Belum Diaqiqahi Sampai Dewasa, Bolehkah aqiqah Diri Sendiri? Ini Penjelasannya

Seorang pemuda merenungkan masa kecil dan aqiqah yang belum sempat dilakukan

Ada momen-momen kecil dalam hidup yang tiba-tiba membuat kita berpikir panjang.

Misalnya ketika sedang berbincang santai dengan orang tua, lalu tanpa sengaja muncul cerita tentang masa lalu.

“Dulu sebenarnya Ayah ingin mengaqiqahimu, tapi waktu itu belum ada uang.”

Kalimat itu sederhana. Disampaikan dengan nada biasa. Tetapi bagi sebagian orang, kalimat tersebut bisa menimbulkan pertanyaan yang terus terngiang di kepala.

Kalau sekarang sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri, apakah perlu mengaqiqahi diri sendiri? Apakah ada kewajiban yang belum tertunaikan? Dan apakah orang tua berdosa karena belum sempat melakukannya?

Pertanyaan seperti ini sangat wajar.

Apalagi ketika seseorang mulai belajar agama dan ingin menjalankan sunnah dengan lebih baik. Ada keinginan untuk melengkapi hal-hal yang dulu belum sempat dilakukan.

Namun sebelum merasa terbebani, ada satu hal yang penting untuk dipahami, Islam adalah agama yang penuh kemudahan. Allah SWT tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.


Apa Itu Aqiqah?

Aqiqah adalah penyembelihan hewan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”
(HR. Abu Dawud no. 2838, Tirmidzi no. 1522; dinilai sahih oleh para ulama)

Untuk anak laki-laki, disunnahkan dua ekor kambing. Sedangkan untuk anak perempuan, satu ekor kambing.

Aqiqah termasuk sunnah muakkadah, yaitu amalan yang sangat dianjurkan, tetapi tidak sampai wajib.

Artinya, jika dikerjakan ada pahala. Jika tidak dikerjakan karena tidak mampu, tidak ada dosa.


Jika Orang Tua Dulu Belum Mampu Aqiqah, Apakah Berdosa?

Tidak.

Ini adalah poin yang paling penting.

Tidak semua orang tua berada dalam kondisi ekonomi yang lapang ketika anaknya lahir. Ada yang masih berjuang membayar kontrakan, untuk memenuhi kebutuhan pokok, atau untuk memastikan keluarga tetap bisa makan dengan layak.

Dalam kondisi seperti itu, Islam tidak memaksa.

Allah Ta’ala berfirman:

“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.”
(QS. At-Taghabun: 16)

Makna ayat ini sangat menenangkan. Allah SWT mengetahui kondisi setiap hamba-hamba-Nya, termasuk keterbatasan yang pernah dihadapi orang tua kita.

Jadi jika dahulu orang tua belum mampu mengaqiqahi anaknya, mereka tidak berdosa dan tidak perlu merasa bersalah.


Aqiqah Adalah Tanggung Jawab Orang Tua

Secara asal, aqiqah adalah tanggung jawab ayah sebagai penanggung nafkah keluarga.

Bukan kewajiban anak.

Karena itu, ketika seorang anak tumbuh dewasa dan mengetahui bahwa dirinya belum diaqiqahi, tidak ada “utang ibadah” yang otomatis berpindah kepadanya.

Tidak ada kewajiban untuk menebus sesuatu yang dulu belum sempat dilakukan.

Ini berbeda dengan kewajiban pribadi seperti shalat atau puasa yang memang menjadi tanggung jawab masing-masing.

Aqiqah adalah sunnah yang berkaitan dengan kelahiran anak, dan pelaksanaannya ditujukan kepada orang tua yang memiliki kemampuan pada saat itu.


Bolehkah Mengaqiqahi Diri Sendiri Setelah Dewasa?

Inilah bagian yang paling sering ditanyakan.

Jawabannya boleh menurut sebagian ulama, tetapi tidak wajib.

Sebagian ulama dari kalangan tabi’in seperti Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin membolehkan seseorang mengaqiqahi dirinya sendiri jika dahulu belum diaqiqahi.

Namun sebagian ulama lainnya, seperti Imam Malik rahimahullah, berpendapat bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan.

Karena adanya perbedaan pendapat, banyak ulama menjelaskan bahwa masalah ini bersifat longgar.

Jika seseorang ingin melakukannya karena mengikuti pendapat ulama yang membolehkan, maka hal itu tidak mengapa.

Tetapi jika tidak melakukannya, juga tidak ada masalah sama sekali.

Bahkan, pendapat yang lebih kuat menurut banyak ulama adalah bahwa tidak ada tuntunan khusus yang mewajibkan atau menganjurkan seseorang untuk mengaqiqahi dirinya sendiri setelah dewasa.


Mengapa Sebagian Orang Tetap Ingin Melakukannya?

Ada orang yang tetap memilih mengaqiqahi dirinya sendiri.

Bukan karena merasa berdosa.

Bukan karena takut ada kewajiban yang tertunda.

Tetapi karena ingin bersyukur kepada Allah SWT, berbagi dengan keluarga, dan memanfaatkan rezeki yang baru Allah SWT berikan.

Niat seperti ini baik selama tidak diyakini sebagai sesuatu yang wajib.

Dalam Islam, rasa syukur memang bisa diwujudkan dengan banyak cara.

Aqiqah adalah ibadah yang disyariatkan sebagai bentuk rasa syukur kepada AllahSWT , sekaligus sarana berbagi kepada sesama.


Jika Memutuskan untuk Mengaqiqahi Diri Sendiri

Jika seseorang tetap ingin melakukannya, maka tata caranya mengikuti ketentuan aqiqah secara umum.

Untuk Laki-Laki

Disunnahkan dua ekor kambing jika mampu.

Jika belum mampu, sebagian ulama membolehkan satu ekor kambing.

Untuk Perempuan

Satu ekor kambing.

Pembagian Daging

Daging dapat dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan orang-orang yang membutuhkan.

Tujuannya bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menjalankan ibadah dengan niat yang tulus dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain.


Jika Dana Terbatas, Bagaimana?

Ini pertanyaan yang sangat realistis.

Jika dana terbatas, tidak ada keharusan untuk memaksakan aqiqah diri sendiri.

Menggunakan harta untuk kebutuhan keluarga, membantu orang tua, melunasi utang, atau bersedekah kepada yang membutuhkan bisa menjadi pilihan yang sangat baik.

Bahkan jika mendekati bulan Dzulhijjah, sebagian orang memilih menyisihkan dana untuk qurban terlebih dahulu karena ibadah ini memiliki waktu pelaksanaan yang terbatas dan keutamaan yang besar. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit yang bertanya-tanya mana yang sebaiknya didahulukan, qurban atau aqiqah.


Tidak Diaqiqahi Tidak Mengurangi Nilai Seseorang

Sebagian orang merasa ada sesuatu yang kurang ketika mengetahui dirinya belum pernah diaqiqahi.

Padahal, tidak diaqiqahi tidak mengurangi kedudukan seseorang di sisi Allah SWT.

Tidak memengaruhi sahnya shalat.

Tidak memengaruhi sahnya puasa.

Tidak memengaruhi diterimanya doa.

Dan tidak membuat seseorang menjadi kurang mulia.

Yang menentukan nilai seorang hamba adalah iman, ketakwaan, dan amal salehnya.

Bukan apakah dulu keluarganya sempat membeli kambing atau tidak.


Rezeki Tidak Selalu Datang di Waktu yang Sama

Ada keluarga yang ketika anak lahir masih hidup dalam keterbatasan.

Setiap rupiah harus dihitung dengan hati-hati.

Kebutuhan pokok lebih mendesak daripada hal lain.

Tahun demi tahun berlalu.

Anak itu tumbuh besar.

Belajar, bekerja, dan akhirnya memiliki penghasilan sendiri.

Pada titik itu, yang seharusnya muncul bukan rasa kecewa terhadap masa lalu.

Melainkan rasa syukur.

Bahwa Allah SWT memberikan rezeki pada waktu yang Dia kehendaki.

Bahwa keterbatasan orang tua dahulu bukanlah kekurangan.

Dan bahwa kasih sayang mereka tidak pernah diukur dari sempat atau tidaknya mereka melaksanakan aqiqah.


Yang Terpenting Adalah Keikhlasan dan Mengikuti Sunnah

Dalam beribadah, yang paling utama adalah keikhlasan dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.

Bukan sekadar banyaknya harta yang dikeluarkan.

Bukan pula perasaan harus “menebus” sesuatu yang sebenarnya tidak diwajibkan.

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan apa yang belum sempat dilakukan di masa lalu, sampai lupa bahwa Allah SWT masih membuka banyak pintu kebaikan hari ini.

Masih ada kesempatan untuk berbakti kepada orang tua.

Masih ada kesempatan untuk bersedekah.

Masih ada kesempatan untuk memperbaiki shalat, memperbanyak doa, dan menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT.


Aqiqah Sebagai Ungkapan Rasa Syukur

Jika orang tua dahulu belum mampu mengaqiqahi Anda, mereka tidak berdosa.

Aqiqah adalah sunnah muakkadah yang dianjurkan bagi orang tua yang memiliki kemampuan.

Setelah anak dewasa, tidak ada kewajiban untuk mengaqiqahi dirinya sendiri.

Jika ingin melakukannya karena mengikuti pendapat sebagian ulama yang membolehkan, hal itu tidak mengapa.

Jika tidak melakukannya, juga tidak ada masalah sama sekali.

Pada akhirnya, yang terpenting bukan apakah masa lalu terasa lengkap atau tidak.

Yang terpenting adalah bagaimana kita memandang perjalanan hidup dengan hati yang lapang.

Menyadari bahwa orang tua telah berusaha semampu mereka.

Menyadari bahwa rezeki datang sesuai waktu yang Allah SWT tetapkan.

Dan menyadari bahwa kesempatan untuk bersyukur selalu terbuka, selama kita masih diberi umur untuk berbuat baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *