Buka Puasa Pakai Gorengan dan Es Teh Manis? Enak Sih, Tapi Bagaimana Sunnahnya?

Menu berbuka puasa sederhana sesuai sunnah dengan kurma dan air putih

Setiap Ramadhan datang, satu hal yang hampir pasti terjadi di Indonesia adalah: meja berbuka puasa dipenuhi gorengan dan segelas es teh manis. Rasanya seperti sudah jadi paket lengkap. Ada bakwan, tahu isi, pisang goreng, lalu disusul minuman dingin yang manis dan menyegarkan.

Setelah seharian menahan lapar dan haus, tentu itu terasa nikmat.

Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah itu cara terbaik untuk berbuka puasa?
Bagaimana sebenarnya sunnah berbuka menurut ajaran Islam? Dan apakah kebiasaan kita selama ini sudah sejalan dengan tuntunan tersebut?

Yuk kita bahas dengan santai.


Sunnah Berbuka Puasa Menurut Nabi Muhammad SAW

Dalam riwayat hadits disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan yang sangat sederhana saat berbuka.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah SAW berbuka sebelum shalat dengan beberapa butir kurma basah (ruthab). Jika tidak ada, maka dengan kurma kering. Jika tidak ada, maka beliau meneguk beberapa teguk air.”
(HR. Abu Dawud no. 2356 dan Ahmad bin Hanbal no. 12265)

Hadits ini memberi gambaran jelas: berbuka itu sederhana, ringan, dan tidak berlebihan.

Ada juga hadits lain yang sering kita dengar:

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
(HR. Muhammad al-Bukhari no. 1957 dan Muslim ibn al-Hajjaj no. 1098)

Dari sini kita belajar dua hal penting:

  1. Segera berbuka ketika waktunya tiba.
  2. Tidak perlu berlebihan.

Sunnahnya jelas: sesuatu yang manis alami dan ringan.


Kenapa Buka Puasa dengan Kurma dan Air Putih?

Secara ilmiah, ini masuk akal.

Setelah 12–14 jam berpuasa, kadar gula darah menurun. Kurma mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa yang cepat diserap tubuh. Ia membantu mengembalikan energi tanpa membebani lambung.

Air putih membantu rehidrasi secara lembut.

Perhatikan pola ini:

  • Manis alami secukupnya
  • Air putih
  • Shalat Maghrib
  • Baru makan utama

Ada jeda. Ada pengaturan. Tidak tergesa-gesa.

Bandingkan dengan kebiasaan sebagian dari kita: begitu adzan Maghrib terdengar, langsung makan banyak sekaligus. Kadang belum shalat, sudah kekenyangan duluan.

Padahal tubuh kita butuh adaptasi.


Lalu Bagaimana Buka Puasa dengan Gorengan?

Mari kita jujur. Gorengan itu menggoda. Apalagi saat masih hangat.

Apakah gorengan haram? Tentu tidak.

Tetapi kalau kita bicara soal makanan terbaik untuk berbuka puasa, gorengan bukan pilihan paling ideal.

Kenapa?

Karena gorengan:

  • Tinggi minyak
  • Berat untuk lambung kosong
  • Bisa memicu rasa begah
  • Berpotensi memperparah asam lambung

Saat perut kosong lama, sistem pencernaan sedang dalam kondisi “istirahat”. Kalau langsung diberi makanan berminyak dan berat dalam jumlah banyak, tubuh bisa terasa tidak nyaman.

Kalau sesekali? Tidak masalah.
Kalau setiap hari dan berlebihan? Itu yang perlu dipikirkan.

Ramadhan bukan hanya latihan menahan lapar, tapi juga latihan mengendalikan diri saat kenyang.


Buka Puasa dengan Es Teh Manis: Segar, Tapi …

Es teh manis memang terasa menyelamatkan. Dingin, manis, menyegarkan.

Namun, minuman dengan gula tinggi bisa menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat. Setelah itu, tubuh bisa merasa cepat lelah atau mengantuk.

Jika terlalu dingin, sebagian orang juga merasakan perut kurang nyaman.

Solusi yang lebih bijak:

  • Minum air putih terlebih dahulu
  • Jika ingin teh, pilih yang hangat
  • Kurangi kadar gula

Kita tidak sedang melarang. Kita sedang belajar menyeimbangkan.


Ramadhan Adalah Bulannya Al-Qur’an

Di atas semua pembahasan soal makanan, ada hal yang jauh lebih penting.

Allah SWT berfirman dalam Qur’an:

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini mengingatkan bahwa identitas utama Ramadhan bukanlah kulinernya, tapi Al-Qur’annya.

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Malaikat Jibril setiap Ramadhan datang kepada Nabi untuk mengulang bacaan Al-Qur’an bersama beliau (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya, fokus Ramadhan adalah tilawah, tadabbur, dan memperbaiki diri.

Kalau waktu kita lebih banyak habis untuk memilih menu berbuka daripada membaca Al-Qur’an, mungkin ada yang perlu kita atur ulang.


Berbuka Puasa Itu Ibadah, Bukan Pelampiasan

Kadang tanpa sadar, waktu berbuka berubah menjadi ajang balas dendam. Seolah-olah siang tadi kita tersiksa, maka malam hari kita bebas melakukan apa saja.

Padahal puasa mengajarkan pengendalian diri.

Kalau siang hari kita mampu menahan diri dari yang halal, seharusnya malam hari kita juga mampu menahan diri dari berlebihan.

Berbuka secukupnya membuat tubuh ringan untuk shalat Tarawih.
Perut yang tidak terlalu penuh membuat hati lebih tenang saat membaca Al-Qur’an.
Energi yang stabil membantu kita bangun sahur dengan lebih baik.

Sederhana, tapi dampaknya besar.


Merenung Sejenak di Waktu Berbuka Puasa

Coba bayangkan suasana berbuka yang lebih tenang.

Adzan berkumandang.
Kita mengambil beberapa butir kurma atau segelas air.
Berdoa.
Mengucap syukur.
Shalat Maghrib dengan ringan.

Baru setelah itu makan dengan wajar.

Mungkin tidak se-“wah” meja penuh gorengan.
Tapi lebih menenangkan.

Ramadhan datang hanya sebulan dalam setahun. Ia bukan sekadar tradisi, bukan hanya rutinitas tahunan, dan bukan sekadar momen berburu takjil.

Ia adalah kesempatan memperbaiki pola hidup dan pola hati.

Mungkin tahun ini kita tidak perlu langsung menghapus gorengan dari meja. Tidak perlu juga merasa bersalah jika masih minum es teh manis.

Tapi mungkin kita bisa mulai dengan satu perubahan kecil:

Karena pada akhirnya, yang ditanya bukan berapa banyak takjil yang kita coba.
Yang dinilai bukan seberapa lengkap menu berbuka kita.

Yang lebih penting adalah:
Apakah Ramadhan membuat kita lebih dekat kepada Allah?
Apakah ia meninggalkan jejak perubahan dalam diri kita? Semoga setiap teguk air saat berbuka bukan hanya menghilangkan dahaga, tetapi juga mengingatkan bahwa hidup ini sementara. Dan semoga Ramadhan kali ini tidak berlalu begitu saja tanpa meninggalkan perubahan yang berarti dalam hati kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *