
Saat Idul Adha tiba, suasana biasanya berubah jadi lebih hangat dari hari-hari biasa. Ada suara takbir yang masih terdengar sejak pagi, aroma bumbu mulai keluar dari dapur, dan halaman rumah perlahan dipenuhi aktivitas mengolah daging qurban bersama keluarga.
Di Indonesia, momen seperti ini hampir selalu identik dengan sate, gulai, tongseng, atau rendang. Asap pembakaran sate sering terlihat di gang-gang kecil, sementara panci besar gulai mulai dimasak sejak siang.
Tapi ternyata, negara muslim lain juga punya tradisi kuliner khas mereka sendiri saat Idul Adha. Menariknya, meski menunya berbeda-beda, suasana yang terasa justru mirip, hangat, ramai, dan penuh kebersamaan.
Dalam Islam sendiri, daging qurban memang bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Ada nilai berbagi dan kebersamaan di dalamnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah.”
(HR. Muslim)
Hadis singkat itu terasa sangat dekat dengan suasana Idul Adha di berbagai negara. Ada yang memasaknya jadi nasi rempah, ada yang dipanggang utuh, ada juga yang dimasak perlahan berjam-jam hingga empuk. Dari Timur Tengah sampai Asia Selatan, setiap tempat punya rasa dan cerita sendiri.
Turki: Aroma Kebab dan Daging Panggang yang Menghangatkan Rumah
Di Turki, salah satu hidangan yang paling identik dengan Idul Adha adalah kavurma, yaitu daging sapi atau kambing yang dimasak perlahan menggunakan lemaknya sendiri hingga empuk dan gurih.
Makanan ini biasanya disantap bersama nasi pilaf, roti hangat, atau yogurt khas Turki.
Selain kavurma, berbagai jenis kebab juga menjadi sajian yang sangat populer saat hari raya. Aroma daging panggang sering memenuhi lingkungan rumah sejak siang hari, terutama di kota-kota kecil yang masih menjaga tradisi memasak bersama keluarga besar.

Berbeda dengan restoran kebab yang sering ditemui sehari-hari, kebab saat Idul Adha di Turki terasa lebih personal. Banyak keluarga langsung memasak daging qurban di hari pertama, lalu membagikannya kepada tetangga dan kerabat terdekat.
India: Biryani yang Kaya Rempah dan Aroma yang Sulit Dilupakan

Kalau berbicara soal Idul Adha di India, sulit rasanya memisahkan momen itu dari aroma biryani.
Di beberapa kota seperti Hyderabad atau Lucknow, banyak rumah mulai memasak sejak pagi. Wangi kapulaga, kayu manis, cengkeh, dan daging kambing perlahan memenuhi udara.
Biryani khas Idul Adha biasanya menggunakan potongan daging kambing besar dengan nasi berbumbu rempah pekat. Rasanya kaya, hangat, dan sangat khas Asia Selatan.
Selain biryani, ada juga nihari, semur daging yang dimasak sangat lama hingga kuahnya menjadi kental dan penuh rasa.
Yang menarik, tradisi memasak saat Idul Adha di India sering menjadi acara keluarga besar. Ada yang membantu memotong bawang, mengaduk nasi, sampai menjaga api kompor agar masakan matang perlahan.
Kadang bukan hanya soal makanannya, tapi soal rumah yang kembali ramai.
Pakistan: Karahi Besar dan Momen Masak Bareng Sampai Malam
Di Pakistan, suasana Idul Adha juga sangat hidup. Salah satu hidangan yang paling populer adalah karahi gosht, yaitu daging yang dimasak dalam wajan besar bersama tomat, cabai, bawang, dan rempah-rempah khas Pakistan.
Masakan ini biasanya dimasak dalam porsi besar dan disantap ramai-ramai.
Selain karahi, seekh kebab dan yakhni pulao juga sering hadir di meja makan saat Idul Adha.
Yang membuat suasana Pakistan terasa khas adalah budaya memasak bersama. Di beberapa tempat, keluarga dan tetangga bisa berkumpul sampai malam hanya untuk memasak dan menikmati hasil qurban bersama-sama.
Ada suasana akrab yang terasa sederhana, tapi justru itulah yang paling dirindukan ketika hari raya selesai.
Arab Saudi: Kabsa dan Mandi dalam Nampan Besar
Kalau di Indonesia orang akrab dengan sate dan gulai, di Arab Saudi banyak keluarga yang menyambut Idul Adha dengan kabsa atau mandi.
Keduanya adalah hidangan nasi rempah khas Timur Tengah dengan potongan daging kambing atau sapi berukuran besar.
Yang membuatnya menarik bukan hanya rasanya, tetapi juga cara menikmatinya. Banyak rumah di Arab Saudi, makanan disajikan dalam nampan besar dan dimakan bersama-sama.

Suasananya terasa hangat dan sederhana.
Nasi yang harum rempah dipadukan dengan daging empuk membuat hidangan ini sangat identik dengan momen berkumpul keluarga saat Idul Adha.
Di beberapa daerah, tradisi berbagi makanan ke tetangga juga masih sangat kuat. Tidak sedikit keluarga yang mengirim sebagian masakan mereka ke rumah kerabat atau orang sekitar setelah selesai dimasak.
Maroko: Kambing Panggang dan Tagine yang Penuh Aroma Rempah
Sementara itu di Maroko, Idul Adha identik dengan mechoui, yaitu kambing panggang dengan bumbu sederhana yang dimasak perlahan hingga dagingnya lembut.
Selain mechoui, masyarakat Maroko juga terkenal dengan tagine, masakan daging berkuah yang dimasak menggunakan wadah tanah liat khas Afrika Utara.
Tagine sering dipadukan dengan zaitun, lemon asin, atau rempah-rempah hangat yang aromanya sangat khas.
Kuliner Maroko saat Idul Adha terasa berbeda dibanding Asia karena punya perpaduan rasa gurih dan sedikit manis yang unik.
Namun di balik semua itu, suasananya tetap sama, yaitu keluarga berkumpul, dapur ramai, dan makanan menjadi bagian dari cara merayakan kebersamaan.
Mesir: Fattah, Hidangan Turun-Temurun Saat Hari Raya
Di Mesir, salah satu hidangan khas Idul Adha yang cukup terkenal adalah fattah.
Makanan ini terdiri dari nasi, potongan roti, kuah bawang putih dan cuka, lalu diberi daging sapi atau kambing di atasnya.
Sekilas sederhana, tetapi bagi banyak keluarga Mesir, fattah adalah makanan yang selalu hadir saat hari raya qurban.
Teksturnya unik karena ada lapisan roti di bawah nasi, membuat rasanya berbeda dari hidangan Timur Tengah lainnya.
Bagi sebagian orang Mesir, aroma fattah bahkan bisa langsung mengingatkan mereka pada suasana rumah saat kecil dan momen berkumpul bersama keluarga.
Indonesia Juga Punya Tradisi Kuliner Idul Adha yang Sangat Kaya
Meski negara-negara lain punya hidangan khas yang menarik, Indonesia sebenarnya termasuk salah satu negara dengan tradisi kuliner Idul Adha paling beragam.
Ada sate Madura yang dibakar dengan bumbu kacang kental, gulai khas Minang yang kaya rempah, tengkleng Solo dengan kuah gurih pedas, sampai tongseng Jawa yang manis dan hangat.
Di beberapa rumah, aroma masakan bahkan sudah tercium sejak pagi setelah pembagian daging selesai.

Menariknya, tradisi ini sering diwariskan turun-temurun. Ada resep yang tetap dipakai dari zaman orang tua dulu, ada juga kebiasaan masak bersama keluarga yang terus dipertahankan setiap tahun.
Pada Akhirnya, Bukan Hanya Soal Makanan
Meski menu Idul Adha di setiap negara berbeda-beda, semuanya seperti punya benang merah yang sama.
Ada rumah yang kembali ramai. Ada keluarga yang berkumpul meski biasanya sibuk sendiri-sendiri. Ada aroma masakan yang tiba-tiba membawa kenangan masa kecil. Ada juga tetangga yang saling mengirim makanan tanpa perlu banyak kata.
Mungkin itu sebabnya makanan saat Idul Adha terasa berbeda dibanding hari biasa.
Karena yang dirindukan sebenarnya bukan cuma sate, biryani, atau kabsa. Tetapi suasana hangat di baliknya.
Dari dapur sederhana di Indonesia sampai meja makan besar di Timur Tengah, Idul Adha selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan bahwa berbagi makanan sering kali juga berarti berbagi kebahagiaan.