Burung Hitam Ada di Mana-Mana di Singapura, Tapi Kenapa Tidak Ada yang Menangkapnya?

Burung Javan Myna berparuh kuning berjalan di trotoar kawasan perkotaan Singapura di antara pejalan kaki.

Saat berjalan-jalan di Singapura, ada satu hal kecil yang mungkin luput dari perhatian sebagian orang, tetapi cukup membuat penasaran jika diamati lebih lama.

Bukan gedung pencakar langitnya. Bukan juga MRT yang terkenal rapi dan tepat waktu.

Melainkan burung-burung hitam yang tampak berkeliaran hampir di mana-mana.

Mereka berjalan santai di trotoar, mencari makan di taman, bertengger di pagar, bahkan sesekali terlihat mendekati area makan yang ramai pengunjung. Sebagian berwarna hitam dengan paruh kuning mencolok, sementara sebagian lainnya tampak seperti gagak dengan warna lebih gelap.

Yang membuat fenomena ini semakin menarik, burung-burung tersebut terlihat sangat terbiasa dengan kehadiran manusia. Mereka tidak mudah terbang saat ada orang lewat. Bahkan terkadang justru mendekat.

Lalu muncul pertanyaan  yang mungkin pernah terlintas di benak banyak wisatawan.

Kenapa jumlah burung di Singapura terlihat begitu banyak? Dan mengapa tidak ada yang menangkap atau mengusir mereka?

Menariknya, pemandangan burung-burung tersebut sudah bisa ditemui sejak awal tiba di Singapura. Wisatawan yang menggunakan MRT dari Bandara Changi menuju pusat kota kerap melihat burung berkeliaran di area terbuka, taman kota, hingga lingkungan perumahan yang dilalui sepanjang perjalanan. Kehadiran mereka seolah menjadi bagian dari keseharian kota yang dikenal modern sekaligus hijau ini.


Burung Hitam Apa yang Sering Terlihat di Singapura?

Banyak orang langsung menyebut semua burung hitam di Singapura sebagai gagak. Padahal, tidak semuanya adalah gagak.

Salah satu burung yang paling sering terlihat justru adalah Javan Myna, atau yang di Indonesia lebih dikenal sebagai jalak jawa atau jalak kerbau.

Burung ini memiliki ciri khas berupa tubuh berwarna gelap dengan paruh dan kaki berwarna kuning terang. Mereka sering terlihat berjalan di tanah, mencari sisa makanan, atau bergerombol di area terbuka.

Karena warna tubuhnya dominan hitam, wisatawan sering mengira burung ini adalah gagak.

Selain Javan Myna, ada juga House Crow atau gagak rumah yang memang banyak ditemukan di Singapura. Ukurannya sedikit lebih besar dan penampilannya lebih mirip gagak yang dikenal masyarakat pada umumnya.

Kedua jenis burung inilah yang paling sering mencuri perhatian para pengunjung.


Kenapa Populasi Burung di Singapura Terlihat Sangat Banyak?

Ada beberapa alasan mengapa burung-burung tersebut berkembang cukup baik di Singapura.

Yang pertama adalah lingkungan kota yang mendukung.

Meski dikenal sebagai negara dengan gedung tinggi dan kawasan bisnis modern, Singapura juga memiliki banyak taman, jalur hijau, pepohonan rindang, dan ruang terbuka yang terawat dengan baik.

Pemerintah Singapura selama bertahun-tahun mengembangkan konsep kota yang menyatu dengan alam. Karena itu, tidak sulit menemukan area hijau bahkan di tengah kawasan perkotaan yang padat.

Bagi burung, kondisi seperti ini sangat ideal.

Mereka memiliki tempat bertengger, tempat bersarang, serta area yang cukup aman untuk berkembang biak.

Alasan kedua adalah ketersediaan makanan.

Di kota yang dihuni jutaan orang, selalu ada sumber makanan yang dapat dimanfaatkan oleh burung. Mulai dari sisa makanan manusia, area pusat jajanan, hingga serangga yang hidup di taman-taman kota.

Burung seperti Javan Myna dikenal sangat cerdas dan mudah beradaptasi. Mereka mampu memanfaatkan berbagai sumber makanan yang tersedia di lingkungan perkotaan.

Ditambah lagi, predator alami yang biasa memangsa burung relatif sedikit ditemukan di area kota.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat populasi mereka dapat bertahan dan berkembang dengan baik.


Javan Myna yang Berasal dari Jawa, Kok Bisa Sampai Singapura?

Salah satu fakta menarik adalah asal-usul Javan Myna itu sendiri.

Sesuai namanya, burung ini memang berasal dari Pulau Jawa dan beberapa wilayah di Indonesia.

Namun para peneliti meyakini bahwa populasi besar Javan Myna di Singapura bukan terjadi karena mereka terbang sendiri menyeberangi laut dari Jawa dalam jumlah besar.

Javan Myna bukan termasuk burung migran jarak jauh.

Sebaliknya, banyak ahli berpendapat bahwa spesies ini kemungkinan diperkenalkan ke Singapura oleh manusia pada masa lalu, baik melalui perdagangan burung maupun aktivitas pelayaran yang ramai di kawasan Asia Tenggara.

Setelah berhasil beradaptasi dengan lingkungan setempat, populasi mereka berkembang pesat hingga menjadi salah satu burung perkotaan yang paling umum ditemui di Singapura saat ini.

Menariknya, burung yang namanya berasal dari Jawa justru kini menjadi bagian yang sangat akrab dari lanskap kota Singapura.


Kenapa Tidak Ada yang Menangkap Burung-Burung Itu?

Pertanyaan ini cukup sering muncul dari wisatawan.

Apalagi bagi orang yang berasal dari daerah yang masih memiliki tradisi memelihara atau menangkap burung.

Namun di Singapura, satwa liar tidak bisa ditangani sembarangan.

Ada aturan dan pengelolaan khusus yang mengatur bagaimana masyarakat berinteraksi dengan satwa liar.

Karena itulah kita jarang melihat orang secara bebas menangkap burung yang berkeliaran di ruang publik.

Selain faktor hukum, sebagian besar warga juga sudah terbiasa hidup berdampingan dengan berbagai jenis satwa perkotaan.

Burung menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari sebagaimana pepohonan, taman, dan jalur pejalan kaki.

Bagi banyak warga, keberadaan burung bukan sesuatu yang aneh.

Mereka sudah menjadi bagian dari wajah kota.


Tidak Semua Burung Selalu Disukai

Meski demikian, bukan berarti semua burung selalu diterima tanpa masalah.

Khusus untuk House Crow atau gagak rumah, pemerintah Singapura pernah menghadapi tantangan cukup besar akibat ledakan populasi spesies ini.

Pada akhir abad ke-20, jumlah gagak meningkat tajam.

Keluhan masyarakat pun mulai bermunculan.

Sebagian warga mengeluhkan suara yang bising ketika ratusan gagak berkumpul di pohon-pohon tertentu saat sore hari.

Ada pula masalah kotoran burung yang menumpuk di area publik.

Beberapa gagak bahkan dikenal suka mengacak kantong sampah untuk mencari makanan.

Karena alasan itulah pemerintah menjalankan berbagai program pengendalian populasi, mulai dari pengelolaan sumber makanan, pengangkatan sarang, pemasangan perangkap, hingga metode lain yang dianggap perlu.

Tujuannya bukan untuk menghilangkan semua burung, melainkan menjaga keseimbangan agar keberadaan mereka tidak mengganggu kehidupan masyarakat maupun ekosistem setempat.


Hidup Berdampingan dengan Alam di Tengah Kota Modern

Jika diperhatikan lebih jauh, fenomena banyaknya burung di Singapura sebenarnya mencerminkan suatu hal yang cukup unik.

Di banyak kota besar dunia, satwa liar semakin sulit ditemukan karena ruang hidup mereka terus berkurang.

Namun di Singapura, Anda masih bisa melihat burung, tupai, biawak, berang-berang, hingga berbagai jenis satwa lain hidup berdampingan dengan manusia.

Tentu tidak selalu sempurna.

Kadang ada konflik, ada gangguan, dan ada kebutuhan untuk mengendalikan populasi spesies tertentu.

Tetapi secara umum, keberadaan satwa liar tetap menjadi bagian dari kehidupan kota.

Mungkin karena itulah suasana Singapura sering terasa berbeda.

Di satu sisi sangat modern.

Di sisi lain masih menyisakan ruang bagi kehidupan alam untuk tetap hadir di tengah hiruk-pikuk perkotaan.


Memperlakukan Hewan Dengan Baik

Menariknya, Islam juga memberikan perhatian terhadap cara manusia memperlakukan hewan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pada setiap makhluk hidup yang memiliki hati yang basah (bernyawa), terdapat pahala.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini disampaikan dalam konteks seseorang yang berbuat baik kepada seekor hewan yang kehausan.

Pesannya sederhana namun mendalam.

Bahwa memperlakukan makhluk hidup dengan baik bukanlah hal yang sepele.

Di balik seekor burung yang berjalan di trotoar, seekor kucing yang mencari makan, atau seekor hewan lain yang hidup di sekitar manusia, terdapat makhluk ciptaan Allah SWT yang juga memiliki tempatnya sendiri di muka bumi.

Tentu manusia tetap perlu mengelola lingkungan dengan bijak. Ketika populasi suatu spesies menjadi berlebihan dan menimbulkan masalah, pengendalian mungkin diperlukan.

Namun di saat yang sama, keberadaan mereka juga mengingatkan bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh manusia.


Burung-Burung yang Mengajarkan Sesuatu

Mungkin bagi sebagian orang, burung-burung hitam di Singapura hanyalah pemandangan biasa yang lewat begitu saja.

Namun bagi yang memperhatikannya lebih lama, ada cerita menarik di balik keberadaan mereka.

Tentang bagaimana seekor burung dari Jawa bisa menjadi penghuni tetap kota modern.

Tentang bagaimana sebuah negara berusaha menyeimbangkan pembangunan dengan keberadaan alam.

Dan tentang bagaimana manusia, pada akhirnya, tetap berbagi ruang dengan makhluk hidup lainnya.

Lain kali ketika Anda berjalan di trotoar Singapura dan melihat seekor Javan Myna melangkah santai di dekat kaki Anda, mungkin Anda tidak lagi melihatnya sekadar sebagai burung. Mungkin Anda akan melihatnya sebagai bagian kecil dari kisah sebuah kota yang berusaha tumbuh modern tanpa sepenuhnya kehilangan hubungan dengan alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *