
Sebelum berangkat ke Singapura, ada satu pertanyaan yang terus muncul di kepala saya.
Bukan soal MRT, bukan soal hotel, bahkan bukan soal tempat wisata.
Pertanyaannya jauh lebih sederhana.
Kalau lapar nanti, makan di mana?
Bagi banyak wisatawan Indonesia yang beragama Islam, pertanyaan ini terdengar familiar. Di Indonesia, mencari makanan halal tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Di kota besar maupun kota kecil, pilihan makanan halal tersedia hampir di setiap sudut jalan.
Di Singapura berbeda.
Dari foto-foto yang beredar di internet, yang terlihat justru restoran China, kafe modern, restoran Jepang, kedai Korea, hingga berbagai gerai internasional yang belum tentu memiliki sertifikasi halal. Sebagai negara yang masyarakatnya sangat beragam, Singapura memang tidak memiliki karakter kuliner yang sama dengan Indonesia.
Karena itulah, sebelum berangkat, saya sempat bertanya-tanya, apakah mencari makanan halal di Singapura akan menjadi tantangan tersendiri?
Ternyata setelah tiba di sana, jawabannya jauh lebih menarik daripada yang saya bayangkan.
Kenapa Banyak Wisatawan Muslim Sempat Khawatir Soal Makanan Halal di Singapura?
Kekhawatiran itu sebenarnya cukup masuk akal.
Singapura bukan negara mayoritas muslim. Penduduknya terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama, mulai dari Tionghoa, Melayu, India, hingga komunitas internasional dari berbagai negara.
Ketika berjalan di pusat kota, kita bisa melihat restoran dengan menu yang sangat beragam. Ada yang menjual hidangan berbahan dasar babi, ada yang menyajikan makanan laut, ada pula yang menawarkan menu dari berbagai negara.
Bagi wisatawan muslim yang baru pertama kali datang, situasi seperti ini kadang membuat bingung.
Tidak sedikit yang akhirnya mengandalkan minimarket, mi instan, atau mencari restoran Indonesia karena merasa lebih aman.
Padahal setelah memahami sedikit tentang kehidupan masyarakat Singapura, saya mulai menyadari bahwa kota ini sebenarnya memiliki komunitas muslim yang cukup besar dan sudah lama menjadi bagian penting dari sejarah negara tersebut.
Komunitas Melayu yang mayoritas muslim telah tinggal di wilayah ini sejak lama. Selain itu, ada pula komunitas India Muslim, Pakistan, Bangladesh, Arab, dan berbagai kelompok muslim lainnya yang turut membentuk warna budaya Singapura.
Artinya, kebutuhan akan makanan halal sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di kota ini.
Hanya saja, kita perlu tahu ke mana harus mencari.
Ternyata Banyak Wisatawan Muslim Berakhir di Kawasan Bugis dan Kampong Glam
Ada satu kawasan yang berkali-kali muncul ketika saya mencari informasi tentang makanan halal di Singapura.
Namanya Kampong Glam.
Menariknya, banyak wisatawan Indonesia mengenalnya sebagai kawasan Bugis karena letaknya memang sangat dekat dengan Bugis Street dan Stasiun MRT Bugis.
Ketika keluar dari area Bugis dan berjalan beberapa menit, suasananya perlahan berubah.
Gedung-gedung modern masih ada, tetapi mulai muncul toko-toko bernuansa Timur Tengah, restoran dengan menu briyani, kedai murtabak, hingga aroma rempah yang keluar dari dapur-dapur kecil di sepanjang jalan.
Di kejauhan terlihat kubah emas Masjid Sultan yang menjadi salah satu ikon paling terkenal di kawasan tersebut.
Saat itulah saya mulai memahami mengapa banyak wisatawan muslim merasa nyaman berada di area ini.
Bukan hanya karena mudah menemukan makanan halal, tetapi juga karena suasananya terasa akrab.
Ada sesuatu yang membuat kawasan ini terasa dekat dengan pengalaman yang sering dijumpai di Indonesia.
Dari Nasi Padang Hingga Briyani, Pilihannya Jauh Lebih Banyak dari Dugaan
Sebelum datang, saya sempat membayangkan pilihan makanan halal di Singapura mungkin terbatas.
Ternyata anggapan itu keliru.
Di sekitar Kampong Glam dan Bugis, pilihannya cukup beragam.
Ada nasi padang dengan berbagai lauk khas Melayu, mee rebus, mee soto, nasi briyani, murtabak, roti prata, sate, hingga aneka masakan Timur Tengah.
Bahkan beberapa kafe modern juga menawarkan menu halal yang cukup menarik.
Yang membuat pengalaman ini berbeda adalah keberagaman budaya yang terasa dalam setiap hidangan.
Dalam satu kawasan, kita bisa menemukan pengaruh Melayu, India, Arab, hingga budaya lokal Singapura yang saling bertemu dalam bentuk makanan.
Tidak heran jika kawasan ini sering menjadi tujuan pertama wisatawan muslim yang baru tiba di Singapura.
Selain mudah dijangkau, pilihan makanannya juga sangat beragam.
Kabar baik lainnya, kawasan ini dapat dicapai dengan transportasi umum yang sangat nyaman. Bagi wisatawan yang baru mendarat di Bandara Changi, perjalanan menuju area Bugis relatif mudah berkat jaringan MRT yang telah menjadi tulang punggung transportasi kota selama puluhan tahun.
Kenapa Tidak Banyak Warung Tenda Seperti di Indonesia?
Ada satu hal lain yang sempat menarik perhatian saya.
Meski makanan halal cukup mudah ditemukan, saya hampir tidak melihat warung tenda seperti yang biasa ditemui di Indonesia.
Tidak ada deretan tenda biru di pinggir jalan. Tidak ada gerobak yang berjejer panjang seperti suasana malam di banyak kota Indonesia.
Sebagian besar makanan dijual di restoran permanen, food court, atau hawker centre yang tertata rapi.
Awalnya saya mengira Singapura memang tidak memiliki budaya pedagang kaki lima.
Namun ternyata sejarahnya tidak sesederhana itu.
Dahulu, Singapura pernah memiliki cukup banyak pedagang kaki lima yang memenuhi berbagai sudut kota. Seiring perkembangan kota, pemerintah kemudian melakukan penataan dan memindahkan banyak pedagang ke pusat kuliner yang lebih terorganisir.
Karena itulah pengalaman kuliner di Singapura terasa berbeda dibandingkan Indonesia.
Memahami latar belakang ini membuat saya semakin mengerti mengapa mencari makanan di Singapura terasa berbeda, termasuk ketika mencari makanan halal.
Logo Makanan Halal yang Memberikan Rasa Tenang
Salah satu hal yang membantu wisatawan muslim di Singapura adalah keberadaan sertifikasi halal yang jelas.
Banyak restoran dan gerai makanan menampilkan logo halal resmi sehingga pengunjung dapat lebih mudah mengenali pilihan yang sesuai.
Hal seperti ini ternyata memberikan rasa tenang tersendiri.
Tidak perlu terus-menerus menebak isi menu atau bertanya kepada setiap pelayan restoran.
Cukup memperhatikan informasi yang tersedia, lalu menikmati makanan dengan lebih nyaman.
Bagi sebagian orang, mungkin ini terlihat sepele.
Namun ketika sedang berada di negara lain, rasa tenang saat memilih makanan menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan itu sendiri.
Perjalanan Bukan Hanya Tentang Tempat yang Dikunjungi
Setelah beberapa hari berada di Singapura, saya menyadari bahwa kekhawatiran sebelum berangkat ternyata jauh lebih besar daripada kenyataan yang saya temui.
Makanan halal memang nggak selalu terlihat di setiap sudut jalan seperti di Indonesia.
Namun bukan berarti sulit ditemukan.
Yang dibutuhkan hanyalah mengetahui kawasan yang tepat dan sedikit mencari informasi sebelum berangkat.
Pengalaman mencari makanan halal ini justru membuat perjalanan terasa lebih bermakna.
Kita menjadi lebih sadar terhadap apa yang dikonsumsi, lebih memperhatikan pilihan yang tersedia, dan lebih menghargai kemudahan yang selama ini dianggap biasa.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik…”
(QS. Al-Baqarah: 168)
Ayat tersebut tidak hanya berbicara tentang makanan, tetapi juga tentang kesadaran dalam memilih apa yang masuk ke dalam diri kita.
Saat bepergian ke tempat yang jauh dari rumah, kesadaran itu terasa lebih nyata.
Perjalanan bukan hanya tentang gedung tinggi, pusat perbelanjaan, atau tempat-tempat terkenal yang berhasil dikunjungi.
Perjalanan juga tentang hal-hal sederhana yang sempat membuat kita khawatir sebelum berangkat, lalu ternyata menemukan jawabannya di tengah jalan.