
Apa itu Qiyamul Lail?
Berapa rakaat Qiyamul Lail?
Apakah sama dengan shalat Tarawih?
Kalau sudah tarawih, bolehkah sholat malam lagi?
Dan sholat witir itu sebenarnya apa, berapa rakaat?
Banyak yang masih bertanya-tanya.
Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul setiap Ramadhan. Tapi sebenarnya, pembahasannya tidak serumit yang dibayangkan.
Mari kita bahas satu per satu, dengan bahasa santai tapi tetap bersandar pada dalil.
Apa Itu Qiyamul Lail?
Secara bahasa, Qiyamul Lail berarti “berdiri di malam hari.”
Secara istilah, Qiyamul Lail adalah semua bentuk ibadah malam, terutama shalat sunnah yang dilakukan setelah Isya sampai sebelum Subuh.
Jadi:
- Tahajud termasuk Qiyamul Lail
- Tarawih termasuk Qiyamul Lail
- Shalat sunnah biasa di malam hari juga termasuk
Allah SWT memuji orang yang menghidupkan malam dalam Al-Qur’an:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap…”
(QS. As-Sajdah: 16)
Dan dalam ayat lain:
“Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu…”
(QS. Al-Isra: 79)
Artinya jelas. Shalat malam adalah ibadah istimewa. Ia bukan wajib, tapi sangat dimuliakan.
Shalat Sunnah Terbaik Adalah Shalat Malam
Kalau masih ragu apakah Qiyamul Lail itu penting, dengarkan sabda Rasulullah ﷺ.
Beliau bersabda:
“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
(HR. Muslim)
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah.
Kalimatnya tegas.
Bukan dhuha.
Bukan rawatib.
Yang terbaik setelah yang wajib adalah shalat malam.
Kenapa?
Karena malam adalah waktu yang paling sunyi. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang memuji. Hanya kita dan Allah SWT.
Dan ibadah yang paling kuat nilainya adalah yang paling tulus.
Berapa Rakaat Qiyamul Lail?
Pertanyaan ini sering sekali muncul: berapa rakaat Qiyamul Lail yang benar?
Jawabannya: tidak ada batasan pasti.
Dalam hadits riwayat Aisyah disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah menambah lebih dari 11 rakaat, baik di Ramadhan maupun di luar Ramadhan.
Biasanya beliau shalat 8 rakaat, lalu 3 rakaat witir.
Namun Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, shalat malam dilakukan berpasang-pasangan, dan jumlahnya fleksibel.
Bisa:
- 2 rakaat
- 4 rakaat
- 6 rakaat
- 8 rakaat
- atau lebih
Yang penting bukan banyaknya rakaat, tapi kekhusyukan dan keikhlasan.
Apakah Qiyamul Lail Sama dengan Tarawih?
Jawabannya: Tarawih adalah bagian dari Qiyamul Lail.
Tarawih adalah shalat malam khusus di bulan Ramadhan yang biasanya dilakukan berjamaah setelah Isya.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, beliau pernah beberapa malam shalat malam berjamaah di bulan Ramadhan, lalu berhenti karena khawatir nanti diwajibkan Allah SWT.
Dan di masa Khalifah Umar bin Khattab, kaum muslimin dikumpulkan untuk shalat tarawih berjamaah di masjid.
Sejak saat itu, tarawih menjadi syiar Ramadhan.
Jadi kesimpulannya:
- Semua Tarawih adalah Qiyamul Lail
- Tapi tidak semua Qiyamul Lail adalah Tarawih
Bolehkah Setelah Tarawih Sholat Qiyamul Lail Lagi?
Boleh. Bahkan sangat baik.
Waktu paling utama untuk Qiyamul Lail adalah sepertiga malam terakhir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, kalau sudah tarawih 8 atau 20 rakaat, lalu ingin bangun lagi jam 3 pagi untuk tahajud, itu sangat dianjurkan.
Yang perlu diperhatikan hanya satu hal: shalat witir.
Apa Itu Sholat Witir?
Witir berasal dari kata “witr” yang berarti ganjil.
Sholat witir adalah shalat penutup di malam hari yang jumlah rakaatnya ganjil.
Ia menjadi penutup rangkaian Qiyamul Lail.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah witir.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dalam hadits lain disebutkan:
“Tidak ada dua witir dalam satu malam.”
(HR. Abu Dawud)
Artinya, dalam satu malam hanya ada satu witir.
Sholat Witir Berapa Rakaat?
Sholat witir jumlahnya ganjil. Bisa:
- 1 rakaat
- 3 rakaat
- 5 rakaat
- 7 rakaat
- bahkan 9 rakaat
Yang paling umum dilakukan adalah 3 rakaat.
Cara 3 rakaat witir ada dua:
- Dua rakaat salam, lalu satu rakaat salam
- Tiga rakaat sekaligus dengan satu salam (tanpa duduk tasyahud awal)
Keduanya ada dalilnya.
Yang penting diingat: witir itu ganjil dan menjadi penutup.
Kalau Sudah Witir di Masjid, Lalu Bagaimana?
Ini yang sering membingungkan.
Karena Rasulullah ﷺ melarang dua witir dalam satu malam.
Jadi ada dua pilihan:
Pilihan Pertama
Saat tarawih di masjid, jangan ikut witir.
Nanti witir dilakukan setelah tahajud di rumah.
Pilihan Kedua
Ikut witir di masjid.
Kalau bangun malam lagi, shalat tahajud tanpa witir lagi.
Yang tidak boleh adalah witir dua kali dalam satu malam.
Sederhana sebenarnya. Yang penting jangan sampai ragu untuk tetap bangun malam hanya karena bingung soal witir.
Qiyamul Lail Itu Tentang Kedekatan, Bukan Angka
Kadang kita terlalu sibuk bertanya:
8 atau 20?
11 atau 23?
Pendek atau panjang?
Padahal mungkin yang Allah SWT lihat bukan jumlahnya.
Malam adalah waktu yang paling jujur.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang memuji.
Tidak ada yang tahu.
Hanya kita dan Allah SWT.
Bisa jadi hidup seseorang berubah bukan karena ceramah yang panjang, tapi karena satu sujud yang panjang di sepertiga malam terakhir.
Bisa jadi dosa bertahun-tahun terhapus bukan karena amal yang besar, tapi karena air mata yang jatuh dalam diam.
Qiyamul Lail bukan kewajiban. Tapi ia adalah kesempatan.
Kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kesempatan untuk meminta tanpa malu.
Kesempatan untuk kembali tanpa diketahui siapa pun.
Mulai dari yang Mampu
Kalau belum terbiasa, jangan langsung target 8 rakaat.
Mulai dari 2 rakaat saja.
Bangun 15 menit sebelum Subuh.
Berdiri. Baca yang mudah. Sujud lebih lama sedikit.
Kuatkan diri, jangan tidur lagi.
Konsisten itu lebih berat daripada banyak.
Karena bisa jadi, yang mengangkat derajat kita bukan amalan besar yang terlihat orang, tapi dua rakaat kecil yang hanya Allah SWT yang tahu.
Shalat malam bukan tentang siapa paling lama berdiri.
Tapi siapa yang paling ingin dekat.
Dan mungkin, di situlah letak rahasia Qiyamul Lail.