
Menjelang Hari Raya Idul Adha, suasana biasanya mulai terasa berbeda. Takbir mulai terdengar di masjid-masjid, obrolan tentang qurban semakin ramai, dan media sosial pun dipenuhi ucapan selamat hari raya.
Di tengah suasana itu, muncul pertanyaan sederhana yang ternyata cukup banyak dipikirkan orang, sebenarnya apa saja sunnah yang dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ saat Idul Adha? Apakah ada amalan khusus sebelum sholat Id? Dan bagaimana dengan tradisi maaf-maafan seperti saat Idul Fitri?
Pertanyaan seperti ini sebenarnya wajar. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang bercampur antara ajaran agama, kebiasaan keluarga, dan tradisi masyarakat. Kadang semuanya terasa menyatu sampai sulit dibedakan mana yang benar-benar sunnah dan mana yang sekadar budaya yang sudah turun-temurun dilakukan.
Karena itu, memahami suasana Idul Adha lewat tuntunan yang lebih dekat dengan contoh Nabi ﷺ bisa menjadi sebuah cara yang sederhana untuk menikmati hari raya dengan lebih tenang dan bermakna.
Sunnah-Sunnah Idul Adha yang Dicontohkan Nabi ﷺ
Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan qurban. Ada beberapa amalan yang sejak dulu dikenal sebagai bagian dari sunnah hari raya.
Memperbanyak Takbir Menjelang Hari Raya
Salah satu hal yang paling identik dengan Idul Adha adalah takbir.
Sejak malam hari raya hingga hari-hari tasyrik, kaum muslimin dianjurkan memperbanyak mengingat Allah SWT dengan bertakbir. Suara takbir yang berkumandang sebenarnya bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi bagian dari syiar agama Islam yang sudah ada sejak masa para sahabat.
Allah SWT berfirman:
“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…”
(QS. Al-Hajj: 28)
Takbir biasanya dibaca di rumah, perjalanan menuju tempat sholat, atau setelah sholat wajib. Lafaz yang paling umum terdengar di masyarakat adalah:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillaahil hamd.”
Suasana takbir selalu punya cara tersendiri untuk membuat hati terasa lebih lembut. Ada rasa bahwa hari besar Islam benar-benar sedang datang.
Tidak Makan Sebelum Sholat Idul Adha
Banyak orang tidak sadar bahwa Idul Adha dan Idul Fitri memiliki kebiasaan yang berbeda dalam hal makan sebelum sholat Id.
Kalau saat Idul Fitri Nabi ﷺ dianjurkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat sholat, maka pada Idul Adha beliau justru biasa tidak makan sampai selesai sholat.
Dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan:
“Rasulullah ﷺ tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau pulang lalu makan dari hasil qurbannya.”
Karena itu, para ulama menganjurkan untuk tidak makan sebelum sholat, dan baru makan setelah selesai sholat Idul Adha.
Memakai Pakaian Terbaik dan Bersih
Hari raya dalam Islam juga identik dengan kebersihan dan penampilan yang baik.
Para sahabat Nabi ﷺ dahulu mandi dan memakai pakaian terbaik ketika hari raya tiba. Bukan berarti harus selalu baru atau mewah, tetapi menunjukkan rasa hormat terhadap hari raya dan menjaga kerapian di hadapan sesama muslim.
Kadang hal-hal kecil seperti pakaian bersih, aroma wangi, atau wajah yang cerah justru membuat suasana Idul Adha terasa lebih hangat.
Mengambil Jalan Berbeda Saat Pergi dan Pulang Sholat Id
Ini termasuk sunnah yang sering terlupakan.
Dalam hadits riwayat Bukhari, Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Nabi ﷺ jika hari raya mengambil jalan yang berbeda ketika pergi dan pulang.”
Sebagian ulama menjelaskan hikmahnya agar lebih banyak tempat yang menjadi saksi amal, sekaligus menampakkan syiar Islam kepada masyarakat.
Menyembelih Hewan Qurban Setelah Sholat Idul Adha
Bagi yang berqurban, waktu penyembelihan juga menjadi bagian penting.
Nabi ﷺ bersabda:
“Barang siapa menyembelih sebelum sholat, maka itu hanyalah daging biasa untuk keluarganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, penyembelihan hewan qurban dilakukan setelah sholat Idul Adha selesai.
Menariknya, menjelang Idul Adha biasanya pembahasan tentang qurban juga ikut ramai dibicarakan, termasuk mengenai apakah ibadah qurban hukumnya wajib atau sunnah bagi muslim yang mampu. Pertanyaan seperti itu memang cukup sering muncul setiap tahun, terutama ketika harga hewan qurban mulai naik dan kondisi ekonomi tiap orang berbeda-beda.
Bagaimana Dengan Ucapan Selamat Hari Raya?
Selain soal sunnah Idul Adha, ada juga pertanyaan yang muncul setiap momen Idul Adha, bagaimana hukum mengucapkan selamat hari raya?
Ucapan seperti “Selamat Idul Adha”, “Minal Aidin wal Faizin”, atau “Mohon Maaf Lahir dan Batin” sudah sangat akrab di masyarakat Indonesia.
Dari penjelasan para ulama, ucapan selamat hari raya pada dasarnya dibolehkan. Bahkan ada atsar dari sebagian sahabat yang saling mengucapkan:
“Taqabbalallahu minna wa minkum”
(Semoga Allah menerima amal kami dan kalian)
Karena itu, banyak ulama memandang ucapan seperti ini sebagai bentuk doa dan hubungan baik antar sesama muslim.
Yang penting, ucapan tersebut tidak diyakini sebagai ritual wajib tertentu dalam agama.
Apakah Tradisi Maaf-Maafan Saat Hari Raya Ada Contohnya?
Ini bagian yang sering membuat orang penasaran.
Di Indonesia, suasana hari raya hampir selalu identik dengan saling meminta maaf. Bahkan kadang ada yang merasa ada sesuatu yang kurang kalau belum berjabat tangan dengan keluarga besar.
Lalu bagaimana sebenarnya pandangan ulama tentang hal ini?
Secara umum, meminta maaf tentu termasuk akhlak yang baik. Islam memang menganjurkan memperbaiki hubungan, menghilangkan permusuhan, dan menjaga silaturahim.
Namun para ulama juga menjelaskan bahwa tidak ada hadits shahih khusus yang menunjukkan Nabi ﷺ membuat ritual maaf-maafan tertentu setelah sholat Id.
Artinya, tradisi saling meminta maaf boleh saja dilakukan sebagai adat dan kebiasaan baik di masyarakat. Tetapi jangan sampai diyakini sebagai bagian ibadah khusus yang wajib ada saat hari raya.
Di sinilah biasanya para ulama membedakan antara sunnah dan tradisi.
Tradisi yang baik tidak selalu salah. Tetapi tradisi juga tidak otomatis menjadi ibadah.
Perbedaannya memang tipis, tetapi penting dipahami agar seseorang bisa menjalankan agama dengan lebih tenang tanpa mudah merasa paling benar atau justru mudah menyalahkan orang lain.
Membedakan Antara Sunnah dan Tradisi
Mungkin ini justru bagian yang paling menarik dari pembahasan Idul Adha.
Kadang kita terlalu sibuk memperdebatkan mana yang sunnah dan mana yang budaya, sampai lupa bahwa hari raya sendiri seharusnya menjadi momen untuk melembutkan hati.
Ada orang yang sangat menjaga sunnah-sunnah Idul Adha. Ada juga yang mungkin belum memahami dalil secara mendalam, tetapi tetap berusaha membahagiakan keluarga, menyambung hubungan yang renggang, atau berbagi daging qurban dengan tetangga.
Semua itu tentu tidak bisa disamaratakan begitu saja.
Islam memang mengajarkan pentingnya mengikuti tuntunan Nabi ﷺ. Tetapi pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan adab, kelembutan, dan kebijaksanaan dalam melihat manusia lain.
Barangkali karena itulah suasana Idul Adha selalu terasa lebih dalam daripada sekadar perayaan tahunan.
Ada suara takbir yang mengingatkan manusia tentang kebesaran Allah SWT. Ada kisah pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang membuat orang kembali memikirkan tentang keikhlasan. Ada daging qurban yang dibagikan kepada orang lain. Dan ada momen-momen sederhana ketika keluarga berkumpul setelah sekian lama sibuk dengan urusan masing-masing.
Pada akhirnya, mungkin yang paling penting bukan sekadar seberapa banyak tradisi yang dilakukan atau ditinggalkan. Tetapi apakah hari raya benar-benar membuat hati menjadi lebih dekat kepada Allah SWT dan lebih lembut kepada sesama manusia.
Karena sering kali, makna terbesar dari hari raya justru hadir dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan tulus.