Adakah Ibadah yang Sengaja Disembunyikan? Tidak Semua yang Baik Perlu Terlihat

Pria tua sedang berdoa dengan tangan menutupi wajah dalam suasana yang tenang

Ada hal yang sering tidak terlihat ketika seseorang beribadah.

Orang bisa melihat seseorang berpuasa. Bisa melihat ia datang ke masjid. Bisa melihat ia memasukkan uang ke kotak sedekah. Bahkan hari ini, orang juga bisa melihat semuanya lewat layar, foto, posting, status, reels, short stories dan potongan aktivitas yang sering dibagikan hampir tanpa jeda.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah benar-benar terlihat utuh oleh manusia, yaitu niat.

Dan justru di situlah letak sesuatu yang paling menentukan.

Ikhlas: Sesuatu yang Tidak Terlihat, Tetapi Menentukan Segalanya

Kadang dua orang melakukan hal yang sama. Sama-sama menahan lapar, sama-sama berdiri dalam shalat malam, sama-sama memberi kepada orang lain. Dari luar tampak serupa. Tetapi di sisi Allah SWT, nilainya bisa sangat berbeda, karena ada satu ruang yang hanya diketahui oleh Dia Yang Maha Tahu, yaitu untuk siapa semua itu dilakukan.

Dalam Al-Qur’an, ada surah yang menggambarkan orang yang memberi makan bukan karena ingin dibalas atau dipuji:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.”

Ayat ini terdapat dalam Surah Al-Insan, ayat 9. Kalimatnya sederhana, tetapi terasa sangat dalam. Karena ternyata sejak zaman dulu, ujian terbesar amal adalah bukan selalu pada beratnya pekerjaan, melainkan apakah hati tetap tenang ketika tidak ada yang tahu.

Mengapa Puasa Begitu Dekat dengan Rahasia Keikhlasan

Ibadah puasa ini unik. Tidak seperti shalat yang gerakannya terlihat, puasa sering berlangsung secara diam-diam. Orang lain mungkin hanya tahu seseorang tidak makan, tetapi tidak pernah tahu bagaimana ia menahan amarah, menahan keinginan membalas, menahan diri dari hal-hal kecil yang biasanya mudah dilakukan.

Karena itu dalam hadis qudsi, Allah SWT menyebut puasa sebagai amal yang istimewa:

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan juga Sahih Muslim.

Banyak ulama menjelaskan bahwa salah satu maknanya adalah karena puasa paling dekat dengan keikhlasan. Orang bisa saja memperlihatkan shalatnya, mengumumkan sedekahnya, tetapi lapar sering kali hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan Allah SWT.

Mungkin karena itu juga, setelah berbicara tentang orang-orang yang berpuasa dan pintu khusus bernama Ar-Rayyan, para ulama sering mengingatkan bahwa jalan menuju pintu itu bukan hanya soal banyaknya hari merasa lapar, tetapi juga bagaimana hati dijaga tetap bersih sepanjang ibadah itu berlangsung.

Sebab kadang yang melelahkan bukan puasanya, tetapi menjaga agar puasa tidak berubah menjadi kebanggaan yang diam-diam disimpan.

Ketika Amal Besar Justru Tidak Ingin Dikenal

Ada kisah lama dari masa peperangan kaum muslimin yang sering diceritakan untuk menggambarkan hal itu.

Dalam sebagian riwayat sejarah, ketika pertempuran sedang berlangsung antara kaum muslimin dan pasukan Romawi, maju seorang penunggang kuda dari pihak muslimin dengan wajah tertutup sorban. Pada masa itu, duel satu lawan satu sebelum perang besar bukan hal yang asing. Seorang ksatria dari pihak lawan maju, lalu orang yang wajahnya bertutup sorban itu mengalahkannya. Maju lagi ksatria berikutnya, kembali ia menang. Hingga beberapa lawan berturut-turut pun tetap tumbang.

Orang-orang ingin tahu siapa dia.

Tetapi wajahnya tetap tertutup.

Ia tidak membuka penutupnya. Tidak memperkenalkan diri. Tidak memberi ruang bagi nama untuk lebih dulu dikenal.

Riwayat detail kisah ini memang datang dari kitab-kitab sejarah, bukan hadis utama yang dijadikan landasan hukum. Namun pelajaran yang sering diambil dari kisah ini tetap terasa kuat, yaitu ada orang yang justru menyembunyikan amal besar karena takut nilainya berkurang ketika orang lain tahu.

Mungkin bagi sebagian orang di hari ini, hal seperti itu terasa sangat jauh.

Sedekah yang Tidak Perlu Diketahui Siapa Pun

Di zaman sekarang menyembunyikan amal besar karena takut nilainya berkurang justru sering terjadi sebaliknya, apa yang baik segera cepat di share, apa yang dilakukan cepat diumumkan, bahkan sebelum yang dilakukan itu selesai dikerjakan.

Padahal dalam hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah SWT pada hari tidak ada naungan lain, selain naungan-Nya, salah satu yang disebut adalah:

seseorang yang bersedekah sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya.

Hadis ini juga terdapat dalam Sahih al-Bukhari.

Ungkapan itu tentu bukan berarti tangan kiri benar-benar tidak tahu, tetapi menggambarkan betapa diamnya amal itu. Betapa ia dijaga agar tidak menjadi tontonan.

Kadang justru di situ letak ketenangan yang sulit dijelaskan.

Memberi tanpa perlu diketahui.

Membantu tanpa perlu disebut.

Berdoa tanpa perlu diceritakan.

Ada sesuatu yang terasa lebih utuh ketika amal tidak segera keluar menjadi cerita.

Bukan berarti semua amal harus disembunyikan. Ada kalanya kebaikan yang terlihat bisa mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Tetapi hati tetap perlu jujur dan bertanya, kalau tidak ada yang melihat, apakah saya masih ingin melakukannya?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi sering tidak mudah dijawab.

Karena manusia memang senang dihargai.

Dan itu wajar. Manusiawi.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai penghargaan manusia menjadi tujuan utama.

Doa Sunyi dan Tetesan Air Mata Senyap

Ada hadis lain yang terasa sangat lembut, yaitu salah satu dari tujuh golongan itu adalah orang yang mengingat Allah SWT sendirian lalu kedua matanya meneteskan air mata.

Bukan di hadapan banyak orang. Bukan dalam suasana yang mengundang perhatian. Hanya sendiri.

Mungkin setelah semua lampu rumah padam.

Mungkin setelah orang lain tidur.

Mungkin setelah satu hari terasa panjang dan melelahkan.

Air mata seperti itu tidak pernah masuk berita. Tidak pernah menjadi cerita besar. Tetapi justru disebut langsung dalam hadis sebagai sesuatu yang bernilai tinggi.

Barangkali karena saat sendiri, manusia tidak sedang memainkan peran apa pun.

Ia hanya dirinya sendiri.

Dan di hadapan Allah SWT, kejujuran seperti itu selalu punya tempat yang sangat besar.

Dalam ibadah sehari-hari, menjaga ikhlas kadang justru berarti melakukan hal kecil secara diam-diam.

Merapikan sandal di masjid tanpa ada yang tahu siapa yang memulai.

Mengirim bantuan kecil tanpa nama.

Mendoakan seseorang tanpa pernah mengatakan bahwa namanya disebut dalam doa.

Hal-hal seperti ini tampak ringan, tetapi justru sering paling sulit dipertahankan karena tidak ada tepuk tangan setelahnya.

Dan mungkin memang begitu cara amal diuji.

Bukan pada seberapa keras terdengar, tetapi pada seberapa tenang ia bertahan meskipun tidak pernah disebut-sebut.

Mungkin Justru Amal yang Sunyi yang Bisa Sampai Lebih Jauh

Pada akhirnya, banyak orang yang berharap amalnya besar.

Tetapi kadang yang benar-benar membesarkan pahala justru bukan amal yang besar di mata manusia, melainkan amal yang paling jujur ketika tidak ada yang melihat.

Bisa jadi satu puasa yang dijaga niatnya, lebih berat daripada banyak hal yang ramai dibicarakan.

Bisa jadi satu sedekah kecil yang tidak pernah diketahui siapa pun, justru lebih dulu sampai ke langit.

Bisa jadi satu doa pendek di malam hari, yang bahkan bibir hanya bergetar pelan, menjadi alasan seseorang diselamatkan dari hal-hal yang tidak pernah ia sadari.

Dan mungkin karena itu, sebagian orang saleh dulu tidak terlalu sibuk memastikan namanya diingat.

Mereka lebih sibuk memastikan bahwa ketika nama mereka tidak disebut orang lain, amal mereka tetap dikenal di hadapan Allah SWT.

Karena pada akhirnya, bukan semua yang tampak yang akan bertahan.

Tetapi apa yang benar-benar ikhlas, meski sunyi, tetapi sering justru paling lama hidupnya.

Kadang dalam bentuk ketenangan.

Kadang dalam bentuk pertolongan yang datang tanpa diduga.

Kadang dalam bentuk pintu yang dibuka pada saat manusia lain tidak tahu dari mana datangnya.

Dan mungkin, di situlah letak keindahan amal yang tidak banyak dibicarakan, ia berjalan pelan, tetapi bisa berjalan sampai jauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *