Ngecas Mobil Listrik di Rumah atau SPKLU, Mana yang Lebih Murah?

Dua mobil listrik sedang mengisi daya di rumah dan SPKLU pada sore hari.

Mobil listrik itu unik. Ketika masih melihatnya di show room, perhatian kita biasanya tertuju pada harga, jarak tempuh, ukuran baterai, cicilan, hingga garansi.

Namun, setelah mobil itu nanti terparkir di depan rumah, pertanyaannya berubah.

Nanti ngecasnya di mana?

Bagi orang yang punya garasi dan instalasi listrik yang memadai, jawabannya mudah, colok di rumah pada malam hari, lalu pagi-pagi mobil sudah siap digunakan. Tapi, bagi penghuni apartemen, rumah kontrakan, atau rumah yang belum siap dipasangi charger, SPKLU bisa menjadi tempat pengisian utama.

Keduanya sama-sama bisa mengisi baterai. Bedanya, biaya yang keluar tidak sama.

Untuk pemakaian sehari-hari, ngecas mobil listrik di rumah umumnya lebih murah daripada mengandalkan SPKLU. Namun, selisihnya tidak hanya ditentukan oleh tarif listrik per kWh. Jenis charger, frekuensi transaksi, daya listrik rumah, hingga biaya pemasangan charger juga ikut menentukan.

Mengapa Tempat Ngecas Bisa Membuat Biayanya Berbeda?

Bayangkan dua mobil listrik dengan model, kapasitas baterai, dan jarak perjalanan yang sama.

Mobil pertama selalu dicas di rumah. Sepulang kerja, kabel dihubungkan, lalu pengisian dibiarkan perlahan sepanjang malam.

Mobil kedua lebih sering mampir ke SPKLU. Pengemudinya menunggu sambil minum kopi, mengecek ponsel, atau berkeliling di dalam mal hingga baterainya cukup untuk beberapa hari berikutnya.

Energi yang masuk ke kedua mobil mungkin sama. Namun, harga yang dibayar berbeda karena listrik rumah dan listrik di SPKLU menggunakan skema tarif yang berbeda.

Di rumah, biaya mengikuti golongan tarif pelanggan PLN. Sementara itu, SPKLU menggunakan tarif untuk keperluan layanan khusus. Pada fast charging dan ultrafast charging, pengelola juga mengenakan biaya layanan untuk setiap transaksi.

Itulah sebabnya membandingkan biaya charging tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Baterainya 50 kWh, berarti tinggal dikalikan tarif listrik.”

Dalam kehidupan sehari-hari, baterai juga tidak pernah selalu diisi dari nol hingga penuh. Ada orang yang mulai mengecas ketika tersisa 30 persen, kemudian berhenti pada 80 persen. Ada pula yang hanya menambahkan energi secukupnya untuk perjalanan esok hari.

Berapa Biaya Ngecas Mobil Listrik di Rumah?

Untuk periode Juli–September 2026, Kementerian ESDM menetapkan bahwa tarif listrik bagi 13 golongan pelanggan nonsubsidi tidak mengalami kenaikan. Penyesuaian tarif pelanggan nonsubsidi dilakukan setiap tiga bulan dengan mempertimbangkan beberapa parameter ekonomi.

Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2024, tarif listrik rumah tangga nonsubsidi yang dapat dijadikan acuan adalah:

  • Rumah tangga 1.300 VA dan 2.200 VA: Rp1.444,70 per kWh.
  • Rumah tangga 3.500 VA sampai 5.500 VA: Rp1.699,53 per kWh.
  • Rumah tangga 6.600 VA atau lebih: Rp1.699,53 per kWh.

Angka tersebut adalah tarif energi sebagai dasar simulasi. Tagihan akhir di rumah masih dapat dipengaruhi pajak penerangan jalan, biaya administrasi pembayaran, rekening minimum, serta komponen lain sesuai kondisi pelanggan.

Perlu pula dibedakan antara tarif listrik dan kesiapan daya listrik.

Rumah dengan daya 2.200 VA memang memiliki tarif Rp1.444,70 per kWh, tetapi belum tentu nyaman digunakan untuk menyalakan charger mobil bersamaan dengan AC, pompa air, kulkas, mesin cuci, dan peralatan rumah lainnya. Bisa jadi pemilik perlu mengatur waktu pemakaian atau menambah daya terlebih dahulu.

Ngecas di Rumah Pasti Menambah Tagihan PLN

Tidak ada listrik gratis. Begitu mobil mulai rutin dicas di rumah, pemakaian kWh akan bertambah dan tagihan PLN ikut naik.

Namun, kenaikannya sebenarnya bisa diperkirakan. Yang perlu diketahui hanyalah jarak perjalanan bulanan, konsumsi energi mobil, efisiensi pengisian, dan tarif listrik rumah.

Artinya, tambahan biaya itu tidak perlu menjadi kejutan pada akhir bulan. Dengan perhitungan sederhana, calon pembeli dapat memperkirakan berapa tambahan tagihan PLN setelah beralih ke mobil listrik sebelum mobil benar-benar dibawa pulang.

Berapa Biaya Ngecas Mobil Listrik di SPKLU?

SPKLU menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan charger rumah, yaitu kecepatan dan kemudahan ketika sedang berada di perjalanan.

Saat baterai mulai menipis di jalan tol atau ketika tidak sempat mengecas semalaman, fast charger terasa sangat membantu. Mobil bisa mendapatkan tambahan energi dalam waktu yang lebih singkat, lalu perjalanan dapat dilanjutkan.

Namun, kecepatan tersebut mempunyai struktur biaya yang berbeda.

Dalam Permen ESDM Nomor 7 Tahun 2024, tarif tenaga listrik untuk keperluan layanan khusus ditetapkan sebesar Rp1.650 per kWh, kemudian dikalikan faktor pengali N dengan nilai antara 1 sampai 1,5. Pelaksanaannya ditetapkan lebih lanjut oleh PLN. (JDIH ESDM)

Dengan faktor maksimal 1,5, komponen biaya energi SPKLU secara perhitungan dapat mencapai sekitar:

Rp1.650 × 1,5 = Rp2.475 per kWh

Angka itu belum tentu menjadi harga pada setiap SPKLU. Operator dapat menerapkan tarif sesuai ketentuan dan kebijakannya, sehingga pengguna tetap perlu melihat harga yang tercantum di aplikasi atau perangkat pengisian sebelum memulai transaksi.

Fast Charging Bisa Memiliki Biaya Layanan

Selain biaya listrik berdasarkan kWh, pengisian melalui fast charging dan ultrafast charging dapat dikenai biaya layanan.

Kementerian ESDM menetapkan batas maksimal biaya layanan sebesar Rp25.000 untuk fast charging dan Rp57.000 untuk ultrafast charging. Biaya tersebut dikenakan untuk satu kali transaksi, sedangkan badan usaha diperbolehkan menetapkan nilai yang lebih rendah.

Kata pentingnya adalah per transaksi.

Misalnya, seseorang hanya menambahkan sedikit energi, tetapi melakukannya berkali-kali. Total biaya layanannya berpotensi lebih besar daripada pengguna yang mengisi lebih banyak energi dalam jumlah transaksi lebih sedikit.

Meski demikian, tidak semua SPKLU otomatis mengenakan biaya tersebut. Pengguna slow charging atau medium charging juga tidak semestinya langsung menyamakan biayanya dengan ultrafast charging. Jenis perangkat dan kebijakan operator perlu dicek lagi sebelumnya.

Simulasi Ngecas di Rumah dan SPKLU untuk Perjalanan 60 Km Sehari

Sekarang kita masuk ke kehidupan yang lebih nyata.

Bayangkan seseorang tinggal di pinggiran kota dan bekerja di kawasan perkotaan. Setiap hari kerja, mobil menempuh perjalanan sekitar 60 kilometer pulang-pergi. Mobil digunakan selama 22 hari kerja dalam sebulan.

Asumsi perhitungannya:

KomponenAsumsi
Jarak harian60 km
Hari pemakaian22 hari
Jarak bulanan1.320 km
Konsumsi mobil15 kWh per 100 km
Energi yang masuk ke baterai198 kWh
Asumsi efisiensi charging90 persen
Energi yang diambil dari jaringanSekitar 220 kWh

Efisiensi 90 persen digunakan sebagai asumsi simulasi agar ada ruang untuk energi yang hilang dalam proses pengisian. Angka sebenarnya dapat berbeda tergantung jenis charger, suhu, kondisi baterai, dan sistem kendaraan.

Jika Dicas di Rumah

Untuk pelanggan rumah tangga 1.300 VA atau 2.200 VA:

220 kWh × Rp1.444,70 = sekitar Rp317.834 per bulan

Untuk pelanggan rumah tangga 3.500 VA ke atas:

220 kWh × Rp1.699,53 = sekitar Rp373.897 per bulan

Jadi, biaya energi untuk pemakaian sejauh 1.320 kilometer dalam sebulan diperkirakan berada di kisaran Rp318.000 sampai Rp374.000.

Sekali lagi, ini belum memasukkan pajak dan biaya administrasi pada tagihan rumah.

Jika Menggunakan SPKLU

Apabila komponen energy charge menggunakan hitungan maksimal Rp2.475 per kWh:

220 kWh × Rp2.475 = sekitar Rp544.500 per bulan

Jika pengguna melakukan empat kali transaksi fast charging dan setiap transaksi dikenai biaya layanan maksimal Rp25.000:

Rp544.500 + Rp100.000 = sekitar Rp644.500 per bulan

Jika empat kali transaksi dilakukan melalui ultrafast charging dengan biaya layanan maksimal Rp57.000:

Rp544.500 + Rp228.000 = sekitar Rp772.500 per bulan

Berikut gambaran sederhananya:

Metode pengisianEstimasi biaya bulanan
Rumah, tarif Rp1.444,70/kWhSekitar Rp317.834
Rumah, tarif Rp1.699,53/kWhSekitar Rp373.897
SPKLU, energy charge maksimalSekitar Rp544.500
SPKLU fast, empat transaksi dengan biaya maksimalSekitar Rp644.500
SPKLU ultrafast, empat transaksi dengan biaya maksimalSekitar Rp772.500

Simulasi SPKLU tersebut menggunakan batas tarif dan biaya layanan untuk memperlihatkan skenario atas, bukan menyatakan bahwa seluruh operator pasti mengenakan harga maksimal. Biaya parkir di lokasi SPKLU juga belum dimasukkan.

Jadi, Berapa Selisih Ngecas di Rumah dan SPKLU?

Dari simulasi tersebut, selisihnya dapat mencapai sekitar Rp170.000 hingga Rp455.000 per bulan, tergantung tarif rumah, jenis charger SPKLU, serta biaya layanan yang dikenakan.

Dalam satu bulan, angka itu mungkin terlihat tidak terlalu besar, terutama jika dibandingkan dengan cicilan mobil. Namun, bila dikumpulkan selama satu tahun, selisihnya dapat menjadi sekitar Rp2 juta hingga lebih dari Rp5 juta.

Semakin jauh mobil digunakan, semakin besar pula pengaruh tempat pengisian terhadap total biaya kepemilikan.

Namun, perhitungan ini juga mengingatkan kita bahwa murah atau mahal tidak selalu berdiri sendiri. Ngecas di rumah membutuhkan tempat parkir, waktu, instalasi yang aman, dan kemungkinan biaya awal. SPKLU memang lebih mahal, tetapi pengguna membayar kecepatan, infrastruktur, lokasi, dan kemudahan.

Ngecas di Rumah Lebih Murah, tetapi Rumah Harus Siap

Di atas kertas, home charging menjadi pemenangnya. Tapi masalahnya, tidak semua rumah langsung siap menerima mobil listrik.

Ada rumah yang panel listriknya jauh dari garasi. Ada instalasi lama yang perlu diperiksa kembali. Ada pula pemilik yang harus menambah daya agar charger dapat digunakan tanpa membuat listrik rumah sering turun.

Biaya awalnya bisa mencakup kabel, panel pengaman, grounding, pekerjaan instalasi, penambahan daya, serta pembelian charger jika perangkat tersebut tidak diberikan oleh dealer.

Karena itu, sebelum menandatangani surat pemesanan kendaraan, tanyakan dengan jelas apakah wall charger dan pemasangannya sudah termasuk dalam paket pembelian mobil listrik atau hanya diberikan dengan syarat dan dengan batas instalasi tertentu.

Istilah “gratis wall charger” belum tentu berarti semua pekerjaan instalasinya gratis. Jarak kabel, pembobokan dinding, penambahan panel, atau penyesuaian instalasi di luar paket standar mungkin tetap menjadi tanggungan pembeli.

Kapan Waktunya Tetap Mengandalkan SPKLU?

SPKLU bukan pilihan yang buruk. Ia hanya mempunyai fungsi yang berbeda.

Untuk pemilik rumah dengan garasi dan listrik memadai, pola yang paling masuk akal biasanya adalah mengecas di rumah untuk kebutuhan harian, lalu menggunakan SPKLU ketika bepergian jauh atau membutuhkan tambahan energi dengan cepat.

Bagi penghuni apartemen, situasinya bisa berbeda. Mereka perlu melihat apakah gedung menyediakan charger, berapa tarifnya, bagaimana sistem antreannya, dan apakah mobil harus membayar parkir selama proses pengisian.

Penghuni rumah kontrakan atau orang yang tidak mempunyai tempat parkir pribadi juga mungkin lebih realistis mengandalkan SPKLU. Dalam kondisi tersebut, harga per kWh bukan satu-satunya pertimbangan. Jarak menuju charger, waktu menunggu, jam operasional, dan kesesuaian konektor bisa lebih menentukan kenyamanan sehari-hari.

Orang yang selalu melewati SPKLU dalam perjalanan pulang mungkin merasa pengisian publik cukup praktis. Sebaliknya, SPKLU yang harus ditempuh belasan kilometer dari rute harian akan terasa merepotkan, meskipun mobilnya sendiri sangat hemat energi.

Rumah untuk Rutinitas, SPKLU untuk Menjaga Perjalanan

Bila hanya melihat biaya energinya, ngecas mobil listrik di rumah selalu lebih murah. Mobil dapat dihubungkan ketika sedang tidak digunakan, pengisian tidak harus ditunggu, dan tarif listrik rumah lebih rendah daripada skema tarif layanan khusus di SPKLU.

SPKLU tetap mempunyai peran yang tidak tergantikan. Ia menjadi tempat singgah ketika perjalanan masih panjang, baterai mulai menipis, atau charger rumah tidak tersedia.

Memiliki mobil listrik bukan hanya soal mengganti bensin dengan listrik. Ada ritme baru yang ikut masuk ke kehidupan, pulang, parkir, menghubungkan kabel, kemudian membiarkan mobil beristirahat didalam rumah sepanjang malam.

Jadi pertanyaan yang paling penting sebelum membeli mobil listrik, bukan sekadar apakah harga mobilnya terjangkau, atau berapa jauh baterainya dapat membawa kita pergi.

Tapi, ketika perjalanan selesai dan kita akhirnya pulang, apakah ada tempat yang nyaman untuk mengisi kembali energinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *