
Jika ada dua sahabat Nabi Muhammad ﷺ.
Yang satu gugur di medan jihad, wafat sebagai syahid.
Yang satu lagi hidup setahun lebih lama, lalu meninggal secara biasa.
Menurut Anda, siapa yang lebih dulu masuk surga?
Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab: tentu yang gugur di medan jihad. Karena syahid memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.
Namun ada sebuah kisah yang diriwayatkan dalam hadis, yang membuat para sahabat sempat bertanya-tanya.
Kisah ini datang dalam riwayat Imam Ahmad ibn Hanbal, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama seperti Al-Albani.
Dikisahkan ada dua orang sahabat yang masuk Islam secara bersamaan. Keimanan mereka tumbuh bersama. Mereka hidup berdampingan dalam ketaatan.
Kemudian salah satu dari keduanya gugur lebih dahulu dalam peperangan di jalan Allah SWT. Ia wafat sebagai syahid.
Setahun setelah itu, sahabat yang kedua meninggal dunia. Ia tidak gugur di medan perang. Ia wafat secara biasa.
Suatu malam, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat kedua orang sahabat itu berada di pintu surga. Malaikat mempersilakan sahabat yang wafat belakangan untuk masuk lebih dulu. Setelah itu, barulah yang gugur sebagai syahid dipersilakan masuk.
Sahabat yang bermimpi itu kemudian terbangun dalam keadaan heran.
Bagaimana mungkin?
Bukankah yang pertama gugur sebagai syahid? Bukankah kedudukannya sangat tinggi?
Keesokan harinya, ia menceritakan mimpinya kepada sahabat-sahabat yang lain. Mereka pun ikut merasa takjub. Mereka tidak meragukan kemuliaan syahid, tetapi mereka ingin memahami hikmah di balik urutan tersebut.
Akhirnya, kisah mimpi itu sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau Nabi Muhammad ﷺ tidak menolaknya. Tidak pula menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh. Namun beliau memberikan penjelasan yang sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.
Beliau bersabda:
“Bukankah ia hidup setahun setelahnya? Bukankah ia berjumpa dengan Ramadhan dan berpuasa di dalamnya? Bukankah ia shalat sekian dan sekian dalam setahun itu?”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menyebutkan jumlah shalat yang dikerjakan dalam satu tahun tersebut.
Para sahabat terdiam.
Jawabannya ternyata bukan pada cara wafatnya semata, tetapi pada tambahan amalnya.
Satu tahun tambahan.
Satu Ramadhan tambahan.
Ratusan shalat tambahan.
Puluhan malam ibadah tambahan.
Itulah yang mengangkat derajatnya.
Keutamaan Bulan Ramadhan yang Tidak Selalu Kita Sadari
Kisah ini bukan untuk membandingkan jihad dan puasa secara mutlak. Jihad di jalan Allah SWT adalah ibadah agung. Syahid memiliki kedudukan yang tinggi. Namun hadis ini menunjukkan satu hal penting: umur yang lebih panjang dalam ketaatan adalah karunia besar.
Dan di antara karunia terbesar itu adalah bertemu kembali dengan bulan Ramadhan.
Keutamaan bulan Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah musim pahala. Di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di dalamnya pahala dilipatgandakan. Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.
Sahabat yang wafat belakangan itu mendapatkan satu kesempatan tambahan: satu Ramadhan lagi.
Dan ternyata, itu cukup untuk meninggikan derajatnya.
Bukan sepuluh tahun.
Bukan lima tahun.
Hanya satu tahun.
Sering kali kita merasa satu tahun berlalu begitu saja. Kita menganggap Ramadhan datang dan pergi seperti biasa. Padahal bisa jadi, satu Ramadhan itulah yang menjadi pembeda antara satu tingkatan dengan tingkatan yang lain yang lebih tinggi di surga.
Umur Panjang dalam Ketaatan Adalah Nikmat Besar
Kita sering memandang kemuliaan dari cara seseorang meninggal. Padahal dalam pandangan Allah SWT, seluruh perjalanan hidup dihitung.
Sahabat yang kedua itu tidak memiliki momen heroik seperti gugur di medan perang. Tetapi ia memiliki sesuatu yang lain: tambahan waktu dalam ketaatan.
Ia shalat lebih lama.
Ia berpuasa Ramadhan satu kali lagi.
Ia mungkin memperbanyak doa.
Ia mungkin menambah sedekah.
Dan Allah SWT menghitung semuanya.
Hadis ini seakan mengingatkan kita bahwa jangan remehkan amal rutin yang terus dijaga. Jangan remehkan satu Ramadhan lagi yang dijalani dengan sungguh-sungguh.
Karena bisa jadi, tambahan amal itulah yang meninggikan derajat kita di sisi Allah SWT.
Satu Ramadhan Lagi, Apa Artinya Bagi Kita?
Sekarang pertanyaannya sederhana.
Jika Allah SWT masih mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun ini, apa artinya?
Apakah itu sekadar rutinitas?
Ataukah itu kesempatan yang sangat besar?
Mungkin kita bukan orang yang gugur di medan jihad.
Mungkin kita bukan orang yang dikenal karena amal besar.
Mungkin kita hidup tampak biasa-biasa saja.
Tetapi kita masih hidup.
Kita masih punya satu Ramadhan lagi.
Masih ada satu kesempatan lagi untuk memperbaiki shalat.
Masih ada satu peluang lagi untuk memperbanyak istighfar.
Masih ada satu malam Lailatul Qadar yang bisa mengubah segalanya.
Kisah dua sahabat ini mengajarkan bahwa keutamaan bulan Ramadhan bukan sekadar teori. Ia nyata. Ia bisa mengangkat derajat seseorang sampai bisa mendahului derajat sahabatnya yang wafat lebih dahulu dalam keadaan syahid.
Bukan karena syahid itu rendah.
Tetapi karena Allah SWT menilai tambahan amal dan kesempatan yang dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh.
Ramadhan yang Tenang
Bisa jadi Ramadhan yang akan datang adalah yang terakhir bagi kita.
Atau bisa jadi justru itulah yang menjadi pembeda terbesar dalam hidup kita.
Satu doa yang lebih tulus.
Satu sujud yang lebih khusyuk.
Satu malam yang dihidupkan dengan air mata.
Jika Allah SWT masih memberi kita umur, mungkin itu adalah undangan untuk naik derajat satu tingkat lagi. Dan mungkin, tanpa kita sadari, satu Ramadhan tambahan itulah yang kelak membuat kita masuk surga lebih dahulu.