Apa Itu Tarawih? Mengapa Ia Menghangatkan Malam Ramadhan

Suasana shalat tarawih berjamaah di masjid pedesaan pada malam Ramadhan dengan cahaya hangat dan jamaah rapi terlihat dari luar

Sejarah, Dalil, Jumlah Rakaat, dan Makna Tenangnya di Bulan Ramadhan

Ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda.

Langit terasa lebih lembut.
Masjid lebih hidup.
Dan setelah Isya, ada satu momen yang seperti punya denyut sendiri: shalat Tarawih.

Sebagian orang datang dengan semangat.
Sebagian lagi datang sambil menahan kantuk.
Ada yang mengejar pahala. Ada juga yang ingin merasakan suasana.

Tapi sebenarnya, apa itu Tarawih? Dari mana asalnya? Apakah Rasulullah ﷺ mencontohkannya? Berapa rakaatnya? Dan bagaimana seharusnya kita menjalaninya?

Mari kita bahas pelan-pelan.


Apa Itu Shalat Tarawih?

Tarawih adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadhan setelah shalat Isya.

Ia termasuk bagian dari qiyamul lail (shalat malam), namun memiliki kekhususan karena dikerjakan di bulan Ramadhan dan biasanya dilakukan secara berjamaah.

Kata “Tarawih” (تراويح) berasal dari bentuk jamak “tarwihah” (ترويحة), yang berarti satu kali istirahat. Kata ini berasal dari akar kata Arab rāḥa (راح) yang bermakna merasa lega atau beristirahat.

Mengapa dinamakan Tarawih?

Karena para sahabat dahulu membaca ayat-ayat panjang dalam shalat malam Ramadhan. Setiap selesai empat rakaat, mereka duduk beristirahat sejenak. Satu kali jeda itu disebut tarwihah. Karena dilakukan berulang, maka disebut tarawih.

Sejak awal, maknanya bukan sekadar jumlah rakaat. Tapi tentang menikmati malam dengan tenang.


Apakah Tarawih Disebut dalam Al-Qur’an?

Secara spesifik, kata “tarawih” memang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an.

Namun anjuran shalat malam banyak disebutkan. Salah satunya dalam QS Al-Muzzammil ayat 20, yang memerintahkan untuk membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an di malam hari.

Dari sinilah para ulama memahami bahwa qiyamul lail adalah ibadah yang dianjurkan. Dan di bulan Ramadhan, ia menjadi lebih istimewa.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa yang menegakkan (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Inilah yang menjadi landasan utama shalat Tarawih.


Apakah Nabi Muhammad ﷺ Mencontohkan Tarawih?

Ya.

Rasulullah ﷺ pernah melaksanakan shalat malam Ramadhan secara berjamaah di masjid. Ini diriwayatkan oleh Aisyah dan terdapat dalam Shahih Bukhari serta Shahih Muslim.

Beliau shalat, para sahabat ikut di belakangnya. Malam berikutnya semakin banyak yang datang. Lalu pada malam berikutnya lagi, Nabi Muhammad SAW tidak keluar.

Beliau menjelaskan bahwa beliau khawatir shalat itu akan diwajibkan atas umatnya.

Ada kelembutan besar di sini. Nabi Muhammad ﷺ tidak ingin memberatkan umatnya.

Tarawih bukan kewajiban. Ia adalah undangan.


Mengapa Tarawih Dilakukan Berjamaah?

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, beliau melihat orang-orang shalat sendiri-sendiri di masjid pada malam Ramadhan.

Ada yang shalat sendiri.
Ada yang membuat kelompok kecil.
Suasananya belum teratur.

Beliau kemudian mengumpulkan mereka di bawah satu imam, yaitu Ubay bin Ka’ab.

Saat melihat kaum muslimin shalat bersama, Umar berkata:

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”
(HR. Bukhari)

Yang dimaksud bukan menciptakan ibadah baru, melainkan menghidupkan kembali praktik yang pernah dilakukan Nabi Muhammad ﷺ namun tidak dilanjutkan karena alasan tertentu.

Sejak saat itu, Tarawih berjamaah menjadi syiar Ramadhan.


Berapa Rakaat Tarawih?

Ini bagian yang sering menjadi pembahasan hangat.

Dalam hadis riwayat Aisyah yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah shalat malam lebih dari 11 rakaat, baik di Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Sebagian ulama memahami ini sebagai:
8 rakaat Tarawih + 3 rakaat Witir.

Namun pada masa Umar bin Khattab, diriwayatkan para sahabat melaksanakan 20 rakaat.

Mayoritas mazhab fikih kemudian mengikuti praktik 20 rakaat.

Mana yang benar?

Keduanya memiliki dasar.

Tarawih adalah shalat sunnah. Ia tidak dibatasi secara tegas dengan satu angka mutlak.

Yang lebih penting adalah kualitasnya dari hitungan jumlahnya.


Jangan Terlalu Cepat, Jangan Hilang Tuma’ninah

Di Indonesia, kita sering melihat fenomena menarik.

Ada masjid yang mengambil rakaat banyak, tetapi ingin durasi tetap singkat. Akhirnya gerakan menjadi sangat cepat. Bacaan dipadatkan. Rukuk dan sujud seperti dikejar waktu.

Padahal dalam shalat, ada rukun yang tidak boleh hilang: tuma’ninah.

Rasulullah ﷺ pernah menegur seseorang yang shalatnya terlalu cepat. Dalam hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, beliau berkata:

“Kembalilah dan shalatlah, karena engkau belum shalat.”

Beliau mengulanginya sampai tiga kali.

Lalu Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa dalam rukuk dan sujud harus ada ketenangan.

Shalat bukan sekadar gerakan berpindah posisi.
Bukan sekadar menggugurkan rakaat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS Al-Mu’minun: 1–2)

Tarawih yang banyak tapi tergesa-gesa bisa kehilangan ruhnya.
Tarawih yang lebih sedikit tapi tenang bisa lebih menghidupkan hati.

Mungkin bukan soal 8 atau 20.
Mungkin soal sholat tarawih atau tidak.


Apa Itu Witir?

Witir adalah shalat penutup malam dengan jumlah rakaat ganjil.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari itu witir.”
(HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Minimal satu rakaat.
Umumnya tiga rakaat.
Bisa juga lima, tujuh, atau sembilan.

Witir bukan sekadar penutup teknis. Ia seperti kalimat terakhir sebelum hari ditutup.


Tarawih Lebih Dari Sekadar Hitungan

Jika direnungkan, Tarawih bukan tentang siapa paling panjang berdiri.

Ia tentang langkah kecil yang kita ambil setiap malam.

Tentang tubuh yang mungkin lelah, tapi tetap berdiri.
Tentang hati yang mungkin penuh beban, tapi tetap mencoba dekat.

Kadang kita tidak sepenuhnya khusyuk.
Kadang pikiran ke mana-mana.
Kadang ingin cepat selesai.

Tapi kita tetap datang.

Dan mungkin di situlah nilainya.

Ramadhan tidak menuntut kita menjadi sempurna.
Ramadhan mengajak kita menjadi lebih lembut.

Tarawih bukan lomba rakaat terbanyak.
Bukan juga ajang pembuktian siapa paling benar.

Ia adalah ruang sunyi yang dibuka setiap malam.

Ruang untuk kembali.
Ruang untuk memperbaiki.
Ruang untuk berdiri sedikit lebih lama bersama Allah SWT yang Maha Mengerti lelah kita.

Mungkin tahun ini kita belum maksimal.
Mungkin belum sepenuh hati.

Tapi setiap langkah menuju masjid,
setiap takbir yang kita ucapkan,
setiap sujud yang kita jatuhkan perlahan,

adalah tanda bahwa kita masih ingin pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *