
Kapan Lailatul Qadar Terjadi dan Mengapa Malam Ini Begitu Istimewa?
Bagi banyak orang, sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan selalu terasa sedikit berbeda. Masjid biasanya lebih ramai. Orang-orang mulai lebih sering i’tikaf, membaca Al-Qur’an, atau sekadar duduk lebih lama setelah shalat malam.
Ada satu alasan yang membuat suasana itu terasa lebih hidup, yaitu Lailatul Qadar.
Malam ini sering disebut sebagai malam paling istimewa dalam setahun bagi umat Islam. Tapi sebenarnya, apa itu Lailatul Qadar? Apa artinya? Kapan terjadinya? Dan kenapa malam ini tidak pernah disebutkan tanggal pastinya?
Yuk pelan-pelan kita pahami.
Apa Itu Lailatul Qadar?
Lailatul Qadar adalah malam yang sangat mulia di bulan Ramadhan. Malam ini disebut langsung dalam Al-Qur’an dan digambarkan sebagai malam yang nilainya jauh lebih besar daripada waktu yang sangat panjang.
Allah SWT berfirman:
“Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
— QS. Al-Qadr ayat 3
Seribu bulan itu kira-kira setara dengan lebih dari 83 tahun. Artinya, satu malam ibadah pada malam tersebut bisa bernilai lebih baik daripada ibadah selama 83 tahun lebih.
Nggak heran jika banyak orang mencoba memaksimalkan ibadah pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan dengan harapan bisa mendapatkan keberkahan malam ini.
Apa Arti “Lailatul Qadar”?
Secara bahasa, istilah ini terdiri dari dua kata:
- Lailah berarti malam
- Qadr memiliki beberapa makna seperti kemuliaan, ketetapan, atau takdir
Para ulama menjelaskan bahwa kata qadr dalam konteks ini bisa mengandung beberapa makna sekaligus. Lailatul Qadar bisa dipahami sebagai:
- malam yang sangat mulia
- malam penuh keberkahan
- malam ketika berbagai ketetapan ditetapkan oleh Allah SWT
Hal ini juga disinggung dalam Al-Qur’an:
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
— QS. Ad-Dukhan ayat 4
Karena itulah malam ini sering dipandang sebagai malam yang penuh kedamaian, keberkahan, dan kesempatan untuk mendekat diri kepada Allah SWT.
Kapan Terjadinya Lailatul Qadar?
Ini pertanyaan yang hampir selalu muncul setiap Ramadhan.
Menariknya, Al-Qur’an tidak menyebutkan tanggal pasti. Nabi Muhammad ﷺ juga tidak menetapkan satu malam tertentu.
Yang beliau ajarkan justru sebuah petunjuk yang lebih luas.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.”
— HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim
Artinya, malam tersebut bisa terjadi pada salah satu dari sepuluh malam terakhir.
Namun ada petunjuk tambahan dalam hadis lain:
“Carilah pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.”
— HR. Sahih Bukhari
Karena itulah banyak orang biasanya lebih fokus pada malam:
- 21 Ramadhan
- 23 Ramadhan
- 25 Ramadhan
- 27 Ramadhan
- 29 Ramadhan
Meski begitu, para ulama juga mengingatkan bahwa ini bukan kepastian mutlak. Malam tersebut bisa saja berpindah-pindah dari tahun ke tahun.
Kenapa Disebut Malam Ganjil?
Dalam praktiknya, malam ganjil dihitung dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Jika Ramadhan berjumlah 30 hari, maka sepuluh malam terakhir dimulai dari malam ke-21. Dari sana muncul malam ganjil yang sering disebut orang.
Namun ada juga hadis yang menyebutkan untuk mencarinya pada sembilan malam terakhir atau tujuh malam terakhir. Karena itu sebagian ulama menjelaskan bahwa perhitungan dari belakang juga bisa membuat malam genap menjadi “ganjil” jika dilihat dari akhir Ramadhan.
Inilah sebabnya sebagian ulama menyarankan agar tidak hanya fokus pada satu atau dua malam saja.
Lebih aman menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir.
Bagaimana Jika Awal Ramadhan Berbeda?
Pertanyaan ini sering muncul di banyak tempat, termasuk di Indonesia.
Kadang ada perbedaan penentuan awal Ramadhan karena metode penentuan hilal yang berbeda. Akibatnya ada yang mulai puasa lebih dulu, sementara yang lain sehari setelahnya.
Perbedaan ini otomatis membuat hitungan malam ganjil juga ikut berbeda.
Malam yang dianggap tanggal 21 oleh banyak orang bisa saja menjadi tanggal 20 bagi orang lain.
Apakah ini masalah?
Sebagian besar ulama menjelaskan bahwa tidak ada masalah dalam hal ini. Setiap Muslim cukup mengikuti penentuan Ramadhan di tempatnya masing-masing.
Yang terpenting bukan tanggal pastinya, tetapi kesungguhan dalam mencari malam tersebut.
Apakah Lailatul Qadar Berkaitan dengan 17 Ramadhan?
Di beberapa tempat, tanggal 17 Ramadhan sering dikaitkan dengan turunnya Al-Qur’an. Namun jika melihat dalil yang ada, Al-Qur’an sendiri tidak menyebut tanggal tersebut secara spesifik.
Yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah bahwa kitab suci ini diturunkan pada bulan Ramadhan:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”
— QS. Al-Baqarah ayat 185
Dan juga disebutkan bahwa penurunannya berkaitan dengan Lailatul Qadar:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.”
— QS. Al-Qadr ayat 1
Para ulama kemudian menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap: pertama secara keseluruhan ke langit dunia pada Lailatul Qadar, kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ selama sekitar 23 tahun.
Karena itu, Lailatul Qadar tetap berada dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Mengapa Tanggal Lailatul Qadar Tidak Diberitahukan?
Ada satu kisah menarik dalam hadis.
Nabi Muhammad ﷺ pernah keluar untuk memberitahukan kepada para sahabat tentang kapan Lailatul Qadar terjadi. Namun kemudian pengetahuan tentang malam tersebut tidak jadi disampaikan.
Dalam hadis disebutkan:
Nabi Muhammad ﷺ keluar untuk memberitahukan kapan Lailatul Qadar, tetapi kemudian Rosulullah ﷺ bertemu dengan dua orang yang berselisih, sehingga pengetahuan itu diangkat.
— HR. Sahih Bukhari
Sebagian ulama melihat ini sebagai hikmah.
Jika tanggalnya pasti, mungkin banyak orang yang hanya akan beribadah pada satu malam saja. Dengan tidak disebutkan secara pasti, umat Islam didorong untuk menghidupkan lebih banyak malam dengan beribadah.
Dan mungkin di situlah letak keindahannya.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi waktu yang terasa lebih hidup – lebih banyak doa, lebih banyak harapan, dan lebih banyak usaha untuk mendekat kepada Allah SWT.
Mencari, Bukan Menentukan
Pada akhirnya, Lailatul Qadar bukan malam yang harus ditebak dengan pasti.
Ia adalah malam yang dicari.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri memberi contoh dengan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir. Bahkan disebutkan bahwa beliau bersungguh-sungguh pada malam-malam tersebut melebihi malam lainnya. Mungkin itulah pesan yang paling sederhana:
bukan soal menemukan tanggalnya, tetapi bagaimana kita menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan lebih bermakna.