Tentang Waktu yang Tidak Bisa Diulang

Beberapa waktu terakhir saya banyak memikirkan ayah saya.
Usianya sudah 70 tahun. Ramadhan tahun ini terasa berbeda. Bukan karena suasananya berubah, bukan karena tradisinya hilang, tetapi karena saya mulai menyadari satu hal sederhana: waktu berjalan lebih cepat dari yang kita kira.
Awalnya saya hanya memikirkan menu buka puasa. Lalu takjil. Saya ingin memastikan beliau tidak bosan, tidak terlalu banyak gorengan, tidak terlalu berat untuk asam uratnya. Saya sibuk memilih sop hangat, buah yang tidak terlalu manis, dan makanan yang mudah dikunyah.
Tapi setelah itu semua, ada satu pertanyaan yang diam-diam muncul:
Apakah yang paling beliau butuhkan benar-benar soal makanan?
Atau tentang sesuatu yang lebih sederhana — kehadiran?
Ramadhan di Usia 70 Tahun Tidak Lagi Sama
Saat kita masih muda, Ramadhan terasa penuh energi. Pergi tarawih bersama teman-teman, sahur sambil bercanda, berburu takjil di pinggir jalan, begadang menunggu sahur.
Tapi di usia 70 tahun, ritmenya berubah.
Fisik tidak lagi sekuat dulu. Lutut kadang nyeri. Badan lebih cepat lelah. Pergi ke masjid mungkin tidak setiap hari. Aktivitas lebih banyak di rumah.
Ramadhan tetap datang, tapi cara menikmatinya berbeda.
Saya membayangkan ayah duduk di teras rumah menjelang Maghrib. Angin sore berhembus pelan, langit mulai menguning. Tidak banyak suara. Tidak ramai. Lebih tenang.
Di usia itu, mungkin yang dibutuhkan bukan keramaian, tapi ketenangan.
Dan di situlah saya sadar, mungkin yang paling penting bukan variasi menu. Tapi bagaimana membuat beliau tetap merasa ditemani di bulan yang penuh berkah dan penuh makna ini.
Hal-Hal Kecil yang Sering Terlupa
Kita sering berpikir kalau perhatian itu harus besar.
Padahal, untuk orang tua, perhatian kecil yang konsisten jauh lebih berarti.
Misalnya:
Telepon menjelang Maghrib.
Bukan telepon panjang, cukup lima menit. Bertanya sederhana, “Pak, sudah ada bukaan?” Itu saja sudah cukup membuat mereka merasa diingat.
Mengirim makanan tanpa diminta.
Bukan karena mereka tidak bisa membeli sendiri, tapi karena ada rasa diperhatikan.
Duduk menemani makan tanpa memegang ponsel.
Ini yang paling sulit di zaman sekarang. Kita hadir secara fisik, tapi pikiran kita entah di mana.
Mendengarkan cerita lama yang sudah pernah diceritakan.
Tentang masa muda. Tentang pekerjaan dulu. Tentang perjuangan membesarkan anak-anaknya.
Kadang kita merasa sudah pernah mendengarnya. Tapi mungkin bagi mereka, cerita itu adalah cara untuk merasa masih berarti.
Hal-hal kecil seperti ini jarang terlihat di foto. Tidak viral. Tidak dramatis. Tapi dampaknya dalam.
Ramadhan dan Kesadaran tentang Waktu
Bulan Ramadhan selalu datang setiap tahun. Kita sering merasa masih ada kesempatan berikutnya.
“Nanti tahun depan saja deh, nanti lebih sering pulang.”
“Nanti saja kalau sudah tidak sibuk.”
“Nanti saja kalau pekerjaan sudah lebih longgar.”
Kata “nanti” terasa aman.
Tapi waktu tidak pernah benar-benar menunggu.
Saya mulai menyadari bahwa ayah saya tidak akan selalu berusia 70 tahun. Tahun depan mungkin 71. Lalu 72. Dan seterusnya.
Tidak ada yang salah dengan usia. Tapi ada kesadaran bahwa kesempatan untuk duduk bersama di teras saat senja tidak bisa selamanya.
Ramadhan mengajarkan kita menahan lapar dan haus. Tapi mungkin lebih dari itu, Ramadhan mengajarkan kita menahan ego dan kesibukan, supaya bisa memberi ruang untuk keluarga.
Bukan Soal Sempurna, Tapi Soal Hadir
Saya tidak selalu bisa berada di samping ayah setiap hari. Jarak dan pekerjaan membuat semuanya tidak sesederhana itu.
Tapi saya belajar bahwa hadir tidak selalu berarti berada di ruangan yang sama.
Hadir bisa berarti:
Menelepon dengan sungguh-sungguh.
Mendengarkan dengan penuh perhatian.
Tidak terburu-buru mengakhiri percakapan.
Mengatakan, “Pak, jaga kesehatan ya,” dengan tulus.
Kadang percakapan kami hanya tentang hal biasa. Tentang lemari. Tentang harga bahan makanan. Tentang menu buka puasa hari itu.
Tidak ada topik besar. Tidak ada pembicaraan mendalam.
Tapi justru dari percakapan sederhana itu, saya merasakan sesuatu yang hangat.
Bahwa hubungan orang tua dan anak tidak selalu dibangun dari kata-kata besar. Tapi dari kebiasaan kecil yang terus diulang.
Apa yang Akan Kita Ingat Nanti?
Saya pernah berpikir, apa yang akan saya ingat beberapa tahun ke depan tentang Ramadhan bersama ayah?
Apakah saya akan ingat detail menu buka puasanya?
Atau saya akan ingat suasana teras, cahaya senja, dan suara beliau memanggil saya?
Mungkin yang paling melekat bukan makanan, bukan juga tradisi. Tapi rasa.
Rasa bahwa saya pernah duduk di sana.
Rasa bahwa saya pernah menelepon tepat waktu.
Rasa bahwa saya tidak menunda perhatian sampai semuanya terlambat.
Ramadhan selalu mengingatkan bahwa hidup ini sementara. Kita menahan diri sebulan penuh untuk menyadari bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi.
Dan mungkin, di usia orang tua yang terus bertambah, kita juga diajak menyadari bahwa tidak semua kesempatan akan datang dua kali.
Jangan Menunggu Momen Besar
Kita sering menunggu momen besar untuk menunjukkan kasih sayang. Hari raya. Ulang tahun. Perayaan khusus.
Padahal perhatian paling tulus sering lahir di hari biasa.
Di telepon yang tidak direncanakan.
Di pesan singkat yang sederhana.
Di pertanyaan ringan, “Pak, sehat hari ini?”
Ramadhan memberi kita alasan untuk lebih peka. Tapi sebenarnya perhatian tidak harus menunggu bulan suci.
Kalau ada satu pelajaran yang bisa saya ambil dari Ramadhan tahun ini bersama ayah, adalah ini:
Waktu tidak bisa disimpan.
Momen tidak bisa diulang persis sama.
Dan orang tua tidak selamanya ada di usia yang sama.
Kita tidak bisa menghentikan waktu.
Tapi kita bisa memilih untuk hadir sebelum waktu lewat terlalu jauh.
Mungkin suatu sore nanti, saya tidak lagi bisa menelepon beliau menjelang Maghrib. Mungkin suatu hari teras itu akan terasa berbeda.
Tapi saya berharap, ketika hari itu datang, saya tidak dipenuhi penyesalan karena terlalu sering berkata “nanti”.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar.
Ia juga tentang menahan diri dari menunda perhatian.
Dan kalau hari ini kita masih bisa mendengar suara orang tua di ujung telepon, itu sudah cukup alasan untuk bersyukur.
Karena pada akhirnya, yang membuat Ramadhan terasa utuh bukan hanya ibadahnya, bukan hanya makanannya, tapi siapa yang masih bisa kita sapa ketika azan Maghrib berkumandang.