
Ada masa ketika suara mesin bensin terdengar seperti simbol kemajuan. Jalan raya dibangun untuknya, kota-kota melebar karenanya, dan kehidupan modern ikut bergerak mengikuti ritme tangki bahan bakar yang diisi ulang dari satu SPBU ke SPBU berikutnya.
Namun secara perlahan, ritme itu mulai berubah.
Di beberapa kota besar dunia, kendaraan berbahan bakar minyak mulai tidak sebebas dulu. Bukan berarti semua mobil bensin dan diesel langsung dilarang beroperasi besok pagi. Pelan-pelan, lebih rumit, tapi arahnya mulai terlihat, kendaraan yang menghasilkan emisi tinggi semakin dibatasi, sementara kendaraan listrik dan kendaraan rendah emisi mulai diberi ruang lebih besar.
Menariknya, ini bukan sekadar cerita tentang mobil listrik yang tiba-tiba populer. Sejarahnya panjang. Mobil listrik pernah hadir sangat awal dalam dunia otomotif, lalu kalah oleh dominasi mesin bensin, sebelum akhirnya kembali menjadi pusat perhatian.
Pembatasan Kendaraan BBM Tidak Berarti Larangan Total
Salah satu salah paham terbesar dalam isu kendaraan listrik adalah anggapan bahwa negara-negara maju sudah langsung melarang semua kendaraan berbahan bakar minyak. Padahal, yang terjadi jauh lebih bertahap.
Ada kota yang memulai dari kendaraan diesel tua. Ada yang membuat zona emisi rendah. Ada yang mengenakan biaya harian bagi kendaraan berpolusi. Ada juga yang tidak melarang kendaraan lama, tetapi menghentikan penjualan atau registrasi kendaraan baru berbasis mesin pembakaran internal.
Dengan kata lain, mobil bensin dan diesel belum benar-benar “diusir” dari jalan raya. Tetapi ruang geraknya mulai diatur.
Di titik ini, dunia seperti sedang mengirim sinyal, kendaraan BBM masih bisa berjalan, tetapi masa ketika mereka mendapat tempat paling nyaman di kota-kota besar mulai pelan-pelan berakhir.
Oxford, Zona Kecil yang Jadi Sinyal Besar
Salah satu contoh menarik datang dari Oxford, Inggris. Kota ini menerapkan Zero Emission Zone atau ZEZ di sebagian area pusat kota.
Di Oxford, Inggris, Zero Emission Zone atau ZEZ mulai berjalan pada 28 Februari 2022 di sejumlah ruas pusat kota. Melalui skema ini, kendaraan bensin, diesel, termasuk hybrid dikenakan biaya harian jika masuk zona tersebut, sementara kendaraan nol emisi seperti mobil listrik bisa melintas tanpa biaya. Oxford City Council menyebutnya sebagai Zero Emission Zone pertama di Inggris. (Oxford City Council).
Dari luar, kebijakan ini mungkin terlihat kecil karena hanya berlaku di area tertentu. Tetapi secara simbolik, pesannya besar. Kota tidak lagi hanya bertanya, “Berapa banyak kendaraan yang bisa masuk?” Melainkan mulai bertanya, “Kendaraan seperti apa yang layak masuk?”
London, Bukan Hanya Mobil Listrik, Tapi Standar Emisi
London memilih pendekatan yang berbeda. Ibu kota Inggris itu menerapkan Ultra Low Emission Zone atau ULEZ, sebuah zona emisi rendah yang mencakup seluruh borough London.
Aturannya bukan hanya “mobil listrik boleh, mobil bensin tidak boleh”. Lebih tepatnya, kendaraan yang tidak memenuhi standar emisi harus membayar biaya harian jika ingin masuk atau berkendara di area tersebut. Transport for London menyebut ULEZ berlaku 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, kecuali Hari Natal, dan kendaraan yang tidak memenuhi standar harus membayar biaya harian (Transport for London).
Model seperti ini terasa lebih realistis untuk kota besar yang sudah dipenuhi jutaan kendaraan. London tidak langsung mematikan mesin-mesin lama. Namun mereka membuat polusi menjadi sesuatu yang punya harga.
Dan ketika polusi mulai punya harga, perlahan perilaku orang ikut berubah.
Amsterdam, Dari Skuter Sampai Truk Mulai Diatur
Amsterdam juga menjadi contoh penting. Kota ini menerapkan low emission zone dan zero-emission zone untuk beberapa jenis kendaraan, termasuk van, truk, moped, dan skuter.
Untuk moped dan skuter, Amsterdam menyatakan bahwa hanya moped dan skuter listrik yang akan diizinkan di zona nol emisi. Jika seseorang membeli moped atau skuter baru mulai 2025, kendaraan itu harus listrik agar bisa digunakan di area built-up Amsterdam. Ada masa transisi untuk kendaraan lama, tetapi mulai 2030 hanya moped dan skuter nol emisi yang diizinkan di zona tersebut (City of Amsterdam).
Untuk truk, Amsterdam juga menerapkan aturan bertahap. Truk baru yang terdaftar mulai 1 Januari 2025 harus bebas emisi agar bisa masuk zona nol emisi di pusat kota. Ada masa transisi untuk sebagian truk berbahan bakar fosil, tetapi mulai 2030 hanya truk nol emisi yang diizinkan (City of Amsterdam).
Ini menarik karena elektrifikasi tidak hanya menyasar mobil pribadi. Kendaraan niaga, logistik kota, skuter, dan transportasi harian kecil juga ikut masuk dalam peta perubahan.
Singapura, Registrasi Baru Mulai Dibatasi
Di Asia Tenggara, Singapura menjadi salah satu negara yang bergerak cukup tegas.
Pemerintah Singapura menyatakan bahwa registrasi baru mobil dan taksi diesel dihentikan mulai 2025. Mulai 2030, semua registrasi baru mobil dan taksi harus berupa model cleaner-energy. Visi besarnya adalah seluruh kendaraan berjalan dengan energi lebih bersih pada 2040 (Ministry of Transport Singapore).
Istilah cleaner-energy di Singapura tidak selalu berarti BEV atau mobil listrik murni. Dalam beberapa kebijakan, model yang lebih efisien seperti hybrid juga masih masuk dalam masa transisi. Karena itu, penting membedakan jenis kendaraan elektrifikasi seperti HEV, MHEV, PHEV, dan REEV, sebab tidak semua kendaraan “beraroma listrik” bekerja dengan cara yang sama.
Singapura menunjukkan bahwa transisi energi di transportasi bukan hanya urusan membeli mobil listrik. Tapi juga menyangkut pajak, registrasi, infrastruktur pengisian daya, dan arah kebijakan jangka panjang.
Uni Eropa dan Inggris, Menyasar Kendaraan Baru
Di level kawasan, Uni Eropa punya target besar. Parlemen Eropa menjelaskan bahwa mulai 2035, semua mobil dan van baru yang dijual di Uni Eropa tidak boleh menghasilkan emisi CO2. Namun aturan ini tidak berarti mobil bensin dan diesel lama langsung dilarang digunakan. Mobil yang sudah ada tetap bisa dipakai, dan kendaraan bekas berbahan bakar bensin atau diesel masih dapat diperjualbelikan (European Parliament).
Inggris Raya juga menetapkan jalur menuju kendaraan nol emisi. Pemerintah Inggris menyebut 80 persen mobil baru dan 70 persen van baru yang dijual di Great Britain harus nol emisi pada 2030, lalu meningkat menjadi 100 persen pada 2035 (GOV.UK).
Sekali lagi, yang disasar dulu adalah pasar kendaraan baru. Artinya, perubahan besar tidak terjadi dalam satu malam. Tapi datang lewat siklus pembelian kendaraan, umur pakai mobil, dan keputusan produsen otomotif.
Norwegia, Tidak Selalu Lewat Larangan, Bisa Lewat Insentif
Norwegia sering disebut sebagai contoh paling maju dalam adopsi mobil listrik. Namun menariknya, pendekatan negara ini tidak semata-mata berupa larangan keras.
Dalam National Transport Plan, Norwegia menetapkan target bahwa semua mobil penumpang baru dan van ringan baru menjadi kendaraan nol emisi mulai 2025. Target serupa juga berlaku untuk bus kota baru, sementara kendaraan berat punya target bertahap menuju 2030 (Government of Norway).
Kuncinya bukan hanya melarang, tetapi membuat kendaraan listrik menjadi pilihan yang masuk akal. Pajak, insentif, biaya jalan, dan infrastruktur pengisian daya ikut membentuk perilaku pasar. Hasilnya, pembeli mobil baru di Norwegia bergerak sangat cepat ke kendaraan listrik.
Norwegia memberi pelajaran penting, perubahan paling efektif bukan datang dari satu aturan yang keras, tetapi dari ekosistem yang membuat pilihan lama terasa semakin tidak menarik.
Apa Artinya untuk Indonesia?
Indonesia belum menerapkan pembatasan kendaraan BBM seketat London, Oxford, Amsterdam, atau Singapura. Jalan-jalan kita masih sangat akrab dengan mesin bensin dan diesel. Dari motor harian, angkot, truk logistik, mobil keluarga, sampai kendaraan niaga kecil, bahan bakar fosil masih menjadi tulang punggung mobilitas.
Namun tanda-tanda perubahan mulai terlihat. Bus listrik sudah hadir di Jakarta. SPKLU bertambah. Mobil listrik dari berbagai merek masuk pasar. Motor listrik mulai mendapat tempat, meski adopsinya belum semulus yang dibayangkan. Pemerintah juga mendorong ekosistem baterai dan kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi industri.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia akan ikut berubah, tetapi seberapa cepat dan seberapa siap perubahan itu dijalani.
Sebab pembatasan kendaraan BBM bukan hanya soal lingkungan. Ia menyentuh kebiasaan sehari-hari orang banyak. Cara berangkat kerja. Ongkos logistik. Harga kendaraan. Kesiapan listrik rumah. Ketersediaan charger. Bahkan rasa aman saat bepergian jauh.
Harus berhati-hati, jika transisi dilakukan terlalu cepat tanpa infrastruktur, nanti masyarakat bisa merasa ditinggalkan.
Era Mobil Bensin Belum Selesai, Tapi Arah Jalan Mulai Berubah
Mobil bensin belum akan hilang besok. Diesel belum langsung lenyap dari jalan. SPBU juga tidak akan tiba-tiba berubah menjadi museum.
Tetapi dunia sedang bergerak ke arah yang berbeda. Bukan dengan satu tombol besar yang mematikan semua mesin lama, melainkan lewat aturan kecil yang terus bertambah, zona emisi rendah, biaya masuk kendaraan polutif, larangan registrasi baru, target kendaraan nol emisi, insentif pajak, dan pembangunan infrastruktur pengisian daya.
Dulu, kota-kota dibentuk mengikuti kebutuhan mesin pembakaran internal. Sekarang, pelan-pelan, kota mulai menata ulang hubungannya dengan kendaraan.
Inilah fase paling menarik dari transisi transportasi. Bukan saat mobil listrik terlihat futuristis di jalan, tetapi saat kita sadar bahwa masa depan mobilitas tidak hanya ditentukan oleh teknologi di balik kap mesin. Ia juga ditentukan oleh udara yang kita hirup, jalan yang kita bagi, dan keberanian kota-kota untuk memilih masa depan yang lebih bersih.