Apa Itu Hari Tasyrik? Kenapa Tidak Boleh Puasa Setelah Idul Adha?

Jamaah duduk bertakbir setelah sholat fardhu di masjid saat Hari Tasyrik

Setelah sholat Idul Adha selesai dan orang-orang mulai pulang dari masjid atau lapangan, suasana hari raya biasanya belum benar-benar usai. Di dapur rumah, aroma masakan daging qurban mulai tercium. Di gang-gang kecil, anak-anak masih bermain sambil mengenakan baju terbaik mereka. Sementara dari kejauhan, gema takbir kadang masih terdengar setelah sholat fardhu.

Banyak orang mengira Idul Adha hanya berlangsung satu hari, padahal dalam Islam masih ada tiga hari istimewa setelahnya yang dikenal sebagai Hari Tasyrik.

Hari-hari ini sering dilewati begitu saja tanpa benar-benar dipahami maknanya. Padahal, ada pesan yang sangat hangat di dalamnya, tentang rasa syukur, kebersamaan, dzikir, dan menikmati nikmat Allah SWT tanpa melupakan ibadah.

Lalu sebenarnya apa itu Hari Tasyrik? Kenapa umat Islam tidak boleh puasa pada hari tersebut? Dan mengapa takbir setelah sholat masih terus dianjurkan sampai beberapa hari setelah Idul Adha?


Apa Itu Hari Tasyrik?

Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah.

Kalau diurutkan:

  • 10 Dzulhijjah → Hari Raya Idul Adha
  • 11, 12, 13 Dzulhijjah → Hari Tasyrik

Karena datang tepat setelah Idul Adha, suasana Hari Tasyrik masih sangat lekat dengan:

  • penyembelihan hewan qurban,
  • pembagian daging,
  • kumpul keluarga,
  • dan gema takbir.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang berbilang.”
(QS. Al-Baqarah: 203)

Banyak ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “hari-hari yang berbilang” dalam ayat tersebut adalah Hari Tasyrik.

Karena itu, Hari Tasyrik bukan sekadar hari biasa setelah Idul Adha, tetapi hari yang dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan rasa syukur.


Kenapa Disebut “Tasyrik”?

Nama “Tasyrik” ternyata punya cerita yang cukup menarik.

Kata tasyrik berasal dari bahasa Arab yang berkaitan dengan aktivitas menjemur sesuatu di bawah sinar matahari. Pada masa dahulu, masyarakat Arab biasa memotong daging qurban menjadi bagian kecil lalu menjemurnya agar lebih tahan lama.

Proses itu dikenal dengan istilah tasyriq al-lahm.

Karena aktivitas tersebut banyak dilakukan setelah Idul Adha, akhirnya hari-hari itu dikenal sebagai Hari Tasyrik.

Kalau dipikir-pikir, istilah ini membuat Hari Tasyrik terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata umat Islam sejak zaman dahulu. Ada suasana dapur yang sibuk, orang-orang saling berbagi makanan, dan rasa syukur yang terasa sederhana tetapi hangat.

Bahkan sampai sekarang, nuansa itu masih terasa di banyak tempat di Indonesia. Setelah Idul Adha, rumah-rumah biasanya masih ramai dengan olahan sate, gulai, atau rendang qurban yang dimasak bersama keluarga.


Hubungan Hari Tasyrik dengan Idul Adha

Hari Tasyrik sebenarnya masih menjadi bagian dari rangkaian Idul Adha.

Kalau Idul Adha adalah puncak perayaannya, maka Hari Tasyrik adalah suasana hangat yang datang setelahnya. Pada hari-hari ini, penyembelihan qurban masih diperbolehkan hingga matahari terbenam tanggal 13 Dzulhijjah.

Karena itu, pembahasan tentang Hari Tasyrik hampir selalu berkaitan dengan qurban dan amalan di bulan Dzulhijjah. Banyak orang juga mulai mencari tahu tentang hukum qurban dan keutamaannya di momen ini, termasuk pertanyaan apakah qurban itu wajib atau sunnah menurut mayoritas ulama.

Selain itu, Hari Tasyrik juga menjadi penutup dari rangkaian ibadah mulia di bulan Dzulhijjah yang sejak awal sudah dipenuhi banyak amalan utama. Tidak sedikit orang yang mencoba menjaga suasana ibadah tersebut agar tidak langsung hilang begitu Idul Adha selesai.


Kenapa Hari Tasyrik Tidak Boleh Puasa?

Salah satu hal yang paling sering ditanyakan tentang Hari Tasyrik adalah soal larangan puasa.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Hari Tasyrik bukan hari untuk menahan makan dan minum, tetapi hari untuk menikmati nikmat Allah SWT sambil tetap berdzikir.

Dalam hadits shahih, Nabi ﷺ bersabda:

“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”
(HR. Muslim)

Karena itu, mayoritas ulama menjelaskan bahwa puasa pada Hari Tasyrik tidak diperbolehkan, kecuali dalam keadaan tertentu yang berkaitan dengan ibadah haji.

Ada sisi yang terasa sangat manusiawi dari ajaran ini. Islam tidak selalu berbicara tentang menahan diri. Ada waktu untuk berpuasa seperti Ramadhan atau Arafah, tetapi ada juga waktu untuk menikmati nikmat Allah SWT sebagai bentuk rasa syukur.

Mungkin itulah sebabnya suasana Hari Tasyrik terasa berbeda. Orang-orang makan bersama, saling berbagi daging qurban, berkumpul dengan keluarga, tetapi tetap dianjurkan memperbanyak dzikir.


Amalan yang Dianjurkan di Hari Tasyrik

Meski identik dengan makan dan suasana kumpul keluarga, Hari Tasyrik tetap dipenuhi amalan ibadah.

Beberapa amalan yang dianjurkan di antaranya:

  • memperbanyak dzikir,
  • membaca takbir,
  • menikmati dan membagikan daging qurban,
  • menjaga silaturahmi,
  • serta memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT.

Sayangnya, ada beberapa sunnah Idul Adha yang sering terlupakan karena banyak orang mengira suasana ibadah sudah selesai setelah sholat Id.

Padahal justru di hari-hari setelah Idul Adha inilah gema dzikir dan takbir masih dianjurkan untuk terus hidup.


Apa Itu Takbir Muqayyad Setelah Sholat?

Di banyak masjid, takbir masih terdengar setelah sholat wajib setelah Idul Adha berlalu. Takbir ini dikenal sebagai takbir muqayyad.

Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah sholat fardhu pada waktu tertentu di bulan Dzulhijjah.

Berbeda dengan takbir mutlak yang bisa dibaca kapan saja, takbir muqayyad lebih khusus karena dilakukan setelah sholat wajib.

Di antara lafaz takbir yang paling sering dibaca adalah:

Allahu Akbar Allahu Akbar,
Laa ilaaha illallaah,
wallaahu Akbar Allahu Akbar,
wa lillaahil hamd.

Artinya:

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.”

Kapan Takbir Hari Tasyrik Dimulai?

Menurut banyak ulama, takbir setelah sholat bagi yang tidak sedang berhaji dimulai sejak Subuh tanggal 9 Dzulhijjah atau Hari Arafah hingga Ashar tanggal 13 Dzulhijjah.

Amalan ini didasarkan pada praktik para sahabat Nabi ﷺ yang memperbanyak takbir pada hari-hari tersebut.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khattab رضي الله عنه bertakbir di Mina, lalu orang-orang ikut bertakbir hingga suasana dipenuhi gema takbir dari berbagai arah.

Karena itu, Hari Tasyrik pada masa para sahabat dikenal sebagai hari-hari yang hidup dengan dzikir:

  • di masjid,
  • di jalan,
  • bahkan di pasar.

Pandangan Ulama tentang Takbir Setelah Sholat

Banyak ulama menjelaskan bahwa takbir setelah sholat pada Hari Tasyrik termasuk sunnah yang dianjurkan.

Ulama seperti, Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu Utsaimin, menjelaskan pentingnya menghidupkan syiar takbir di hari-hari tersebut.

Namun dalam praktiknya, banyak ulama juga menerangkan bahwa takbir dilakukan masing-masing, bukan dengan pola komando bersama secara terus-menerus seperti koor tetap.

Artinya, suasana takbir tetap hidup dan terdengar ramai, tetapi tidak harus dibaca seragam dalam satu suara.


Hari Tasyrik dan Hal-Hal Sederhana yang Sering Dirindukan

Ada sesuatu yang terasa hangat dari Hari Tasyrik.

Mungkin karena suasananya berbeda dari hari-hari biasa. Takbir masih terdengar setelah sholat, aroma masakan daging qurban masih memenuhi rumah, dan orang-orang masih saling berkunjung.

Di beberapa kampung, suasana seperti ini bahkan terasa lebih akrab daripada hari raya itu sendiri. Anak-anak bermain di halaman masjid, orang tua berbincang setelah sholat, sementara sebagian warga masih sibuk membagikan daging qurban kepada tetangga yang belum sempat menerima.

Hari Tasyrik seperti mengingatkan bahwa ibadah dalam Islam tidak selalu terasa berat dan sunyi. Ada momen ketika dzikir berjalan berdampingan dengan kebersamaan, makanan hangat, dan rasa syukur sederhana.

Dan di situlah letak keindahannya.

Bahwa setelah hari raya berlalu, Allah SWT masih memberi beberapa hari tambahan agar manusia tidak terlalu cepat kembali sibuk dengan urusan dunia. Masih ada waktu untuk mendengar gema takbir, duduk bersama keluarga, berbagi makanan, dan mengingat bahwa nikmat sederhana pun bisa menjadi bentuk ibadah jika disertai rasa syukur.

Dan yang paling membekas dari sebuah hari raya bukan hanya sholat Id atau ramainya takbir di pagi hari, tetapi suasana hangat setelahnya yang membuat hati merasa tenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *