Mau Masak Rendang atau Tengkleng? Ini Masakan Daging Qurban Khas Berbagai Daerah di Indonesia

Warga Indonesia memasak dan membakar sate dari daging qurban bersama setelah Idul Adha di halaman kampung

Suasana Idul Adha di Indonesia hampir selalu punya aroma yang khas. Di satu sudut kampung tercium asap arang untuk sate yang mulai dibakar sejak siang, di tempat lain ada bau rempah gulai yang keluar dari dapur rumah. Anak-anak mondar-mandir membawa kantong daging qurban, sementara orang dewasa sibuk memotong, membagi, lalu ada satu pertanyaan sederhana. “Hari ini dimasak jadi apa?”

Momen setelah pembagian daging qurban memang selalu terasa hangat. Tidak hanya soal makanan, tetapi juga tentang kebersamaan yang muncul hampir di setiap rumah. Ada keluarga yang langsung memasak bersama, ada tetangga yang saling bertukar masakan, dan ada pula warga yang memasak dalam jumlah besar untuk dimakan ramai-ramai.

Menariknya, setiap daerah di Indonesia punya cara berbeda dalam mengolah daging qurban saat Idul Adha. Ada yang identik dengan sate, ada yang memilih kuah rempah pekat, ada pula yang terkenal dengan olahan tulang dan jeroan agar tidak ada bagian yang terbuang.

Sebelum mulai memasak, biasanya banyak orang yang mulai memilih lebih dulu bagian mana daging yang paling cocok untuk sate, gulai, atau rendang agar hasil masakannya lebih pas dan tidak alot.

Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah ﷺ juga menganjurkan umatnya untuk menikmati dan berbagi daging qurban. Beliau bersabda:

“Makanlah, simpanlah, dan sedekahkanlah.”
(HR. Muslim)

Hadis singkat ini terasa dekat dengan suasana Idul Adha di Indonesia. Ada yang dimasak untuk keluarga, ada yang disimpan untuk beberapa hari ke depan, dan ada yang dibagikan kepada tetangga serta orang-orang yang membutuhkan.

Di balik aroma sate dan kuah gulai itu, sebenarnya ada cerita panjang tentang tradisi, budaya, dan kebersamaan yang terus hidup dari generasi ke generasi.


Aceh dan Kuah Beulangong yang Dimakan Bersama-sama

Di Aceh, salah satu masakan yang paling identik dengan momen Idul Adha adalah Kuah Beulangong.

Masakan ini biasanya dimasak dalam kuali besar dengan jumlah yang tidak sedikit. Daging sapi atau kambing dimasak bersama nangka muda dan rempah-rempah khas Aceh yang kuat aromanya. Yang menarik, proses memasaknya sering dilakukan bersama-sama oleh warga.

Di beberapa daerah, orang-orang bergantian mengaduk kuah dalam beulangong atau kuali besar. Asap naik perlahan, suara obrolan terdengar di sekitar dapur umum, sementara anak-anak mulai menunggu kapan masakan matang.

Kuah Beulangong bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol kebersamaan saat hari raya.


Rendang dan Gulai, Tradisi yang Sangat Dekat dengan Orang Minang

Kalau berbicara tentang olahan daging di Sumatera Barat, banyak orang langsung teringat rendang.

Tidak heran jika saat Idul Adha tiba, daging qurban di banyak rumah makan atau dapur keluarga Minang langsung diolah menjadi rendang, gulai, atau kalio. Bumbu rempah yang kaya membuat masakan terasa lebih kuat dan tahan lama.

Rendang juga punya kelebihan lain, yaitu cocok untuk memasak daging dalam jumlah banyak. Karena itu, tradisi memasak rendang saat Idul Adha terasa sangat alami di tanah Minang.

Selain rendang, gulai kambing dan sate Padang juga cukup sering muncul di meja makan keluarga saat hari raya qurban.


Madura dan Aroma Sate yang Mulai Tercium Sejak Sore

Di Madura, suasana Idul Adha sering identik dengan sate kambing.

Menjelang sore, halaman rumah mulai ramai dengan bara arang. Daging dipotong kecil-kecil, ditusuk, lalu dibakar perlahan sambil dioles bumbu kecap atau bumbu kacang khas Madura.

Aroma asap sate biasanya langsung memenuhi gang-gang kampung.

Tradisi ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah kehangatannya. Orang-orang berkumpul, membakar sate bersama, lalu makan ramai-ramai tanpa acara resmi yang rumit.

Banyak keluarga di Madura juga punya cara khusus untuk mengolah kambing agar tidak bau prengus. Bahkan ada yang menggunakan rempah tertentu atau teknik marinasi turun-temurun.


Betawi dan Semur yang Selalu Mengingatkan pada Rumah

Di masyarakat Betawi, olahan daging qurban sering berubah menjadi semur, gulai, atau soto tangkar.

Semur Betawi punya rasa manis gurih yang khas dengan aroma pala dan kecap yang kuat. Hidangan ini terasa “rumahan” dan dekat dengan suasana kumpul keluarga.

Sementara soto tangkar identik dengan bagian iga dan tulang sapi yang dimasak dalam kuah santan berbumbu.

Di beberapa rumah, masakan seperti ini justru lebih ditunggu dibanding hidangan mewah lainnya karena terasa akrab sejak kecil.


Jawa Tengah dan Tradisi Tengkleng yang Tidak Membiarkan Apa Pun Terbuang

Di Solo dan beberapa daerah Jawa Tengah lainnya, tengkleng dan tongseng menjadi hidangan yang sangat identik dengan daging qurban.

Tengkleng dikenal sebagai masakan berbahan tulang kambing dengan sedikit sisa daging yang masih menempel. Dulu, makanan ini lahir dari kebiasaan masyarakat memanfaatkan bagian yang tersisa agar tidak terbuang begitu saja.

Kuahnya gurih, sedikit manis, dan penuh aroma rempah.

Sementara tongseng biasanya dimasak bersama kol, tomat, dan cabai dengan kuah kecap yang hangat.

Karena daging qurban kadang memiliki tekstur lebih keras, banyak orang juga memasaknya perlahan agar lebih empuk dan bumbu meresap sempurna. 

Rendang dan tengkleng khas Indonesia yang sering dimasak dari daging qurban saat Idul Adha

Makassar hingga Kalimantan, Semua Punya Cara Sendiri

Di Sulawesi Selatan, banyak orang mengolah daging qurban menjadi coto Makassar, konro, atau pallubasa. Rempah-rempah kuat dan kuah yang kaya rasa membuat masakan khas Makassar terasa berbeda dari daerah lain.

Sementara di Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar mengenal masak habang, yakni olahan daging dengan bumbu merah khas yang manis, gurih, dan sedikit pedas.

Di Lombok, sate rembiga dan olahan pedas khas Sasak juga sering hadir saat Idul Adha. Bumbunya terkenal kuat dan “nendang”.

Meskipun berbeda daerah dan rasa, semuanya punya satu kesamaan, yaitu daging qurban selalu menjadi alasan orang-orang berkumpul.


Lebih dari Sekadar Masakan

Yang membuat suasana Idul Adha di Indonesia terasa istimewa sebenarnya bukan hanya makanannya.

Tetapi juga momen di baliknya.

Ada orang tua yang sibuk di dapur sejak pagi. Ada anak-anak yang membantu menusuk sate. Ada tetangga yang datang membawa semangkuk gulai untuk dibagi. Ada suara obrolan kecil di halaman rumah sambil kipas sate terus digerakkan perlahan.

Hal-hal sederhana seperti itu sering terasa biasa saat dijalani, tetapi justru menjadi kenangan yang paling dirindukan ketika waktu berlalu.

Karena jumlah daging qurban biasanya cukup banyak, sebagian keluarga juga memilih menyimpan sebagian untuk dimasak beberapa hari kemudian. Namun penyimpanannya tentu tidak boleh asal agar kualitas daging tetap terjaga, apalagi jika ingin dimasak ulang di hari berikutnya.

Pada akhirnya, tradisi mengolah daging qurban di Indonesia bukan sekadar soal resep atau bumbu daerah. Di balik rendang, sate, tengkleng, atau kuah gulai, ada cerita tentang kebersamaan yang terus hidup setiap tahun.

Dan mungkin itu sebabnya aroma masakan saat Idul Adha selalu terasa berbeda.

Bukan hanya karena rempahnya, tetapi karena di dalamnya ada suasana rumah, keluarga, dan kenangan yang selalu ingin diulang kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *