
Bolehkah Safar di Bulan Ramadhan?
Ramadhan sering dibayangkan sebagai bulan yang tenang. Suasana masjid ramai, waktu terasa lebih pelan, dan hati seperti diajak untuk diam lebih lama.
Tapi pernah nggak, kamu sudah menunggu Ramadhan dengan tenang… lalu tiba-tiba jadwal perjalanan datang?
Tiket sudah dibeli. Meeting tidak bisa ditunda. Atau mungkin harus mudik jauh saat puasa baru berjalan beberapa hari. Di satu sisi ingin maksimal beribadah. Di sisi lain, perjalanan tidak bisa dihindari.
Lalu muncul rasa bersalah di dalam hati kecil.
“Kalau safar saat Ramadhan, apa aku berdosa?”
“Kalau tidak puasa karena perjalanan, apa aku berdosa?”
Tenang. Islam tidak pernah datang hanya untuk membuatmu gelisah.
Ramadhan dan Perjalanan: Apakah Diperbolehkan?
Jawabannya: boleh.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 bahwa orang yang sedang sakit atau dalam perjalanan (safar) boleh mengganti puasanya di hari lain.
Ayat ini bukan sekadar izin. Ini adalah bentuk kasih sayang.
Artinya, sejak awal Islam sudah memahami bahwa perjalanan itu melelahkan. Safar bukan kondisi biasa. Ia menguras tenaga, pikiran, dan kadang emosi.
Ya, pernah.
Salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam terjadi di bulan Ramadhan, yaitu Fathu Makkah.
Dalam perjalanan itu, Rasulullah ﷺ sempat berpuasa. Namun ketika melihat para sahabat mulai merasa berat, beliau berbuka.
Dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih al-Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berpuasa saat safar, dan pernah juga tidak berpuasa.
Artinya?
Islam memberi pilihan. Bukan paksaan.
Safar yang Seperti Apa yang Mendapat Keringanan di Saat Ramadhan?
Ulama menjelaskan bahwa safar yang dimaksud adalah perjalanan jauh (sekitar 80–90 km atau lebih), keluar dari batas wilayah tempat tinggal, dan bukan untuk tujuan maksiat.
Kalau sekadar keliling dalam kota, biasanya belum termasuk safar secara syariat.
Intinya: benar-benar perjalanan, bukan alasan yang dibuat-buat. Apalagi di sengaja biar bisa nggak puasa.
Apa Saja yang Dibolehkan Saat Safar di Bulan Ramadhan?
Ketika seseorang safar, ia mendapat beberapa keringanan:
- Boleh tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain
- Boleh mengqashar shalat (empat rakaat menjadi dua)
- Boleh menjamak shalat
Semua ini bukan celah untuk bisa bermalas-malasan.
Ini adalah kemudahan agar ibadah tetap berjalan, meski tubuh sedang bergerak jauh.
Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Saat Safar Ramadhan
Ada hal-hal yang perlu dijaga:
- Jangan sengaja membuat perjalanan hanya untuk menghindari puasa
- Jangan meremehkan ibadah karena merasa “sedang safar”
- Jangan lupa shalat hanya karena jadwal padat
Safar bukan alasan untuk bermalas-malasan dalam beribadah.
Lalu Apa yang Tetap Dilarang Saat Ramadhan?
Baik sedang safar maupun tidak, yang haram tetap haram:
- Makan dan minum sengaja tanpa uzur
- Hubungan suami istri di siang hari
- Perkataan kotor, marah berlebihan
- Perbuatan maksiat
Ramadhan tetap bulan suci, meski kita sedang berada di bandara, rest area, atau kursi bus antar kota.
Safar, Ramadhan, dan Tentang Kemudahan
Islam adalah agama yang realistis. Ia tahu manusia berjalan, bekerja, berpindah tempat. Dan di setiap perjalanan itu, Allah SWT memberi ruang kemudahan.
Safar di bulan Ramadhan bukan penghalang ibadah.
Ia justru pengingat bahwa rahmat Allah SWT selalu mengikuti ke mana pun kita melangkah.
Jadi, Safar di Bulan Ramadhan, Harus Puasa atau Boleh Nggak Puasa?
Kalau kuat, silakan tetap berpuasa.
Kalau terasa berat, boleh berbuka dan mengganti di hari lain.
Bukan tentang mana yang lebih hebat.
Karena puasa Ramadhan bukan lomba tahan lapar.
Duduk di kendaraan dengan AC yang sejuk, dengan jarak kurang lebih dari 300 km hanya 5 jam perjalanan, puasa Ramadhan apa nggak?