
Mobil Listrik Kini Ramai di Indonesia, Tapi Ceritanya Dimulai Jauh Sebelum BYD dan Tesla
Beberapa tahun lalu, melihat mobil listrik di jalanan Indonesia masih terasa seperti melihat sesuatu dari masa depan. Sunyi, halus, tanpa suara mesin yang meraung. Kadang orang menoleh bukan karena bentuknya, tapi karena mobil itu melintas dengan cara yang berbeda, diam, bersih, dan terasa baru.
Sekarang, pemandangannya berubah cepat. Mobil listrik mulai lebih sering terlihat di jalan kota besar, di parkiran mal, di rest area, sampai di garasi rumah-rumah perkotaan. Brand China seperti BYD, Wuling, Chery, Geely, Jaecoo, dan beberapa nama lain makin sering muncul. Sebelumnya publik Indonesia lebih dulu mengenal Hyundai dari Korea, Tesla dari Amerika, lalu merek Eropa seperti BMW, Mercedes-Benz, Volkswagen, hingga Mini yang ikut membawa model listriknya.
Data pasar juga menunjukkan arah yang sama. GAIKINDO mencatat penjualan mobil listrik di Indonesia terus bergerak, bahkan beberapa model dari merek China masuk daftar mobil listrik terlaris di Tanah Air. Dalam salah satu laporan GAIKINDO, daftar mobil listrik terlaris April 2026 memperlihatkan kuatnya kehadiran model-model asal China di pasar nasional. GAIKINDO
Dari situ muncul pertanyaan yang menarik, kalau sekarang mobil listrik ramai dibicarakan karena Tesla, BYD, Wuling, Hyundai, dan banyak brand modern lain, sebenarnya siapa yang pertama kali membuat mobil listrik?
Apakah Tesla?
Jawabannya bukan.
Di situlah cerita ini jadi menarik.
Mobil Listrik Ternyata Bukan Teknologi Baru
Banyak orang mengira mobil listrik adalah teknologi baru. Wajar saja. Selama puluhan tahun, dunia otomotif kita lebih akrab dengan bensin, solar, knalpot, oli mesin, dan suara starter di pagi hari.
Mobil listrik terasa seperti babak baru. Seolah-olah baru lahir ketika Tesla mulai populer, ketika Elon Musk sering muncul di berita, atau ketika pabrikan China mulai menjual EV dengan harga yang lebih masuk akal.
Padahal, mobil listrik punya sejarah yang jauh lebih tua. Bahkan, usianya hampir setua sejarah mobil itu sendiri.
Menurut U.S. Department of Energy, sulit menunjuk satu orang atau satu negara sebagai penemu tunggal mobil listrik. Sebab, kelahirannya terjadi dari rangkaian penemuan, baterai, motor listrik, sistem penggerak, dan eksperimen kendaraan bertenaga listrik sejak abad ke-19. Pada masa itu, para penemu di Hungaria, Belanda, Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris mulai mencoba berbagai bentuk kendaraan kecil bertenaga baterai. U.S. Department of Energy
Siapa Orang Pertama yang Membuat Mobil Listrik?
Kalau bicara kendaraan listrik paling awal, nama yang sering disebut adalah Robert Anderson, penemu dari Skotlandia atau Inggris. Sekitar 1830-an, ia membuat semacam kereta listrik kasar. Bentuknya tentu sangat jauh dari mobil listrik modern. Jangan bayangkan layar besar, baterai lithium, regenerative braking, atau desain aerodinamis. Kendaraan Anderson lebih mirip eksperimen, kereta yang diberi tenaga listrik.
Masalahnya, kendaraan itu belum praktis. Baterainya belum bisa diisi ulang dengan mudah seperti sekarang. Teknologinya masih mentah. Ia penting sebagai tonggak awal, tetapi belum bisa disebut sebagai mobil listrik yang siap dipakai banyak orang.
Baru pada akhir abad ke-19, mobil listrik mulai terlihat lebih masuk akal. Salah satu nama penting adalah William Morrison, seorang ahli kimia dari Des Moines, Iowa, Amerika Serikat. Sekitar tahun 1890, Morrison membuat kendaraan listrik enam penumpang yang mampu melaju sekitar 14 mil per jam, atau kira-kira 22 kilometer per jam.
Bagi standar sekarang, itu terdengar pelan. Tapi untuk zaman ketika jalanan masih dipenuhi kuda dan kereta, kendaraan itu adalah sesuatu yang luar biasa.
Mobil buatan Morrison sering disebut sebagai mobil listrik praktis pertama yang sukses menarik perhatian publik di Amerika. Bentuknya masih seperti kereta kuda yang diberi motor listrik, tetapi idenya jelas, manusia bisa bergerak tanpa kuda, tanpa uap, dan tanpa mesin bensin.
Sebelum Mobil Bensin Menang, Mobil Listrik Pernah Sangat Menjanjikan
Ada satu bagian sejarah yang sering terlupakan: pada awal 1900-an, mobil listrik bukan barang aneh. Ia justru sempat menjadi pilihan yang cukup menarik.
Pada masa itu, belum ada pemenang mutlak dalam dunia otomotif. Ada mobil uap, mobil bensin, dan mobil listrik. Ketiganya sama-sama bersaing mencari tempat di jalan raya.
Mobil bensin pada awal kemunculannya tidak senyaman sekarang. Suaranya berisik, baunya menyengat, dan cara menyalakannya tidak praktis. Pengemudi harus memutar engkol secara manual. Itu bukan pekerjaan ringan, bahkan bisa berbahaya jika engkol balik menghantam tangan.
Mobil listrik menawarkan pengalaman yang berbeda. Lebih senyap. Lebih halus. Tidak mengeluarkan asap dari knalpot. Tidak perlu engkol. Untuk perjalanan dalam kota, ia terasa lebih ramah.
Smithsonian National Museum of American History mencatat bahwa pada awal abad ke-20, mobil listrik disukai oleh sebagian warga kota, termasuk kalangan perempuan kaya, karena bersih, nyaman, dan mudah dioperasikan. Pada masa itu, kota-kota besar juga mulai punya jaringan listrik yang memungkinkan baterai kendaraan diisi ulang. Smithsonian
Di masa ketika dunia belum tahu arah masa depan otomotif, mobil listrik pernah berdiri sejajar dengan mobil bensin. Ia tidak datang belakangan. Ia sudah ada di garis start.
Brand Apa yang Pertama Dijual Massal
Lalu, brand apa yang pertama kali menjual mobil listrik secara lebih luas?
Salah satu nama paling penting adalah Columbia Electric dari Amerika Serikat. Mobil ini terkait dengan Pope Manufacturing Company, Columbia Automobile Company, dan kemudian Electric Vehicle Company. Pada akhir 1890-an hingga awal 1900-an, Columbia Electric menjadi salah satu mobil listrik paling dikenal di Amerika.
Pope Manufacturing awalnya terkenal sebagai produsen sepeda. Namun seperti banyak pelaku industri pada masa itu, mereka melihat peluang besar dalam kendaraan bermotor. Di balik pengembangannya ada dua tokoh penting, Albert Augustus Pope sebagai figur bisnis, dan Hiram Percy Maxim sebagai insinyur penting di divisi kendaraan bermotor.
Columbia Electric tidak seperti mobil listrik modern yang diproduksi jutaan unit, tetapi untuk ukuran industri otomotif awal, produksinya sudah besar. Smithsonian bahkan menampilkan Columbia Electric Runabout 1904 sebagai bagian dari sejarah panjang mobil listrik di Amerika. Mobil seperti ini dipakai dokter, warga kota, dan orang-orang yang menginginkan kendaraan bersih, tenang, dan mudah digunakan. Smithsonian Collection
Jadi kalau pertanyaannya “siapa pembuat mobil listrik pertama yang dijual massal?”, jawabannya tidak bisa menyebut satu nama. Tetapi Columbia Electric adalah salah satu kandidat paling kuat dalam sejarah awal mobil listrik komersial.
Berarti Tesla Bukan Mobil Listrik Pertama?
Iya. Tesla bukan pembuat mobil listrik pertama.
Namun, peran Tesla tetap besar. Tesla bukan pembuka sejarah mobil listrik, melainkan salah satu tokoh utama dalam kebangkitan barunya.
Ketika Tesla Roadster hadir pada 2008, persepsi publik terhadap mobil listrik mulai berubah. Sebelumnya, mobil listrik modern sering dianggap kecil, lambat, aneh, atau hanya cocok untuk eksperimen. Roadster membawa pesan yang berbeda, mobil listrik bisa cepat, menarik, dan punya jarak tempuh yang lebih serius.
Roadster generasi pertama juga dikenal sebagai salah satu mobil listrik produksi modern pertama yang menggunakan baterai lithium-ion dan mampu menempuh jarak lebih dari 200 mil dalam sekali pengisian. Itu membuat dunia otomotif mulai melihat EV dengan cara baru.
Namun untuk mobil listrik modern yang benar-benar masuk kategori mass-market, nama yang sangat penting adalah Nissan Leaf. Nissan menyebut Leaf, yang mulai hadir pada 2010, sebagai mobil listrik mass-market pertama di dunia. Mobil ini bukan supercar, bukan mainan orang kaya, tetapi hatchback listrik yang ditujukan untuk penggunaan harian. Nissan Global
Setelah itu, mobil listrik mulai kembali ke jalan raya.
Kenapa Dulu Kalah dari Mobil Bensin?
Pertanyaan ini penting. Kalau mobil listrik sudah ada sejak lama dan sempat populer, kenapa ia menghilang?
Jawabannya ada pada teknologi dan keadaan zaman.
Baterai mobil listrik awalnya dulu sangat berat. Jarak tempuhnya terbatas. Pengisian daya belum mudah. Infrastruktur listrik belum merata, terutama di luar kota besar. Sementara itu, bensin makin mudah didapat. Mobil bensin juga makin murah setelah produksi massal berkembang.
Ford Model T menjadi simbol perubahan besar itu. Dengan produksi massal, mobil bensin bisa dijual lebih murah dan menjangkau lebih banyak orang. Ketika jalan raya makin panjang dan orang ingin bepergian lebih jauh, mobil bensin punya keunggulan yang sulit dilawan mobil listrik saat itu.
Mobil listrik akhirnya mundur. Bukan karena idenya gagal, tetapi karena zamannya belum siap.
Ketika Mobil Listrik Bangkit Kembali
Butuh waktu panjang sebelum mobil listrik kembali mendapat panggung. Krisis minyak, isu polusi, perubahan iklim, perkembangan baterai lithium-ion, dan kemajuan software kendaraan membuat EV kembali relevan.
Kini, mobil listrik tidak hanya bicara soal transportasi. Ia juga bicara soal energi. Baterai mobil menjadi bagian dari gaya hidup baru, mengisi daya di rumah, mencari SPKLU saat perjalanan jauh, bahkan menggunakan daya mobil untuk perangkat elektronik tertentu lewat fitur vehicle-to-load atau V2L.
Karena itu, pertanyaan publik juga mulai berkembang. Bukan hanya “berapa jarak tempuhnya?”, tetapi juga apakah mobil listrik bisa menjadi sumber listrik rumah saat mati lampu. Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa EV mulai dilihat sebagai perangkat energi berjalan, bukan sekadar kendaraan.
Dari Kereta Listrik Kasar ke Jalanan Indonesia Hari Ini
Melihat mobil listrik hari ini, mudah sekali menganggapnya sebagai simbol masa depan. Desainnya modern, fiturnya digital, suaranya hampir tidak ada. Tetapi di balik semua itu, ada sejarah panjang yang dimulai dari eksperimen kasar, baterai berat, kereta listrik sederhana, dan orang-orang yang mencoba membayangkan kendaraan tanpa kuda.
Robert Anderson, William Morrison, Columbia Electric, Ferdinand Porsche, Nissan Leaf, Tesla, BYD, Wuling, Hyundai, semuanya seperti berada dalam satu garis cerita yang panjang. Ada yang membuka jalan. Ada yang gagal. Ada yang datang terlalu cepat. Ada yang hadir pada waktu yang tepat.
Tesla bukan yang pertama. China bukan yang pertama. Bahkan mobil listrik modern yang kita lihat hari ini bukanlah awal dari cerita, melainkan babak baru dari ide lama yang dulu pernah tersisih.
Di situlah menariknya teknologi. Tidak semua ide langsung menang ketika pertama kali lahir. Ada ide yang harus menunggu seratus tahun sampai dunia siap menerimanya.
Mobil listrik adalah salah satunya.
Dulu ia kalah oleh bensin, jarak tempuh, harga, dan infrastruktur. Hari ini ia kembali karena dunia berubah. Baterai makin baik, udara kota makin dipikirkan, energi makin mahal, dan manusia mulai mencari cara baru untuk bergerak tanpa terlalu banyak meninggalkan jejak.