yang berasal dari pertambangan dan proses industri panjang. Membiarkan seluruh material tersebut berakhir sebagai limbah berarti kehilangan sumber daya yang sebenarnya masih bisa digunakan.
Bagaimana Proses Daur Ulang Baterai Mobil Listrik?
Daur ulang baterai mobil listrik tidak sesederhana seperti mengumpulkan botol plastik atau melebur kaleng minuman.
Baterai memiliki bobot besar, tegangan tinggi, kandungan kimia yang beragam, serta risiko panas dan korsleting. Karena itu, prosesnya harus dilakukan secara bertahap.
Baterai Dikumpulkan melalui Jalur Resmi
Tahap pertama adalah pengumpulan.
Baterai lama idealnya diserahkan melalui dealer, bengkel resmi, produsen, operator armada, perusahaan asuransi, atau pengelola limbah yang memiliki izin.
Battery pack tidak semestinya dibuang bersama sampah rumah tangga, disimpan lama di sudut bengkel umum, dibongkar sendiri, atau dijual kepada pengepul yang tidak memiliki kemampuan menangani sistem tegangan tinggi.
Baterai yang pernah mengalami benturan keras, kecelakaan, kebakaran, atau terendam banjir juga memerlukan penanganan berbeda. Dari luar mungkin terlihat utuh, tetapi kondisi di dalam sel dan modulnya belum tentu aman.
Kondisi Baterai Diperiksa
Sebelum dibongkar, baterai akan diperiksa untuk mengetahui kapasitas yang masih tersisa, kondisi modul dan sel, kerusakan fisik, riwayat temperatur, serta kemungkinan adanya risiko listrik atau panas.
Dari pemeriksaan ini baru ditentukan apakah baterai:
- masih bisa diperbaiki;
- dapat digunakan kembali;
- hanya bisa dimanfaatkan sebagian;
- atau harus langsung didaur ulang.
Langkah pemeriksaan penting agar baterai yang masih berguna tidak dihancurkan terlalu cepat. Sebaliknya, baterai yang sudah tidak aman juga tidak dipaksakan untuk kembali digunakan.
Battery Pack Dibongkar dengan Aman
Sebuah battery pack tidak hanya berisi sel baterai.
Di dalamnya terdapat rangka dan casing logam, kabel, konektor, sistem pendingin, sensor, modul, perangkat elektronik, serta sistem pengelolaan baterai.
Bagian seperti baja, aluminium, tembaga, plastik, dan komponen elektronik dapat dipisahkan untuk masuk ke jalur pengolahan masing-masing.
Setelah casing dan komponen pendukung dilepaskan, sel atau modul baterai diproses lebih lanjut.
Material Baterai Dipisahkan Kembali
Sel baterai dapat dihancurkan hingga menghasilkan campuran material berwarna gelap yang sering disebut black mass.
Black mass bukan limbah akhir. Di dalamnya masih terdapat campuran material dari katoda dan anoda yang dapat dipulihkan melalui proses berikutnya. IEA mendefinisikannya sebagai campuran terkonsentrasi dari logam yang sebelumnya berada di dalam baterai lithium-ion.
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menjelaskan beberapa pendekatan dalam daur ulang baterai, antara lain pirometalurgi, hidrometalurgi, dan direct recycling.
Pirometalurgi menggunakan temperatur tinggi untuk memproses baterai dan mengambil material tertentu. Hidrometalurgi menggunakan larutan kimia untuk memisahkan logam. Sementara direct recycling berusaha mempertahankan struktur material baterai agar dapat digunakan kembali dengan proses yang lebih singkat.
Setiap metode memiliki kelebihan, biaya, kebutuhan energi, dan tingkat pemulihan material yang berbeda.
Material Apa yang Bisa Diambil dari Baterai Bekas?
Material yang dapat dipulihkan bergantung pada jenis baterainya.
Pada baterai tertentu, proses daur ulang dapat mengambil kembali:
- litium;
- nikel;
- kobalt;
- mangan;
- tembaga;
- aluminium;
- grafit.
Perbedaan komposisi juga memengaruhi nilai ekonominya.
Baterai NMC mengandung nikel, mangan, dan kobalt. Material tersebut relatif bernilai bagi industri daur ulang. Sementara itu, baterai LFP menggunakan litium, besi, dan fosfat tanpa nikel serta kobalt.
LFP tetap bisa didaur ulang. Namun, karena tidak mengandung sejumlah logam bernilai tinggi, keuntungan dari penjualan material hasil daur ulang dapat lebih kecil. IEA menilai kondisi ini dapat menjadi tantangan bagi perusahaan daur ulang yang model bisnisnya mengandalkan nilai mineral hasil pemulihan.
Hal ini penting bagi Indonesia karena banyak mobil listrik dengan harga semakin terjangkau mulai menggunakan baterai LFP.
Perbedaan material tersebut bukan berarti satu jenis baterai otomatis baik dan jenis lain buruk. Tantangannya adalah membuat sistem daur ulang yang tetap berjalan meskipun nilai jual material di dalam baterai berbeda-beda.
Baterai Mobil Listrik Bekas di Indonesia Dibuang ke Mana?
Di Indonesia, baterai kendaraan listrik tidak seharusnya diperlakukan seperti sampah biasa.
Pasal 32 Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 menyatakan bahwa limbah baterai kendaraan listrik wajib ditangani melalui daur ulang dan/atau pengelolaan.
Aturan tersebut juga menyebut penanganannya dilakukan oleh lembaga, industri kendaraan listrik, atau industri komponen yang memiliki izin pengelolaan limbah baterai sesuai peraturan yang berlaku.
Secara praktis, ketika baterai mobil harus diganti, dealer atau bengkel resmi seharusnya menjadi pintu masuk pertama. Pemilik idealnya tidak membawa pulang battery pack lama atau mencari sendiri pihak yang mau membelinya.
Namun, adanya aturan belum otomatis membuat seluruh sistem berjalan sempurna.
Indonesia sebenarnya sudah mulai memberi perhatian pada pengelolaan baterai kendaraan listrik setelah masa pakainya di mobil berakhir. Kementerian ESDM menekankan bahwa baterai yang tidak lagi optimal untuk kendaraan belum tentu harus langsung didaur ulang. Bergantung pada kondisinya, baterai masih dapat memperoleh kehidupan kedua atau second life, misalnya sebagai penyimpan energi untuk mendukung sistem kelistrikan dan energi terbarukan.
Namun, sistem pengembaliannya tetap perlu dipersiapkan dengan jelas. Pakar industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai produsen perlu memiliki mekanisme untuk menarik kembali baterai bekas agar tidak keluar dari rantai pengolahan resmi. Ia juga mendorong penerapan battery passport agar asal-usul, usia, jenis kimia, riwayat penggunaan, dan kondisi kesehatan baterai dapat dilacak.
Battery passport dapat dibayangkan sebagai riwayat hidup digital sebuah baterai. Data tersebut membantu menentukan apakah baterai masih layak digunakan sebagai penyimpan energi, perlu diperbaiki, atau sudah harus masuk ke proses daur ulang. Tanpa sistem pelacakan yang jelas, keputusan mengenai penanganan baterai bisa menjadi tidak akurat dan berisiko menimbulkan persoalan keselamatan maupun kerugian ekonomi.
Sistem seperti ini penting. Tanpa data yang jelas, baterai bekas dapat berpindah tangan berkali-kali tanpa diketahui kondisinya.
Indonesia Mulai Menyiapkan Fasilitas Daur Ulang Baterai
Indonesia juga mulai membangun kapasitas industrinya.
Pada Juni 2025, pemerintah melakukan groundbreaking ekosistem industri baterai terintegrasi ANTAM–IBC–CBL. Salah satu subproyek yang diumumkan adalah fasilitas daur ulang baterai di Halmahera Timur dengan rencana kapasitas 20.000 ton per tahun.
Hal yang perlu digarisbawahi, proyek tersebut diumumkan dalam tahap pembangunan. Artinya, jangan langsung membayangkan seluruh baterai mobil listrik bekas di Indonesia saat ini sudah dapat dikirim ke fasilitas yang beroperasi penuh.
Membangun pabrik hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang.
Indonesia masih membutuhkan jaringan pengumpulan dari berbagai kota, kendaraan pengangkut khusus, gudang penyimpanan yang aman, tenaga teknis terlatih, prosedur penanganan baterai rusak, serta aturan yang jelas mengenai siapa yang menanggung biayanya.
Tanpa jaringan tersebut, baterai bekas tetap berisiko tercecer di bengkel, gudang, atau jalur pengolahan informal meskipun fasilitas besar sudah dibangun.
China Menguasai Kapasitas Daur Ulang Baterai Dunia
China memiliki posisi yang jauh lebih maju karena industri kendaraan listrik, produksi baterai, dan fasilitas daur ulang tumbuh di dalam ekosistem yang sama.
IEA mencatat China menjadi pasar kendaraan listrik dan produsen baterai terbesar dunia. Negara tersebut juga menampung lebih dari 85 persen kapasitas daur ulang baterai global.
Beberapa perusahaan daur ulang di China terhubung langsung dengan produsen baterai besar. Hubungan ini membuat sisa produksi dari pabrik dan baterai bekas lebih mudah masuk ke fasilitas pengolahan.
Namun, China juga menghadapi situasi yang menarik. Kapasitas fasilitas daur ulangnya sudah sangat besar, sementara banyak baterai kendaraan listrik yang pernah diproduksi masih digunakan di jalan.
Artinya, teknologi dan pabriknya sudah tersedia, tetapi gelombang baterai kendaraan yang benar-benar mencapai akhir masa pakai belum sepenuhnya datang.
Jepang Memberikan Baterai Kehidupan Kedua
Jika China menunjukkan besarnya skala industri, Jepang memberi contoh bagaimana baterai dapat digunakan lebih lama sebelum dihancurkan.
Melalui 4R Energy, baterai bekas Nissan LEAF tidak langsung dianggap sebagai tumpukan logam. Kondisinya diperiksa, diberi penilaian, lalu diarahkan ke penggunaan yang paling sesuai.
Ada yang kembali digunakan untuk kendaraan. Ada yang bekerja di mesin industri. Ada pula yang menyimpan energi matahari atau menyediakan listrik cadangan untuk bangunan.
Pendekatan ini terasa masuk akal. Daur ulang memang penting, tetapi menggunakan sebuah produk selama mungkin juga merupakan bagian dari menjaga sumber daya.
Baterai yang masih dapat bekerja tidak harus dipaksa pensiun hanya karena tidak lagi kuat menjalani pekerjaan terberatnya.
Bagaimana dengan Tesla?
Produsen mobil listrik juga mulai memiliki jalur penanganan baterai sendiri.
Dalam halaman resminya, Tesla menjelaskan kebijakan daur ulang baterainya dengan mengutamakan perpanjangan masa pakai battery pack sebelum baterai dinonaktifkan.
Tesla menyatakan baterai yang tidak lagi memenuhi kebutuhan pelanggan dapat diperiksa melalui pusat servisnya. Perusahaan tersebut juga menyebut baterai lithium-ion bekas yang dihentikan penggunaannya tidak dikirim ke tempat pembuangan akhir dan masuk ke proses daur ulang.
Karena informasi ini berasal dari perusahaan yang bersangkutan, klaim tersebut berlaku sebagai kebijakan Tesla, bukan berarti seluruh produsen kendaraan listrik di Amerika Serikat memiliki prosedur yang sama.
Di sinilah pertanyaan penting muncul bagi konsumen Indonesia, apakah setiap merek yang menjual mobil listrik juga sudah memiliki jalur pengembalian baterai yang jelas?
Apakah Daur Ulang Membuat Mobil Listrik Sepenuhnya Ramah Lingkungan?
Daur ulang tidak membuat mobil listrik otomatis bebas dari seluruh dampak lingkungan.
Bahan baku baterai tetap perlu ditambang. Mineralnya perlu diproses. Sel baterai diproduksi menggunakan energi. Komponen dikirim melintasi kota, pulau, bahkan negara. Ketika didaur ulang, baterai juga membutuhkan energi, peralatan, serta bahan kimia.
Namun, tanpa penggunaan kembali dan daur ulang, material seperti litium, nikel, kobalt, tembaga, aluminium, dan grafit berisiko hanya digunakan sekali sebelum keluar dari rantai produksi.
Pembicaraan tentang baterai bukan lagi hanya soal teknologi. Ada tanggung jawab yang lebih luas tentang bagaimana manusia menggunakan sumber daya yang tersedia.
Allah SWT mengingatkan dalam QS Al-A’raf ayat 56:
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik.”
Ayat itu tidak sedang membicarakan mobil listrik atau baterai. Namun, pesannya terasa dekat dengan persoalan hari ini, kemajuan seharusnya tidak menyelesaikan satu masalah dengan menciptakan masalah baru di tempat lain.
Sebelum Membeli Mobil Listrik, Tanyakan Nasib Baterainya
Saat berada di dealer, calon pembeli biasanya lebih sibuk bertanya tentang jarak tempuh, cicilan, bonus wall charger, atau lama pengisian daya.
Semua itu penting. Namun, ada beberapa pertanyaan lain yang sebaiknya mulai dibiasakan:
- Jika baterai harus diganti, siapa yang mengambil baterai lama?
- Apakah baterai dapat diperbaiki per modul?
- Apakah dealer memiliki program pengembalian baterai?
- Siapa mitra pengelolaan atau daur ulangnya?
- Bagaimana prosedur baterai yang rusak akibat kecelakaan atau banjir?
- Siapa yang menanggung biaya pelepasan dan pengangkutannya?
- Apakah kebijakan tersebut tertulis dalam garansi atau layanan purnajual?
Pertanyaan itu mungkin terasa terlalu jauh ketika mobil masih baru dan mengilap di show room. Namun, membeli mobil berarti membawa pulang sebuah produk yang akan digunakan bertahun-tahun.
Identitas produsen baterai juga patut diperhatikan karena berkaitan dengan teknologi, jaminan kualitas, jaringan layanan, serta kemungkinan pengelolaan baterai pada akhir masa pakainya. Karena itu, tidak ada salahnya mengetahui siapa pembuat baterai mobil listrik sebelum membeli.
Produsen yang serius membangun ekosistem kendaraan listrik seharusnya tidak hanya hadir ketika menjual mobil. Mereka juga perlu hadir ketika baterai mengalami masalah, ketika kendaraan sudah tua, dan ketika pemilik membutuhkan jawaban tentang ke mana battery pack lamanya akan dibawa.
Baterai Mobil Listrik Bekas Tidak Seharusnya Dibuang Sembarangan
Jadi, baterai mobil listrik yang sudah tidak digunakan tidak semestinya berakhir di tempat sampah, ditumpuk di belakang bengkel, atau berpindah ke tangan pengelola yang tidak memiliki kemampuan menangani sistem tegangan tinggi.
Baterai tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu.
Mungkin masih dapat diperbaiki. Mungkin bisa menjalani kehidupan kedua sebagai penyimpan energi. Jika kondisinya benar-benar tidak memungkinkan, materialnya masih dapat dipisahkan dan didaur ulang.
Indonesia sudah memiliki dasar hukum dan mulai menyiapkan kapasitas industrinya. Namun, pekerjaan besarnya bukan hanya membangun pabrik. Tantangan sebenarnya adalah memastikan setiap baterai dapat dikumpulkan, dilacak, diangkut, dan diproses melalui jalur yang aman.
Beberapa tahun dari sekarang, mungkin akan ada lebih banyak mobil listrik tua di jalan. Ada yang masih setia membawa keluarga bekerja dan berlibur. Ada yang berpindah ke pemilik kedua. Ada pula yang akhirnya berhenti di bengkel dengan baterai yang tak lagi kuat menempuh perjalanan seperti dahulu.
Pada saat itulah janji mobil listrik sebagai kendaraan yang lebih bersih benar-benar diuji.Bukan hanya ketika mobil melaju senyap tanpa asap, tetapi ketika baterainya sudah menyelesaikan perjalanan terakhir dan kita harus memutuskan apakah ia akan menjadi beban bagi bumi, atau kembali menjadi sesuatu yang berguna.