Mengapa Tahun 1 Hijriah Tidak Dimulai dari Kelahiran Nabi SAW? Ini Sejarahnya

Ilustrasi perjalanan Hijrah dari Makkah ke Madinah yang menjadi awal penetapan Tahun 1 Hijriah dalam kalender Islam.

Setiap kali Tahun Baru Islam tiba, angka di kalender Hijriah kembali bertambah satu. Namun di balik angka-angka yang terus bergerak itu, tersimpan sebuah kisah menarik yang tidak banyak diketahui.

Banyak orang mengira Tahun 1 Hijriah dimulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW. Anggapan ini cukup wajar. Kalender Masehi yang digunakan secara luas di dunia dihitung dari kelahiran Nabi Isa AS, sehingga sebagian orang berasumsi kalender Islam pun mengikuti pola yang sama.

Faktanya tidak demikian.

Kalender Hijriah yang digunakan umat Islam saat ini justru lahir dari sebuah kebutuhan yang sangat praktis, yaitu menyelesaikan masalah administrasi negara. Di balik penetapan tahun pertama Hijriah, terdapat kisah tentang surat-menyurat yang membingungkan, musyawarah para sahabat, hingga sebuah keputusan yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban Islam.


Sebelum Ada Kalender Hijriah, Bagaimana Orang Arab Menghitung Tahun?

Jauh sebelum kalender Hijriah dikenal, masyarakat Arab sebenarnya sudah mengenal nama-nama bulan yang masih digunakan hingga sekarang, seperti Muharram, Safar, Rabiul Awal, dan seterusnya. Namun mereka belum memiliki sistem penomoran tahun yang baku.

Alih-alih menyebut tahun dengan angka tertentu, mereka lebih sering mengingat suatu masa berdasarkan peristiwa besar yang terjadi pada waktu itu.

Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Tahun Gajah. Tahun ini dikenal karena adanya peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan Abrahah yang datang dengan membawa gajah. Peristiwa tersebut begitu membekas dalam ingatan masyarakat Arab sehingga dijadikan penanda waktu selama bertahun-tahun. Bahkan ada riwayat yang menyebut Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun yang sama.

Meski belum memiliki sistem penanggalan resmi, masyarakat Arab telah mengenal siklus dua belas bulan dalam setahun. Hal ini juga ditegaskan dalam Al-Qur’an.

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi…”
(QS. At-Taubah: 36)

Namun, mengenal dua belas bulan tentu berbeda dengan memiliki sistem administrasi yang rapi. Selama komunitas masih kecil, cara lama itu mungkin tidak menimbulkan banyak masalah. Keadaan berubah ketika wilayah Islam berkembang semakin luas.


Surat dari Bashrah yang Memicu Perubahan Besar

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA, wilayah Islam berkembang dengan sangat cepat. Daerah-daerah baru masuk ke dalam kekuasaan Islam, mulai dari kawasan Persia hingga Syam.

Bersamaan dengan itu, urusan administrasi negara juga semakin kompleks.

Surat-surat resmi dikirim dari Madinah ke berbagai wilayah. Instruksi pemerintahan, urusan keuangan, hingga kebijakan militer harus didokumentasikan dengan baik. Masalahnya, surat-surat tersebut biasanya hanya mencantumkan nama bulan tanpa menyebut angka tahun.

Di tengah situasi itulah datang sebuah keluhan dari Abu Musa Al-Asy’ari, gubernur Bashrah.

Ia menyampaikan bahwa banyak surat dari pusat pemerintahan yang mencantumkan tanggal dan bulan, tetapi tidak menyebut tahunnya. Akibatnya, muncul kebingungan ketika harus menentukan apakah sebuah instruksi merujuk pada bulan Sya’ban tahun ini, tahun lalu, atau bahkan tahun berikutnya.

Sekilas persoalan ini terdengar sederhana.

Namun bagi sebuah negara yang sedang berkembang pesat, kebingungan semacam itu bisa menimbulkan masalah besar. Administrasi keuangan dapat berantakan, keputusan hukum bisa tumpang tindih, dan kebijakan pemerintahan berisiko salah diterapkan.

Umar bin Khattab memahami bahwa persoalan tersebut tidak bisa dibiarkan.

Sebuah solusi harus segera ditemukan.


Ketika Para Sahabat Bermusyawarah Menentukan Tahun Pertama Islam

Menyadari pentingnya masalah tersebut, Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah.

Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak mudah.

Dari peristiwa apa kalender Islam harus mulai dihitung?

Beberapa usulan pun muncul.

Apakah Dimulai dari Kelahiran Nabi?

Sebagian sahabat mengusulkan agar tahun pertama Islam dihitung dari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Usulan ini terdengar masuk akal. Kelahiran Rasulullah merupakan peristiwa besar yang mengubah arah sejarah manusia.

Namun usulan tersebut tidak menjadi pilihan akhir.

Bagaimana Jika Dimulai dari Wafat Nabi?

Ada pula yang mengusulkan tahun wafat Rasulullah SAW sebagai titik awal penanggalan.

Akan tetapi, usulan ini juga tidak diterima. Wafatnya Nabi merupakan musibah besar yang meninggalkan kesedihan mendalam bagi umat Islam. Para sahabat tidak ingin menjadikan momen duka itu sebagai awal penanggalan yang akan terus dikenang setiap tahun.

Saat Wahyu Pertama Turun

Usulan lain adalah menjadikan tahun turunnya wahyu pertama sebagai awal kalender Islam.

Peristiwa ini tentu sangat penting karena menjadi awal kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Namun musyawarah masih terus berlangsung.

Usulan yang Akhirnya Disepakati

Di antara berbagai pendapat yang muncul, peristiwa Hijrah akhirnya mendapatkan dukungan yang paling kuat.

Bukan tanpa alasan.

Para sahabat memandang hijrah sebagai titik balik yang sangat menentukan dalam sejarah Islam.

Sebelum hijrah, umat Islam hidup dalam tekanan dan berbagai bentuk penindasan di Makkah. Setelah hijrah ke Madinah, mereka mulai membangun masyarakat yang mandiri, menyusun kehidupan sosial yang lebih teratur, dan memiliki ruang untuk menjalankan agama secara lebih leluasa.

Hijrah bukan sekadar perjalanan dari satu kota ke kota lain.

Hijrah adalah awal dari sebuah perubahan besar.

Karena itulah para sahabat sepakat menjadikan peristiwa tersebut sebagai penanda dimulainya kalender Islam.

Dari sinilah lahir istilah yang kita kenal hingga hari ini. Kalender Hijriah.


Mengapa Awal Tahun Hijriah Dimulai dari Muharram?

Menariknya, ada satu fakta lain yang sering membuat orang bertanya-tanya.

Jika Nabi Muhammad SAW berhijrah pada bulan Rabiul Awal, mengapa kalender Hijriah justru dimulai dari bulan Muharram?

Pertanyaan ini juga menjadi bagian dari pembahasan para sahabat saat itu.

Pada akhirnya, Muharram dipilih sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah.

Salah satu alasannya adalah karena Muharram memang telah dikenal sebagai bulan pertama dalam urutan bulan-bulan Arab. Selain itu, bulan ini datang setelah musim haji berakhir, sebuah momen yang dianggap tepat untuk memulai lembaran baru.

Dengan demikian, meskipun peristiwa hijrah terjadi pada Rabiul Awal, awal tahun Hijriah tetap ditetapkan pada bulan Muharram.

Keputusan tersebut kemudian menjadi sistem yang digunakan umat Islam hingga sekarang.


Lebih dari Sekadar Angka di Kalender

Jika dipikirkan kembali, lahirnya kalender Hijriah menyimpan pelajaran yang menarik.

Kalender ini tidak muncul karena dorongan untuk mengabadikan kelahiran seorang tokoh, bukan pula untuk mengenang sebuah kemenangan militer. Ia lahir dari kebutuhan nyata sebuah masyarakat yang sedang bertumbuh dan berusaha menata kehidupannya dengan lebih baik.

Di sisi lain, pilihan para sahabat terhadap peristiwa hijrah juga menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.

Mereka tidak memilih momen yang paling populer, melainkan momen yang paling menggambarkan perubahan.

Hijrah adalah simbol keberanian meninggalkan keadaan lama menuju keadaan yang lebih baik. Sebuah langkah yang tidak mudah, tetapi diperlukan agar kehidupan bisa bergerak maju.

Karena itulah kisah lahirnya kalender Hijriah tetap terasa relevan hingga hari ini.

Setiap pergantian tahun tidak hanya mengingatkan kita pada bertambahnya usia atau bergantinya angka di kalender. Ia juga mengingatkan bahwa setiap perjalanan hidup selalu menyediakan kesempatan untuk memulai lembaran baru.

Dan pertanyaan berikutnya bukan lagi tentang sejarahnya, melainkan apa yang sebenarnya dianjurkan ketika bulan tersebut tiba. Itulah pertanyaan yang terus muncul setiap kali Tahun Baru Islam itu datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *