
Bayangkan, kita sedang mempertimbangkan mau pindah dari mobil bensin ke mobil listrik.
Mulai menghitung biaya charging di rumah. Membandingkan jarak tempuh. Melihat harga baterai. Mencari tahu posisi SPKLU terdekat. Mungkin sudah mulai membayangkan betapa menyenangkannya berangkat pagi tanpa perlu mampir ke SPBU.
Lalu suatu hari tiba-tiba muncul sebuah video di layar ponsel.
Sebuah mobil listrik terbakar di jalan tol. Api terlihat besar, asap mengepul, bodi kendaraan nyaris habis.
Keinginan pindah ke mobil listrik yang tadinya mulai bulat jadi mendadak sedikit goyah.
“Kalau baterainya sampai terbakar seperti itu bagaimana?”
“Bukankah baterai mobil listrik ukurannya sangat besar dan berada di bawah kita?”
“Kalau sedang membawa keluarga lalu kejadian di jalan, terus harus bagaimana?”
Kekhawatiran seperti ini sebenarnya tidak aneh. Selama bertahun-tahun kita terbiasa hidup dengan mobil yang membawa tangki bensin atau solar. Kita mengenal suara mesin yang panas, radiator, oli, bahkan aroma bau bensin.
Baterai tegangan tinggi jadi terasa asing.
Masalahnya, rasa asing mudah berubah menjadi rasa takut ketika yang pertama kali terlihat justru kobaran api.
Jadi sebelum buru-buru menyimpulkan bahwa mobil listrik berbahaya, ada baiknya melihat persoalannya dari awal, kenapa sebuah mobil listrik bisa terbakar, apakah EV memang lebih mudah terbakar daripada mobil BBM, dan apa yang bisa dilakukan pemilik untuk mengurangi risikonya?
Mobil Listrik Terbakar di Tol Cikampek, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Kekhawatiran soal ini kembali ramai setelah sebuah BYD Seal mengalami kebakaran di dekat gerbang Tol Cikampek, Jawa Barat, pada akhir Juli 2026.
Rekaman kejadian yang beredar memang terlihat dramatis. Namun ada satu hal penting yang tidak boleh dilewati, penyebab kebakaran belum bisa ditentukan hanya dengan melihat video.
Dalam laporan ANTARA, BYD Motor Indonesia menyatakan masih melakukan investigasi secara komprehensif terhadap kendaraan tersebut. Pabrikan ketika itu belum mengumumkan penyebab kebakaran karena pemeriksaan masih berlangsung.
Ini penting, terutama ketika percakapan di media sosial dengan mudah berubah dari “mobil listrik terbakar” menjadi “baterai mobil listrik meledak”.
Dua kalimat itu belum tentu menjelaskan kejadian yang sama.
Mobil listrik tetap memiliki kabel, modul elektronik, sistem kelistrikan tegangan rendah, inverter, charger, interior, berbagai konektor, dan komponen lainnya. Sebuah kendaraan yang mengalami kebakaran tidak otomatis berarti battery pack menjadi sumber api pertama.
Karena itu, selama hasil investigasinya belum selesai, menyebut baterai sebagai penyebab jadi terasa terlalu cepat.
Tetapi pertanyaan soal baterai tetap menarik untuk dibahas. Sebab, kalau sebuah baterai EV benar-benar mengalami kegagalan serius, karakter kebakarannya memang bisa berbeda.
Baterai Mobil Listrik Tidak Hanya Berisi Tumpukan Sel
Ketika mendengar kata baterai mobil listrik, mungkin yang terbayang adalah satu kotak besar penuh energi yang diletakkan di bawah lantai kendaraan.
Kenyataannya jauh lebih kompleks.
Di dalam battery pack terdapat sel-sel baterai yang disusun menjadi modul dan kemudian menjadi satu paket besar. Seluruh sistem itu diawasi oleh sensor dan perangkat elektronik yang terus membaca kondisi baterai.
Ada Battery Management System atau BMS yang mengawasi berbagai parameter. Ada sistem pengelolaan temperatur. Ada fuse, contactor, sensor, struktur pelindung dan mekanisme lain yang dirancang agar energi besar di dalam baterai tetap dapat digunakan secara aman.
Jadi baterai tidak sekadar “diisi lalu dipakai”.
Ia terus diawasi.
Keamanan baterai mobil listrik dan sistem yang menjaganya memberi gambaran lebih dalam mengenai BMS, sistem pendinginan, sensor hingga struktur perlindungan yang bekerja di dalam battery pack.
Namun keberadaan berbagai lapisan perlindungan itu bukan berarti risikonya menjadi nol.
Tidak ada teknologi penyimpan energi yang benar-benar tanpa risiko. Tangki bensin mempunyai risiko. Tabung gas mempunyai risiko. Bahkan power bank kecil di atas meja pun bisa mengalami masalah.
Pada baterai lithium-ion, salah satu kondisi yang paling dikhawatirkan disebut thermal runaway.
Apa Itu Thermal Runaway pada Baterai Mobil Listrik?
Namanya kedengarannya rumit, tetapi gambaran sederhananya tidak terlalu sulit.
Bayangkan satu sel baterai mengalami masalah dan mulai menghasilkan panas lebih banyak daripada yang mampu dikendalikan sistem.
Temperaturnya meningkat.
Reaksi di dalam sel kemudian menghasilkan panas tambahan.
Jika kondisi tersebut terus berkembang, panas dapat memengaruhi bagian di sekitarnya dan berpotensi merambat ke sel lain.
Proses inilah yang dikenal sebagai thermal runaway.
RISE Research Institutes of Sweden menjelaskan thermal runaway sebagai tahap ketika sel baterai mengalami pemanasan mandiri yang cepat dan dalam kondisi terburuk dapat berkembang menjadi kebakaran atau ledakan. RISE juga melakukan pengujian pada level sel, modul hingga battery pack untuk melihat respons terhadap tekanan mekanis, gangguan listrik, panas eksternal dan kondisi ekstrem lainnya.
Kalau digambarkan secara sederhana, prosesnya bisa bermula dari satu titik kecil, ada masalah, muncul panas, panas semakin sulit dikendalikan, lalu dapat merambat.
Itulah salah satu alasan mengapa kebakaran yang benar-benar melibatkan battery pack EV perlu mendapat penanganan berbeda.
Apa yang Bisa Membuat Baterai EV Mengalami Masalah?
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua kasus. Penyebab kebakaran kendaraan harus ditentukan melalui pemeriksaan terhadap unit yang mengalami insiden.
Namun secara teknis, ada beberapa kondisi yang memang menjadi perhatian dalam keselamatan baterai.
Kerusakan Internal pada Sel Baterai
Sel baterai dibuat melalui proses manufaktur yang sangat presisi. Sistem kendaraan kemudian terus mengawasi kondisi baterai selama digunakan.
Tetapi seperti produk teknik lainnya, kegagalan internal secara teoritis tetap dapat terjadi.
Itulah mengapa produsen baterai dan kendaraan melakukan berbagai pengujian untuk melihat bagaimana sel bereaksi terhadap kondisi abnormal sebelum baterai digunakan pada kendaraan produksi.
Kasus seperti ini tidak berarti setiap baterai menyimpan “bom waktu”. Justru berbagai sistem proteksi dibuat karena para insinyur sudah mengetahui bahwa energi besar memang harus dikendalikan dengan serius.
Benturan Keras pada Battery Pack
Ini bagian yang sering luput ketika membicarakan mobil listrik.
Pada banyak EV, battery pack berada di bagian bawah kendaraan. Posisi itu memberi keuntungan dalam distribusi bobot dan ruang kabin, tetapi sekaligus membuat perlindungan bagian bawah menjadi sangat penting.
Tidak perlu menjadi paranoid setiap kali melewati polisi tidur.
Namun jika kolong kendaraan menghantam benda keras dengan cukup kuat, mobil mengalami kecelakaan, atau bagian bawah battery pack diduga mengalami kerusakan, pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda hanya karena kendaraan masih bisa berjalan.
Kerusakan mekanis merupakan salah satu kondisi yang memang digunakan dalam pengujian keselamatan baterai untuk melihat bagaimana sel, modul dan pack bereaksi terhadap situasi abnormal.
Kadang masalah terbesar bukan benturannya sendiri, melainkan keputusan untuk menganggap semuanya baik-baik saja setelah benturan besar tersebut.
Temperatur yang Tidak Terkendali
Baterai juga mempunyai hubungan erat dengan temperatur.
Karena itu mobil listrik modern menggunakan sensor dan sistem thermal management untuk menjaga baterai bekerja dalam kondisi yang dirancang oleh pabrikan.
Ketika temperatur mulai bergerak ke arah yang tidak diinginkan, kendaraan dapat mengurangi performa, membatasi daya charging, mengaktifkan sistem pendinginan, atau memberikan peringatan.
Bagi pengemudi, sistem ini bekerja tanpa terasa. Mobil tetap terlihat tenang dari luar, sementara komputer dan sensor terus mengawasi apa yang terjadi di bawah lantai.
Masalah Sistem Kelistrikan dan Proses Charging
Ada satu hal menarik saat beralih ke EV, sebagian “urusan energi” kendaraan berpindah ke rumah.
Pada mobil bensin, kita datang ke SPBU yang instalasinya sudah disiapkan untuk mengisi bahan bakar.
Pada EV, banyak orang justru mengisi energinya sendiri setiap malam.
Karena itu charger, connector, kabel dan instalasi rumah tidak boleh dianggap sepele.
BRIN menjelaskan bahwa Battery Management System atau BMS memiliki peran penting dalam memantau kondisi baterai ketika proses pengisian berlangsung. Parameter seperti tegangan, arus, temperatur, state of charge dan state of health dapat menjadi bagian dari data yang dikelola sistem agar proses charging tetap berada dalam batas yang dirancang. BRIN juga menekankan pentingnya perangkat charging yang mengikuti standar.
Artinya, charging yang aman bukan sekadar soal membeli kabel lalu mencari stopkontak.
Apakah Mobil Listrik Lebih Mudah Terbakar daripada Mobil BBM?
Ini pertanyaan yang biasanya muncul setelah melihat video kebakaran EV.
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Mobil BBM membawa bensin atau solar, menggunakan mesin yang menghasilkan panas, memiliki sistem bahan bakar, sistem kelistrikan, oli dan berbagai komponen yang juga dapat terlibat dalam kebakaran.
Mobil listrik tidak membawa tangki bensin, tetapi menyimpan energi besar di battery pack dan menggunakan sistem tegangan tinggi.
Keduanya membawa energi.
Keduanya mempunyai risiko.
Yang berbeda adalah bagaimana risiko itu muncul dan bagaimana kebakarannya berkembang.
RISE menyebut penelitian menunjukkan kebakaran pada kendaraan listrik tidak lebih umum dibanding kendaraan berbahan bakar fosil. Yang menjadi tantangan adalah ketika api sudah sampai di baterai, karena bahan pemadam lebih sulit menjangkau bagian dalam pack.
Ini sebuah perbedaan penting.
Sulit dipadamkan tidak sama dengan mudah terbakar.
Video EV yang terbakar bisa terlihat jauh lebih mengerikan daripada statistik di atas kertas. Api besar lebih mudah menempel di ingatan. Potongan video berdurasi 30 detik juga lebih mudah menjadi viral daripada jutaan perjalanan EV yang selesai tanpa kejadian apa pun.
Tetapi bukan berarti risikonya boleh disepelekan.
Kenapa Kebakaran Baterai Mobil Listrik Bisa Sulit Dipadamkan?
Kalau api sudah melibatkan battery pack, persoalannya bukan hanya api yang terlihat dari luar.
Sumber panas dapat berada jauh di dalam pack. Sel baterai tersusun rapat, sementara reaksi panas bisa berlangsung di bagian yang tidak mudah dijangkau.
Itulah mengapa pada kebakaran baterai, pekerjaan petugas bukan sekadar membuat api menghilang.
Mereka juga harus mengendalikan panas dan mencegah kebakaran berkembang atau muncul kembali.
RISE menjelaskan bahwa ketika baterai terlibat dalam kebakaran kendaraan listrik, akses bahan pemadam ke dalam pack menjadi tantangan tersendiri.
Bagi pemilik mobil, ada satu pelajaran sederhana dari sini, ketika kebakaran sudah berkembang, tugas kita bukan menjadi petugas pemadam kebakaran.
Tugas kita adalah keluar dengan selamat.
Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Mobil Listrik Terbakar?
Sebagian penyebab kegagalan memang berada di luar kendali pemilik. Namun ada banyak kebiasaan sederhana yang sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Gunakan Charger Sesuai Spesifikasi Kendaraan
Jangan memilih perangkat charging hanya karena paling murah atau kebetulan konektornya cocok.
Gunakan perangkat yang sesuai dengan kendaraan dan ikuti panduan pabrikan.
Begitu pula dengan adaptor dan aksesori listrik. Dunia EV memang baru bagi banyak orang, tetapi bukan berarti semua eksperimen perlu dicoba.
Pastikan Instalasi Listrik Rumah Benar-Benar Siap
Portable charger terlihat sederhana. Colok ke outlet, sambungkan ke mobil, lalu tidur.
Yang sering dilupakan adalah perangkat itu dapat menarik daya selama berjam-jam.
Stopkontak yang longgar, sambungan buruk, kabel yang tidak sesuai, grounding yang bermasalah atau instalasi yang bekerja di luar kapasitasnya dapat menimbulkan panas di sisi instalasi rumah.
Karena itu keputusan antara portable dan wall charger sebaiknya tidak hanya dilihat dari kecepatan. Perbedaan portable charger dan wall charger untuk baterai mobil listrik juga menunjukkan bahwa kondisi outlet, jalur kabel, proteksi dan grounding justru menjadi bagian penting dari keamanan charging di rumah.
Wall charger pun bukan otomatis aman hanya karena terlihat profesional. Kualitas pemasangan tetap menentukan.
Jangan Abaikan Kabel atau Connector yang Mulai Bermasalah
Tanda awalnya terlihat sederhana.
Connector terasa tidak seperti biasanya. Stopkontak menjadi sangat panas. Ada perubahan warna. Tercium aroma plastik. Pengisian sering berhenti sendiri.
Hal-hal seperti ini jangan diselesaikan dengan cara paling cepat, mencabut, memasang kembali, lalu berharap malam berikutnya masalah hilang sendiri.
Berhenti menggunakannya dan cari sumber masalah.
Periksa Mobil Setelah Benturan Keras
Suara “duk!” dari bawah mobil mungkin hanya membuat kita sedikit mengernyit lalu kembali menginjak pedal.
Pada mobil listrik, benturan besar di area bawah kendaraan layak mendapat perhatian lebih karena di sanalah battery pack umumnya berada.
Tidak semua benturan merusak baterai. Namun jika benturannya signifikan, pemeriksaan jauh lebih murah dibanding mengambil risiko dengan komponen yang menyimpan energi sebesar itu.
Jangan Abaikan Warning di Dashboard
Mobil modern pandai berbicara, hanya saja bahasanya berupa lampu dan pesan di layar.
Jika muncul peringatan berkaitan dengan sistem EV, baterai, charging atau temperatur, jangan terbiasa mematikannya dengan satu cara klasik, restart mobil dan berharap pesan tidak muncul lagi.
Kalau peringatan kembali muncul, cari tahu penyebabnya.
Ikuti Recall dan Pembaruan dari Pabrikan
Recall kadang terdengar menakutkan.
Padahal dari sisi keselamatan, recall justru menunjukkan adanya masalah yang telah dikenali dan ada tindakan koreksi yang harus dilakukan.
Begitu pula pembaruan sistem kendaraan. Pada EV, software bukan hanya mengatur layar hiburan. Kendaraan modern menggunakan perangkat lunak untuk berbagai fungsi pengelolaan dan diagnosis.
Kalau ada jadwal servis resmi, jangan menundanya hanya karena mobil terasa masih normal.
Ada Tanda-Tanda Sebelum Mobil Listrik Terbakar?
Tidak semua kebakaran memberi peringatan yang sama. Karena itu tidak ada satu gejala yang bisa dijadikan jaminan.
Namun kondisi yang jelas tidak normal sebaiknya jangan diabaikan.
Asap atau uap yang tidak biasa, bau aneh, perubahan temperatur yang ekstrem, peringatan sistem EV, atau suara yang tidak lazim dari kendaraan harus cukup untuk membuat pengemudi waspada.
Pakar otomotif ITB Yannes Martinus Pasaribu juga mengingatkan bahwa ketika terjadi tanda kebocoran, perubahan temperatur drastis atau bau tidak biasa pada kendaraan atau baterai, pengemudi sebaiknya menghentikan kendaraan dan keluar.
Intinya sederhana, jangan menunggu api berkobar untuk mengetahui bahwa ada masalah.
Mobil Listrik Mengeluarkan Asap atau Terbakar di Jalan, Harus Bagaimana?
Pada situasi seperti ini, rasa ingin menyelamatkan mobil bisa muncul secara otomatis.
Mobil mahal. Ada laptop di dalam. Ada tas. Ada dokumen.
Tetapi beberapa menit itu bukan waktu untuk menghitung harga barang.
Cari Tempat Aman dan Hentikan Kendaraan
Jika kondisi kendaraan masih memungkinkan untuk dikendalikan, berhentilah di lokasi yang aman tanpa membahayakan pengguna jalan lain.
Matikan kendaraan.
Semua Penumpang Segera Keluar
Jangan menunggu untuk melihat apakah asapnya berhenti sendiri.
Pakar otomotif ITB Yannes Martinus Pasaribu dalam panduan yang dimuat ANTARA menyarankan pengemudi menghentikan mobil listrik di lokasi aman, mematikan kendaraan, lalu segera keluar bersama seluruh penumpang tanpa mengambil barang bawaan.
Ini mungkin terasa berlebihan ketika api masih kecil.
Tetapi dalam kondisi darurat, waktu terbaik untuk keluar adalah ketika pintu masih bisa dibuka dengan mudah dan semua orang masih tenang.
Menjauh dari Kendaraan
Setelah keluar, jangan berdiri di samping mobil untuk merekam video.
Dalam panduan yang sama, Yannes menyarankan menjauh setidaknya sekitar 15 meter dari kendaraan.
Jaga penumpang, terutama anak-anak, berada jauh dari area kendaraan.
Hubungi Petugas dan Katakan Bahwa Kendaraannya EV
Saat menghubungi layanan darurat atau petugas jalan tol, beri informasi bahwa kendaraan yang terbakar merupakan mobil listrik.
Informasi itu penting agar petugas mengetahui jenis kendaraan yang sedang ditangani.
Dan setelah itu, biarkan orang yang memang ahlinya untuk mengurus apinya.
Apakah APAR Bisa Memadamkan Baterai Mobil Listrik?
APAR tetap merupakan perlengkapan keselamatan yang berguna di kendaraan, terutama untuk penanganan awal pada kebakaran kecil tertentu.
Tetapi ada perbedaan besar antara api kecil pada suatu komponen dan thermal runaway yang sudah berkembang di dalam battery pack.
Dalam penjelasan kepada ANTARA, Yannes mengatakan APAR pada tahap awal setidaknya dapat membantu memperlambat penyebaran dalam kondisi tertentu, bukan berarti mampu memadamkan thermal runaway yang sudah berkembang di dalam baterai.
Jadi jangan mengambil risiko berdiri dekat kendaraan yang apinya sudah membesar hanya karena ada tabung APAR di tangan.
Mobil bisa dibeli lagi.
Barang di bagasi bisa dicari lagi.
Orang di dalamnya tidak.
Setelah Melihat EV Terbakar, Masih Layak Pindah dari Mobil BBM?
Inilah pertanyaan sebenarnya.
Bukan soal thermal runaway. Bukan soal BMS. Bukan soal jenis sel baterai.
Tetapi setelah melihat semua risikonya, apakah masih berani membeli mobil listrik?
Jawabannya tentu kembali kepada kebutuhan masing-masing.
Namun satu kasus kebakaran tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh mobil listrik mudah terbakar, sama seperti satu mobil bensin terbakar di pinggir jalan tidak membuat kita berhenti menggunakan semua kendaraan berbahan bakar bensin.
Data yang dirangkum RISE bahkan menunjukkan kebakaran pada EV tidak lebih umum daripada kendaraan berbahan bakar fosil.
Yang perlu diterima adalah kenyataan bahwa teknologi baru membawa jenis pengetahuan baru.
Dulu kita belajar bahwa mesin tidak boleh kekurangan oli.
Kita belajar melihat indikator temperatur.
Kita tahu bensin tidak boleh didekatkan dengan sumber api.
Kita paham radiator yang panas tidak sebaiknya langsung dibuka.
Ketika menggunakan mobil listrik, pengetahuan itu bergeser.
Kita mulai belajar tentang battery pack, charging, BMS, temperatur baterai, kondisi connector dan apa yang harus dilakukan setelah bagian bawah mobil mengalami benturan keras.
Bukan karena EV harus ditakuti.
Tetapi karena setiap sumber energi memang pantas dihormati.
Mau Beli Mobil Listrik? Jangan Cuma Tanya Jarak Tempuh dan Kecepatan Charging
Di showroom, pertanyaan calon pembeli biasanya berputar di tempat yang sama.
“Range-nya berapa?”
“Kalau fast charging berapa menit?”
“Garansi baterainya berapa tahun?”
Semua pertanyaan itu penting.
Tetapi mungkin ada beberapa pertanyaan lain yang layak ikut dibawa.
Bagaimana battery pack mobil ini dilindungi dari benturan? Bagaimana sistem pendinginan baterainya bekerja? Berapa lama garansi baterainya? Apa prosedurnya jika bagian bawah kendaraan mengalami benturan? Bagaimana jaringan aftersales-nya? Apakah ada jadwal recall yang perlu diketahui?
Kita tidak harus menjadi insinyur untuk membeli mobil listrik.
Namun sedikit rasa ingin tahu bisa membuat keputusan membeli menjadi jauh lebih matang.
Keamanan sebuah kendaraan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang ditanamkan pabrikan.
Ada bagian kecil yang selalu kembali kepada manusia di balik kemudi, bagaimana kendaraan digunakan, dirawat, di-charge, dan bagaimana kita bereaksi ketika sesuatu terasa tidak normal.
Mobil Listrik Bisa Terbakar, tetapi Itu Bukan Seluruh Ceritanya
Video sebuah mobil listrik yang terbakar memang sulit dilupakan.
Api membuat semuanya terlihat sederhana, ada mobil listrik, ada baterai besar, lalu ada kebakaran.
Padahal di balik satu gambar itu terdapat banyak pertanyaan yang baru bisa dijawab lewat pemeriksaan teknis.
Apakah api bermula dari battery pack? Dari sistem kelistrikan lain? Dari kerusakan sebelumnya? Dari faktor eksternal?
Pada kasus Cikampek yang memicu kembali percakapan ini, penyebabnya pun belum layak ditebak sebelum investigasi selesai.
Yang bisa kita pahami sekarang adalah bahwa mobil listrik memang mempunyai risiko kebakaran. Risiko itu nyata dan tidak perlu ditutupi.
Jika baterai benar-benar mengalami thermal runaway, penanganannya juga bisa lebih rumit.
Tetapi itu tetap berbeda dari mengatakan bahwa mobil listrik otomatis lebih mudah terbakar daripada mobil BBM.
Mungkin beberapa tahun ke depan kita akan semakin terbiasa melihat kendaraan listrik di garasi rumah, di jalan tol, di parkiran kantor, bahkan menemani perjalanan keluarga keluar kota.
Pada saat itu baterai besar di bawah lantai mungkin tidak lagi terasa asing.
Sama seperti tangki berisi puluhan liter bensin yang hari ini bahkan jarang kita pikirkan ketika duduk di dalam mobil.
Jadi pertanyaan yang mungkin perlu kita bawa ketika mempertimbangkan pindah ke EV bukan lagi sekadar.
“Apakah mobil listrik bisa terbakar?”
Hampir semua kendaraan yang membawa energi memiliki risiko.
Pertanyaan yang lebih penting adalah.
“Seberapa baik kendaraan itu dirancang untuk mencegahnya, dan apakah kita sebagai pemilik sudah cukup memahami cara menggunakannya dengan aman?”
Rasa aman bukan datang karena kita percaya sesuatu tidak akan pernah terjadi.
Rasa aman justru datang ketika kita tahu risikonya ada dan kita tahu apa yang harus dilakukan terhadapnya.