Kalender Hijriah yang Dipakai Umat Islam Hari Ini Ternyata Pernah Mengalami Reset

Penyusunan ulang kalender Hijriah dengan nama-nama bulan Arab seperti Muharram dan Safar.

Banyak orang mengira kalender Hijriah langsung dibuat ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah. Anggapan itu terdengar masuk akal. Peristiwa Hijrah menjadi titik awal kalender Islam, jadi wajar jika sebagian orang membayangkan penanggalan tersebut sudah resmi digunakan sejak hari pertama perjalanan itu terjadi.

Namun sejarah mencatat hal yang berbeda.

Kalender Hijriah yang kita kenal saat ini baru ditetapkan sekitar 17 tahun setelah peristiwa Hijrah, tepatnya pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pertanyaannya, jika angka tahunnya belum ada saat itu, bagaimana para sahabat bisa menentukan kapan tepatnya Tahun 1 Hijriah dimulai?

Ternyata jawabannya membawa kita ke kisah yang lebih panjang. Kisah tentang bangsa Arab yang pernah mempermainkan kalender demi kepentingan politik, tentang Nabi Muhammad SAW yang mengembalikan sistem waktu ke jalurnya, dan tentang bagaimana para sahabat kemudian menyusun sebuah penanggalan yang masih digunakan oleh miliaran Muslim hingga hari ini.


Sebelum Islam, Orang Arab Pernah Memanipulasi Kalender

Jauh sebelum kalender Hijriah resmi digunakan, masyarakat Arab sebenarnya sudah mengenal nama-nama bulan seperti Muharram, Safar, Rabiul Awal, dan seterusnya.

Masalahnya, mereka tidak selalu mematuhi susunan bulan tersebut.

Pada masa Jahiliyah dikenal praktik yang disebut An-Nasi’. Secara sederhana, praktik ini memungkinkan sebagian pemuka Arab menggeser atau menunda bulan-bulan tertentu sesuai kepentingan mereka.

Misalnya, Muharram termasuk salah satu bulan haram, yaitu bulan yang dihormati dan tidak boleh digunakan untuk peperangan. Namun ketika ada kepentingan perang atau politik, sebagian pemimpin suku bisa saja mengumumkan bahwa Muharram “dipindahkan” ke bulan berikutnya.

Akibatnya, aturan yang harusnya tetap, menjadi lentur dan bisa dirubah untuk disesuaikan dengan kebutuhan sebagian orang saja.

Al-Qur’an menyinggung persoalan ini dalam Surah At-Taubah.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.”
(QS. At-Taubah: 36)

Ayat berikutnya bahkan secara langsung menyebut praktik tersebut:

“Sesungguhnya An-Nasi’ itu hanyalah menambah kekafiran…”
(QS. At-Taubah: 37)

Para ulama menjelaskan An-Nasi’ sebagai bentuk manipulasi terhadap sistem bulan yang telah ditetapkan. Sebagian peneliti sejarah modern juga mengaitkannya dengan praktik penyesuaian kalender agar tetap sesuai dengan musim tertentu.

Apa pun bentuk teknisnya, satu hal yang jelas, waktu yang seharusnya menjadi acuan bersama pernah dipengaruhi oleh kepentingan manusia.


Haji Wada’ dan Momen Ketika Kalender Dikembalikan ke Jalurnya

Titik balik penting terjadi pada tahun ke-10 Hijriah.

Saat itu Nabi Muhammad SAW melaksanakan Haji Wada’, haji terakhir beliau sebelum wafat. Dalam khutbah yang disampaikan pada kesempatan tersebut, Rasulullah SAW mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi sangat penting dalam pembahasan sejarah kalender Islam.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram…”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Sekilas kalimat ini terdengar sederhana. Namun para ulama menjelaskan bahwa sabda tersebut menunjukkan susunan bulan telah kembali sesuai ketetapan Allah SWT setelah sebelumnya mengalami penyimpangan akibat praktik An-Nasi’.

Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, momen itu bisa diibaratkan sebagai sebuah “reset”.

Kalender yang sebelumnya sempat dipengaruhi berbagai kepentingan manusia dikembalikan menjadi kalender qamariyah murni yang mengikuti peredaran bulan. Tidak ada lagi bulan tambahan, tidak ada lagi penggeseran sesuka hati, dan tidak ada lagi permainan terhadap bulan-bulan haram.

Langkah ini menjadi fondasi yang sangat penting. Tanpa fondasi tersebut, penanggalan Islam mungkin tidak akan memiliki konsistensi seperti yang dikenal sekarang.


Ketika Negara Islam Membutuhkan Sebuah Kalender

Beberapa tahun setelah Rasulullah SAW wafat, wilayah Islam berkembang sangat cepat.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, surat-menyurat dan administrasi pemerintahan semakin banyak dilakukan. Di sinilah sebuah masalah mulai muncul.

Salah satu riwayat menyebutkan bahwa pernah datang surat yang hanya bertuliskan tanggal “Sya’ban”. Tidak ada keterangan tahun.

Akibatnya muncul kebingungan.

Apakah yang dimaksud Sya’ban tahun ini?

Sya’ban tahun lalu?

Atau Sya’ban tahun berikutnya?

Untuk urusan pemerintahan yang semakin luas, keadaan seperti ini tentu tidak bisa dibiarkan.

Maka Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah menentukan sistem penanggalan resmi.

Beberapa usulan muncul. Ada yang mengusulkan agar kalender dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada pula yang mengusulkan awal turunnya wahyu, bahkan ada yang mempertimbangkan tahun wafat beliau.

Namun akhirnya pilihan jatuh pada peristiwa Hijrah.


Mengapa Hijrah yang Dipilih?

Bagi para sahabat, Hijrah bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain.

Hijrah adalah titik perubahan besar dalam sejarah Islam.

Di Makkah, umat Islam masih menjadi kelompok yang mengalami berbagai tekanan. Di Madinah, mereka mulai membangun masyarakat, pemerintahan, dan tatanan sosial yang lebih mandiri.

Karena itulah Hijrah dianggap sebagai peristiwa yang paling layak dijadikan titik awal kalender.

Keputusan ini membuat kalender Islam berbeda dari banyak sistem penanggalan lain di dunia yang biasanya dimulai dari kelahiran seorang tokoh penting. Para sahabat justru memilih sebuah peristiwa perubahan dan perjuangan sebagai titik nol sejarah mereka.

Pilihan tersebut juga menjawab pertanyaan yang sering muncul tentang mengapa kelahiran Rasulullah SAW maupun awal masa kenabian tidak dijadikan awal kalender Islam, melainkan peristiwa Hijrah yang terjadi jauh setelahnya.


Bagaimana Khalifah Umar bin Khattab dan Para Sahabat Menentukan Tahun 1 Hijriah?

Di sinilah bagian yang sering membuat orang penasaran.

Jika kalender baru dibuat sekitar 17 tahun setelah Hijrah, bagaimana para sahabat mengetahui titik awalnya?

Jawabannya sederhana.

Peristiwa Hijrah Masih Sangat Dekat

Ketika kalender resmi ditetapkan, peristiwa Hijrah baru berlalu sekitar 17 tahun.

Ini bukan jarak ratusan tahun.

Banyak sahabat yang ikut mengalami langsung peristiwa tersebut masih hidup. Mereka mengetahui urutan kejadian, tahun-tahun peperangan, musim haji, serta berbagai peristiwa penting lainnya.

Dengan kata lain, memori kolektif masyarakat saat itu masih sangat kuat.

Susunan Bulan Sudah Stabil

Hal lain yang sangat membantu adalah sistem bulan sudah kembali baku sejak Haji Wada’.

Praktik An-Nasi’ telah dihentikan.

Nama dan urutan bulan tidak lagi berubah-ubah.

Karena itulah para sahabat memiliki titik acuan yang jelas untuk menghitung tahun-tahun yang telah berlalu.

Yang Belum Ada Hanyalah Nomor Tahunnya

Muharram, Safar, Rabiul Awal, dan bulan-bulan lainnya sebenarnya sudah dikenal sejak lama.

Yang belum ada hanyalah sistem penomoran tahun secara resmi.

Maka ketika Hijrah dipilih sebagai titik awal, para sahabat pada dasarnya sedang menetapkan sebuah “angka nol” untuk kronologi sejarah Islam.

Dalam istilah modern, proses seperti ini sering disebut sebagai retrospective calculation, yaitu penyusunan kronologi berdasarkan peristiwa yang sudah diketahui dengan jelas.


Apakah Penentuan Tahun 1 Hijriah Bisa Diverifikasi Saat Ini?

Menariknya, jawabannya adalah bisa.

Astronomi modern memungkinkan para peneliti merekonstruksi posisi bulan pada masa lampau dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi.

Melalui perhitungan siklus bulan dan rekonstruksi kalender kuno, para ahli dapat memperkirakan kapan awal Muharram pada tahun yang kemudian ditetapkan sebagai Tahun 1 Hijriah.

Hasilnya menunjukkan bahwa awal Tahun 1 Hijriah berada sekitar pertengahan Juli tahun 622 Masehi. Sementara peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW sendiri terjadi beberapa bulan setelahnya, pada Rabiul Awal di tahun yang sama.

Fakta ini sering mengejutkan banyak orang.

Kalender Hijriah memang dihitung dari tahun terjadinya Hijrah, tetapi awal tahunnya ditempatkan pada Muharram karena bulan tersebut telah lama dikenal sebagai awal siklus tahunan dalam tradisi Arab.


Sebuah Sistem Waktu yang Bertahan Lebih dari 14 Abad

Kalender Hijriah bukan sekadar deretan angka yang muncul di pojok kalender dinding.

Di baliknya terdapat kisah panjang tentang manusia, sejarah, dan cara sebuah peradaban menjaga ketertiban waktu.

Ada masa ketika waktu pernah dimanipulasi demi kepentingan tertentu. Ada masa ketika Rasulullah SAW mengembalikan sistem tersebut kepada aturan yang lebih adil dan konsisten. Lalu ada masa ketika Umar bin Khattab bersama para sahabat menyusun kerangka penanggalan yang dapat digunakan oleh generasi-generasi setelah mereka.

Karena itulah kalender Hijriah terasa berbeda.

Ia tidak lahir dari perayaan kemenangan seorang raja, bukan pula dari kelahiran seorang penguasa. Titik awalnya adalah sebuah perjalanan penuh risiko yang dilakukan demi mempertahankan keyakinan dan membangun masa depan yang lebih baik.

Dan setiap kali kita melihat tanggal Hijriah hari ini, sebenarnya kita sedang melihat jejak dari perjalanan panjang itu, yaitu sebuah sistem waktu yang telah melewati reformasi, musyawarah, dan ujian sejarah, lalu tetap bertahan lebih dari 14 abad hingga sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *