Ban Mobil Listrik Lebih Cepat Habis, Mitos atau Fakta?

Pemilik mobil listrik memeriksa kondisi ban depan mobil di area perkotaan.

Salah satu hal yang menarik ketika mulai melirik mobil listrik adalah urusan perawatannya yang terasa lebih sederhana.

Tidak ada oli mesin yang harus rutin diganti. Tidak ada busi. Tidak ada mesin dengan begitu banyak komponen bergerak seperti pada mobil bensin.

Buat orang yang selama ini terbiasa mampir ke bengkel setiap beberapa bulan untuk servis berkala, tentu saja ini terdengar menarik.

Tapi kemudian muncul cerita lain.

“Mobil listrik memang lebih hemat soal servis, tapi bannya lebih cepat habis.”

Kalimat seperti ini mulai sering terdengar. Dari obrolan sesama pengguna mobil, komentar di media sosial, sampai percakapan ketika seseorang sedang mempertimbangkan apakah mobil listrik benar-benar lebih ekonomis untuk dipakai sehari-hari.

Wajar kalau kemudian muncul pertanyaan:

Kalau ban mobil listrik memang lebih cepat habis, jangan-jangan biaya yang hemat dari servis justru pindah ke ban?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana “iya” atau “tidak”.

Klaim bahwa ban mobil listrik bisa lebih cepat aus bukan sepenuhnya mitos. Ada penelitian dan data pemakaian nyata yang menunjukkan kecenderungan tersebut. Tetapi mengatakan semua mobil listrik pasti boros ban juga tidak tepat.

Banyak hal yang ternyata ikut berpengaruh, bobot kendaraan, torsi, konstruksi ban, tekanan angin, kondisi kaki-kaki, permukaan jalan, sampai cara kaki kita memainkan pedal akselerator.


Jadi, Benarkah Ban Mobil Listrik Lebih Cepat Aus?

Ada faktanya.

Dalam kondisi tertentu, tingkat keausan ban mobil listrik memang bisa lebih tinggi dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal atau ICE (internal combustion engine).

Tetapi ada satu bagian penting yang jangan sampai dilewatkan, “dalam kondisi tertentu”.

Sebab, cepat atau lambatnya ban habis bukan cuma ditentukan oleh sumber tenaga mobil.

SUV bensin yang berat dan sering dikendarai agresif tentu bisa menghabiskan ban dengan cepat. Sebaliknya, sebuah EV yang lebih ringan, menggunakan ban yang sesuai, tekanan anginnya dijaga, dan dikendarai dengan halus bisa menghasilkan cerita yang berbeda.

Jadi kalimat yang lebih tepat bukan:

“Mobil listrik pasti boros ban.”

Melainkan:

“Mobil listrik punya beberapa karakter yang bisa membuat ban bekerja lebih berat dan berpotensi mempercepat keausannya.”

Kelihatannya memang cuma beda sedikit. Tapi maknanya cukup jauh.


Seberapa Besar Bedanya dengan Mobil Bensin?

Menariknya, untuk pertanyaan ini kita tidak hanya punya asumsi. Ada angka yang bisa dilihat.

Dalam Pengujian, Selisihnya Memang Terlihat

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Science of the Total Environment membandingkan mobil listrik, mobil bensin, dan mobil diesel menggunakan ban baru berukuran sama, yaitu 205/55 R16.

Hasil pengujiannya menunjukkan rata-rata keausan tapak ban sekitar 201,7 mg/km pada EV. Pada mobil bensin angkanya 158,9 mg/km, sedangkan diesel 167,4 mg/km.

Kalau hanya melihat angka tersebut, keausan EV memang terlihat sekitar 27 persen lebih tinggi dibandingkan mobil bensin yang diuji.

Tapi ada satu detail penting, berat mobilnya tidak sama.

EV dalam eksperimen tersebut memiliki bobot 1.665 kilogram. Mobil bensin 1.370 kilogram, sedangkan diesel 1.395 kilogram.

Ketika keausan dihitung berdasarkan berat kendaraan, hasilnya berubah menjadi 121,1 mg/km/ton pada EV, 116,0 pada bensin, dan 121,0 pada diesel.

Nah, di sini ceritanya mulai menarik.

Secara absolut, EV memang menunjukkan keausan yang lebih tinggi. Tetapi setelah bobot kendaraan ikut diperhitungkan, jaraknya dengan mobil bensin menjadi jauh lebih kecil. Bahkan angkanya hampir sama dengan diesel dalam eksperimen tersebut.

Artinya, bobot kendaraan punya peran yang cukup besar.

Data Pemakaian Nyata Juga Menunjukkan Perbedaan

Lalu bagaimana dengan mobil yang benar-benar dipakai sehari-hari?

Data 1link Service Network milik Epyx pada 2023 memberikan gambaran yang cukup menarik.

Pergantian ban pertama pada kendaraan listrik rata-rata terjadi setelah 17.985 mil, atau sekitar 28.900 kilometer.

Sementara pada mobil bensin dan diesel, pergantian pertama rata-rata tercatat setelah 24.335 mil, atau sekitar 39.200 kilometer.

Selisihnya sekitar 6.350 mil atau 10.200 kilometer.

Lumayan jauh?

Iya, kalau angka itu langsung dilihat begitu saja.

Tetapi Epyx sendiri mengingatkan bahwa datanya perlu dibaca dengan hati-hati. EV yang digunakan dalam armada saat itu cenderung merupakan kendaraan yang lebih besar, sementara jumlah mobil listrik berukuran kecil masih relatif sedikit dalam sampel.

Artinya, yang dibandingkan belum tentu dua mobil dengan ukuran, bobot, ban, dan pola penggunaan yang benar-benar sama.

Jadi angka sekitar 10.200 kilometer tadi jangan langsung diterjemahkan menjadi:

“Kalau beli EV, ban pasti habis 10.000 kilometer lebih cepat.”

Lebih tepat kalau data tersebut dianggap sebagai tanda bahwa perbedaan umur ban memang bisa terasa dalam pemakaian nyata, tetapi penyebabnya tidak bisa dilepaskan dari karakter kendaraan dan cara penggunaannya.


Kenapa Ban Mobil Listrik Bisa Lebih Cepat Aus?

Kalau bukan semata-mata karena mobilnya menggunakan listrik, lalu apa yang membuat ban EV bisa mengalami keausan lebih cepat?

Ada beberapa hal yang perlu dilihat.

Bobot Mobil Ikut Membebani Ban

Baterai traksi EV bukan komponen yang ringan. Pada banyak model, bobotnya bisa mencapai ratusan kilogram. Akibatnya, mobil listrik cenderung memiliki massa lebih besar dibandingkan kendaraan ICE yang setara.

Review ilmiah mengenai keausan ban yang terbit pada Agustus 2026 juga mencatat bahwa massa kendaraan merupakan salah satu faktor penting. Semakin besar bebannya, semakin besar pula tekanan yang bekerja pada bidang kontak antara ban dan jalan.

Sederhananya, semakin berat mobil, semakin besar pekerjaan yang harus dilakukan ban ketika mobil bergerak, menikung, berakselerasi, atau mengerem.

Hal yang sama juga dibahas oleh Bridgestone Indonesia dalam pembahasan mengenai pemilihan ban untuk EV.

Bobot tambahan kendaraan membuat kapasitas beban atau load index menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika memilih ban pengganti.

Jadi ketika ban EV waktunya diganti, jangan hanya melihat diameter dan lebarnya karena “kelihatannya sama”.

Spesifikasi ban yang direkomendasikan produsen kendaraan tetap menjadi acuan.

Torsi Instan: Menyenangkan, tapi Ban Kerja Keras

Ada satu hal yang biasanya membuat orang langsung tersenyum ketika pertama kali mencoba mobil listrik.

Lampu merah berubah hijau.

Pedal diinjak agak dalam.

Mobil langsung melesat.

Tidak perlu menunggu putaran mesin naik. Motor listrik mampu memberikan torsi besar sejak putaran sangat rendah. Inilah salah satu alasan EV terasa begitu responsif, bahkan ketika kecepatan masih rendah.

Masalahnya, semua tenaga itu pada akhirnya harus diteruskan ke aspal melalui empat ban.

Review ilmiah 2026 mengenai tire abrasion menjelaskan bahwa karakter torsi yang tinggi dapat meningkatkan gaya longitudinal pada ban, terutama ketika berakselerasi.

Gaya berkendara juga ikut menentukan. Akselerasi cepat dan pengereman mendadak dapat mempercepat keausan ban.

Bridgestone Indonesia juga menyebut torsi instan sebagai salah satu karakter EV yang dapat meningkatkan laju keausan ban.

Tapi tentu saja ini bukan berarti pemilik EV tidak boleh menikmati akselerasinya.

Tekanan Angin dan Alignment Sering Terlupakan

Ada dua hal yang terdengar sangat biasa, tetapi pengaruhnya bisa besar:

Tekanan ban dan alignment.

Ditambah rotasi ban serta kondisi permukaan jalan.

Semuanya berlaku pada mobil listrik maupun mobil bensin.

Ban yang terus digunakan dengan tekanan tidak sesuai bisa mengalami pola keausan yang tidak ideal. Begitu juga roda yang alignment-nya berubah setelah menghantam lubang atau mengalami benturan keras.

Dari dalam kabin mungkin mobil masih terasa baik-baik saja. Tetapi di permukaan ban, bagian tertentu bisa perlahan terkikis lebih cepat.

Jadi ketika membicarakan umur ban EV, rasanya kurang tepat kalau semua kesalahan langsung ditujukan kepada baterai atau motor listrik.


Apakah Motor Listrik Sendiri yang Membuat Ban Cepat Habis?

Di sinilah ceritanya menjadi semakin menarik.

Sebuah review ilmiah terbaru tentang keausan ban di era elektrifikasi yang diterbitkan Wiley pada 24 Agustus 2026 merangkum berbagai penelitian mengenai EV, hybrid, dan kendaraan ICE.

Salah satu pengujian yang dibahas menggunakan BMW iX1 listrik dan BMW X1 bermesin pembakaran, dua kendaraan yang berasal dari platform yang sama.

Keduanya menggunakan ban dengan ukuran identik, 245/45 R19 102Y.

Mobil-mobil tersebut dikendarai sejauh 15.000 kilometer selama delapan minggu dalam kondisi konvoi. Cara ini digunakan untuk mengurangi perbedaan yang muncul akibat gaya mengemudi dan kondisi lingkungan.

Setelah kehilangan massa ban dinormalisasi berdasarkan beban kendaraan, tingkat keausan BEV dan ICE secara umum ditemukan cukup serupa.

Menariknya, salah satu konfigurasi ban pada BEV tetap mencatat angka normalized wear yang tinggi.

Review tersebut kemudian menekankan bahwa keausan ban dipengaruhi banyak faktor sekaligus, desain dan kompon ban, bobot kendaraan, karakter torsi, gaya berkendara, permukaan jalan, tekanan angin, alignment, temperatur, sampai strategi kontrol kendaraan.

Jadi memang tidak sesederhana:

“Listrik = ban cepat habis.”

Kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu.


Kalau Dipakai di Indonesia, Bagaimana?

Nah, bagian ini perlu sedikit hati-hati.

Data publik Indonesia yang membandingkan EV dan mobil bensin secara head-to-head, dengan mobil sekelas, ban yang sama, rute sama, jarak panjang, dan metode pengukuran keausan yang sama, masih terbatas.

Karena itu, angka dari penelitian luar negeri tadi sebaiknya tidak langsung ditempel begitu saja ke kondisi jalan Indonesia.

Pemakaian sehari-hari di sini punya ceritanya sendiri.

Ada kemacetan stop-and-go yang membuat mobil berkali-kali berhenti lalu berakselerasi lagi.

Ada jalan bergelombang.

Ada lubang yang baru terlihat ketika jaraknya sudah terlalu dekat.

Ada juga polisi tidur dengan bentuk dan tinggi yang kadang sulit ditebak.

Ketika roda menghantam lubang atau polisi tidur terlalu keras, yang perlu diperhatikan bukan hanya ban. Kondisi roda, kaki-kaki, dan alignment juga bisa ikut terdampak.

Pada EV, ada perhatian tambahan karena baterai biasanya ditempatkan di bawah lantai. Karena itu, cara melewati polisi tidur dengan mobil listrik juga perlu mempertimbangkan kecepatan, ground clearance, wheelbase, muatan, dan kondisi jalan.

Artinya, umur ban EV di Jakarta, Surabaya, Bandung, atau kota lain belum tentu sama dengan angka yang ditemukan dalam pengujian di Korea Selatan, Prancis, maupun data armada di Inggris.

Dan justru karena itulah, kondisi ban mobil sendiri jauh lebih penting daripada sekadar menghafal angka rata-rata dari internet.


Bagaimana Supaya Ban Mobil Listrik Tidak Cepat Habis?

Tidak perlu menjadi ahli ban untuk mulai merawatnya.

Sederhana saja.

Periksa tekanan angin secara berkala dan gunakan rekomendasi dari produsen kendaraan. Jangan menunggu sampai ban terlihat kempis, karena perubahan tekanan tidak selalu bisa dikenali hanya dengan melihatnya.

Perhatikan juga apakah keausan tapak terjadi secara merata.

Kalau satu sisi terlihat jauh lebih cepat habis, atau mobil mulai terasa cenderung menarik ke satu arah, pemeriksaan alignment layak dilakukan.

Rotasi ban juga perlu mengikuti rekomendasi kendaraan atau produsen ban, bila memang direkomendasikan untuk konfigurasi tersebut.

Saat waktunya mengganti ban, ukuran saja tidak cukup. Pastikan load index, speed rating, konstruksi, dan spesifikasi lainnya sesuai dengan ketentuan kendaraan.

Dan mungkin ada satu tips yang paling murah:

tidak harus selalu menghabiskan seluruh torsi yang tersedia setiap kali lampu berubah hijau.

EV tetap akan terasa menyenangkan meskipun pedal akselerator diinjak sedikit lebih halus.


Kalau Ban Bisa Lebih Cepat Aus, Apakah EV Jadi Lebih Mahal Dirawat?

Ini pertanyaan yang muncul setelah mengetahui semua tadi.

Kalau ban adalah salah satu komponen yang cukup mahal dan ada kemungkinan harus diganti lebih sering, apakah keunggulan biaya perawatan EV akhirnya hilang?

Belum tentu.

Ban memang layak masuk dalam perhitungan biaya kepemilikan mobil listrik. Tetapi satu komponen saja tidak cukup untuk menggambarkan seluruh biaya perawatan kendaraan.

EV tidak memiliki sejumlah komponen rutin pada mesin pembakaran, seperti oli mesin dan busi.

Di sisi lain, ban, suspensi, wiper, sistem AC, filter tertentu, dan berbagai komponen mekanis lainnya tentu tetap membutuhkan perhatian.

Karena itu, akan lebih masuk akal kalau kita melihat perbandingan perawatan mobil listrik dan mobil bensin secara keseluruhan daripada menyimpulkan murah atau mahal hanya berdasarkan satu set ban.

Mungkin ini juga menjadi pengingat bahwa istilah “mobil listrik minim perawatan” bukan berarti “mobil listrik tidak perlu dirawat”.

Rodanya tetap berputar di aspal yang sama.


Jadi, Ban Mobil Listrik Lebih Cepat Habis: Fakta atau Mitos?

Kalau pertanyaannya:

“Apakah ban mobil listrik bisa lebih cepat aus?”

Jawabannya: ya, itu fakta dan bukan sekadar hoaks.

Penelitian maupun data penggunaan nyata memang menunjukkan kecenderungan tersebut dalam kondisi tertentu.

Tetapi kalau pertanyaannya berubah menjadi:

“Apakah semua mobil listrik pasti boros ban?”

Jawabannya: tidak.

Bobot kendaraan punya pengaruh besar. Torsi instan ikut berperan. Begitu juga jenis ban, konstruksi dan compound, tekanan angin, kondisi roda, alignment, karakter jalan, kecepatan, serta cara kendaraan dikemudikan.

Itulah sebabnya dua pemilik mobil listrik yang bahkan menggunakan model yang sama belum tentu mengganti ban pada kilometer yang sama.

Yang satu mungkin setiap hari melewati jalan mulus dan berkendara tenang.

Yang lain setiap pagi berjibaku dengan jalan berlubang, tikungan, polisi tidur, lalu sesekali menikmati akselerasi penuh ketika jalan sedang kosong.

Mobilnya sama.

Cerita bannya bisa berbeda.

Pada akhirnya, mobil listrik memang mengubah beberapa kebiasaan kita sebagai pemilik kendaraan.

Kita mungkin lebih jarang memikirkan oli mesin, busi, atau suara mesin yang mulai kasar. Tetapi sebagai gantinya, ada hal-hal lain yang mulai layak diperhatikan lebih serius, baterai, cara charging, tekanan angin, dan kondisi empat ban yang menjadi satu-satunya bagian mobil yang terus bersentuhan langsung dengan jalan.

Jadi ketika seseorang berkata, “mobil listrik itu boros ban”, mungkin kita tidak perlu buru-buru membantah.

Tapi juga tidak perlu langsung percaya.

Potensinya memang ada. Seberapa cepat ban akhirnya habis tetap dipengaruhi bukan hanya oleh apa yang menggerakkan mobil, tetapi juga oleh mobilnya, bannya, jalan yang dilewati, dan orang yang duduk di balik kemudi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *