
Saat Idul Adha tiba, aroma sate yang mengepul dari halaman rumah atau gulai yang matang di dapur menjadi pemandangan yang akrab bagi keluarga di Indonesia. Daging hewan qurban diolah menjadi berbagai hidangan yang sudah begitu dekat dengan keseharian, mulai dari sate, tongseng, rendang, hingga gulai.
Namun jika menengok ke berbagai negara lain, cara masyarakat mengolah hewan qurban ternyata bisa sangat berbeda. Bukan hanya daging yang dimanfaatkan, tetapi juga kepala, kaki, hingga jeroan yang diolah menjadi makanan khas dengan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Beberapa di antaranya mungkin terdengar tidak biasa bagi sebagian orang. Ada kepala kambing yang disajikan utuh di meja makan, usus yang diisi nasi berbumbu, hingga hidangan yang direbus semalaman agar seluruh bagian hewan menjadi empuk dan kaya rasa.
Di balik keunikannya, hidangan-hidangan tersebut menunjukkan satu hal yang sama, bagaimana masyarakat di berbagai belahan dunia berusaha memanfaatkan hasil qurban dengan cara yang sesuai dengan budaya dan tradisi mereka.
Bouzellouf, Saat Kepala Kambing Menjadi Hidangan Utama di Maroko
Jika di Indonesia kepala kambing lebih sering diolah menjadi gulai atau sop, di Maroko ada hidangan bernama Bouzellouf yang menggunakan kepala kambing atau domba sebagai bahan utama.
Prosesnya dimulai dengan membakar bulu yang masih menempel pada kepala hingga bersih. Setelah itu kepala dicuci dan direbus atau dikukus bersama rempah-rempah khas setempat hingga empuk.
Yang membuat banyak orang terkejut adalah cara penyajiannya. Kepala kambing biasanya disajikan dalam kondisi utuh. Bagian pipi, lidah, dan daging di sekitar rahang menjadi bagian yang paling banyak dinikmati karena teksturnya yang lembut.

Bagi masyarakat Maroko, hidangan ini bukan sesuatu yang aneh. Sebaliknya, Bouzellouf justru menjadi salah satu cara untuk menghargai hasil qurban dengan memanfaatkan bagian yang sering kali diabaikan di tempat lain.
Pacha dari Irak, Kepala, Kaki, dan Jeroan Hewan Qurban Direbus Semalaman
Di Irak, terdapat hidangan tradisional bernama Pacha yang dikenal karena penggunaan berbagai bagian hewan sekaligus.
Dalam satu panci besar, kepala kambing, kaki, perut, dan usus direbus dalam waktu yang sangat lama, bahkan bisa berlangsung semalaman. Proses memasak yang panjang membuat daging menjadi sangat lunak dan kaldu yang dihasilkan terasa kaya serta pekat.

Bagi sebagian orang, membayangkan semua bagian tersebut berada dalam satu hidangan mungkin terasa tidak biasa. Namun bagi masyarakat Irak, Pacha merupakan makanan yang memiliki nilai tradisi yang kuat dan sering dinikmati bersama keluarga pada momen-momen tertentu, termasuk setelah pelaksanaan qurban.
Hidangan ini juga mencerminkan prinsip yang sederhana, memanfaatkan sebanyak mungkin bagian hewan tanpa menyisakan banyak yang terbuang.
Mombar dari Mesir, Usus yang Berubah Menjadi “Wadah” Nasi Berbumbu
Jika mendengar kata usus, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan sate usus atau gulai.
Di Mesir, usus justru digunakan dengan cara yang berbeda.
Hidangan bernama Mombar dibuat dengan membersihkan usus secara menyeluruh, kemudian mengisinya dengan campuran nasi, tomat, bawang, dan berbagai rempah khas Timur Tengah.
Setelah terisi penuh, usus direbus hingga matang lalu digoreng agar bagian luarnya menjadi sedikit renyah.
Hasil akhirnya sekilas menyerupai sosis berukuran besar. Namun ketika dipotong, bagian dalamnya memperlihatkan nasi berbumbu yang padat dan harum.

Bagi banyak wisatawan, Mombar sering menjadi salah satu makanan yang paling mengejutkan sekaligus menarik untuk dicoba.
Osban dari Tunisia, Sosis Tradisional yang Terbuat dari Jeroan
Tunisia juga memiliki cara tersendiri dalam memanfaatkan bagian-bagian hewan qurban.
Hidangan bernama Osban dibuat dari campuran hati, paru-paru, jantung, dan limpa yang dicincang halus lalu dicampur dengan rempah-rempah serta sayuran aromatik.
Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam usus yang berfungsi sebagai pembungkus alami.
Setelah direbus hingga matang, Osban siap disajikan sebagai makanan utama atau pelengkap hidangan lainnya.
Bagi masyarakat Tunisia, Osban bukan sekadar makanan. Hidangan ini menjadi bagian dari tradisi keluarga yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Indonesia Juga Punya Hidangan Unik dari Bagian Tertentu Hewan Qurban
Meski beberapa hidangan di atas terdengar cukup ekstrem bagi sebagian orang, Indonesia sebenarnya tidak kalah kreatif dalam memanfaatkan berbagai bagian hewan qurban.
Selain berbagai hidangan khas Idul Adha di berbagai negara, Nusantara juga memiliki sejumlah olahan yang lahir dari kebiasaan masyarakat yang memanfaatkan bagian-bagian tertentu dari hewan secara maksimal.
Tengkleng Solo, Menikmati Sisa yang Justru Menjadi Legenda
Tengkleng merupakan salah satu contoh terbaik.
Hidangan khas Solo ini menggunakan bagian tulang, leher, kepala, hingga kaki kambing yang masih menyisakan sedikit daging.
Bagian-bagian tersebut direbus lama bersama rempah-rempah hingga menghasilkan kuah yang gurih dan kaya aroma.
Menikmati tengkleng bukan hanya soal makan. Ada pengalaman tersendiri ketika harus menggerogoti daging yang masih menempel di sela-sela tulang.
Justru di situlah letak daya tariknya.

Gulai Otak, Hidangan yang Tidak Semua Orang Berani Mencoba
Di Sumatra Barat, otak sapi atau kambing dapat diolah menjadi gulai yang kaya rempah.
Otak dibersihkan dengan hati-hati, direbus sebentar, lalu dimasak dalam kuah santan yang kental dengan bumbu khas Minang.
Teksturnya lembut dan berbeda dari daging biasa. Sebagian orang menyukainya, sebagian lainnya mungkin merasa ragu untuk mencobanya.
Namun itulah salah satu contoh bagaimana masyarakat Indonesia mampu mengolah bagian hewan yang jarang digunakan menjadi hidangan yang bernilai kuliner tinggi.
Gulai Tunjang, Olahan Kikil yang Kaya Rasa
Hidangan lain yang cukup populer adalah gulai tunjang.
Bahan utamanya berasal dari kikil atau kulit kaki sapi yang direbus dalam waktu lama hingga empuk.
Setelah itu kikil dimasak kembali dalam kuah santan berbumbu yang kaya rempah.
Teksturnya yang kenyal membuat gulai tunjang memiliki penggemar tersendiri, terutama di kalangan pecinta masakan Minang.
Di Balik Hidangan yang Berbeda, Ada Nilai yang Sama
Melihat berbagai hidangan tersebut, menarik untuk menyadari bahwa setiap negara memiliki cara yang berbeda dalam memandang dan memanfaatkan hasil qurban.
Apa yang dianggap biasa di satu tempat bisa terasa asing di tempat lain.
Kepala kambing utuh yang lazim disajikan di Maroko mungkin membuat sebagian orang Indonesia terkejut. Sebaliknya, gulai otak atau tengkleng yang akrab bagi masyarakat Indonesia bisa saja terdengar unik bagi orang dari negara lain.
Namun di balik semua perbedaan itu, terdapat satu benang merah yang sama, keinginan untuk memanfaatkan hasil qurban dengan sebaik-baiknya.
Tradisi kuliner yang lahir di berbagai negara menunjukkan bagaimana makanan tidak hanya berbicara tentang rasa. Ia juga menyimpan cerita tentang budaya, kebiasaan, dan cara masyarakat menghargai apa yang mereka miliki.
Menariknya, nilai tersebut sejalan dengan pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah untuk dimakan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta.”
(QS. Al-Hajj: 36)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang berbagi, tetapi juga tentang pemanfaatan hasil qurban yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Mungkin itulah sebabnya, dari Maroko hingga Indonesia, dari kepala kambing utuh hingga semangkuk tengkleng hangat, selalu ada cerita yang lebih besar daripada sekadar makanan di atas meja.
Di setiap suapan, tersimpan jejak tradisi, rasa syukur, dan cara manusia merawat warisan yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan di tengah beragamnya budaya yang ada, kita diingatkan bahwa sebuah hidangan sederhana pun bisa menjadi penghubung antara ibadah, kebersamaan, dan kemanusiaan.