
Saat Idul Adha tiba, aroma sate yang dibakar di halaman rumah, gulai yang mengepul di dapur, hingga rendang yang dimasak berjam-jam seolah menjadi pemandangan yang akrab di keluarga. Beberapa waktu kemudian, saat menghadiri acara aqiqah, kita juga sering menjumpai hidangan yang berbahan daging seperti sate, gulai, kari, atau nasi kebuli.
Sekilas, keduanya tampak sama.
Sama-sama menggunakan daging hasil penyembelihan hewan, sama-sama diolah menjadi berbagai hidangan lezat, dan sama-sama menjadi bagian dari tradisi berbagi dalam kehidupan masyarakat Muslim.
Namun jika diperhatikan lebih dekat, masakan Idul Adha dan masakan aqiqah sebenarnya memiliki beberapa perbedaan yang menarik. Mulai dari sumber dagingnya, variasi menu yang muncul, hingga cara makanan tersebut dibagikan kepada orang lain.
Lalu, apa saja perbedaannya?
Persamaan Masakan Idul Adha dan Aqiqah
Sebelum membahas perbedaannya, ada baiknya melihat terlebih dahulu sisi yang membuat keduanya tampak mirip.
Baik Idul Adha maupun aqiqah sama-sama identik dengan hidangan berbahan daging. Di beberapa daerah, menu yang muncul bahkan sering kali sama.
Banyak orang yang mengolah daging menjadi:
- Sate
- Gulai
- Tongseng
- Kari
- Semur
- Nasi kebuli
- Sop daging
Karena itu, ketika melihat sepiring sate kambing atau semangkuk gulai yang disajikan di meja makan, semua terlihat sama. Apakah itu daging hewan qurban atau dari aqiqah.
Keduanya juga memiliki satu kesamaan yang lebih penting dari sekadar rasa, yaitu semangat berbagi. Di balik hidangan yang tersaji, ada kebersamaan keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat yang ikut menikmati rezeki tersebut.
Perbedaan Sumber Daging Menjadi Awalnya
Meski menu yang dihasilkan bisa serupa, sumber daging yang digunakan sebenarnya berbeda.
Pada Idul Adha, hewan qurban dapat berupa sapi, kambing, domba, bahkan unta di beberapa negara. Karena pilihan hewannya lebih beragam, jenis masakan yang muncul pun cenderung lebih banyak.
Daging sapi misalnya, sering diolah menjadi rendang, rawon, semur, empal, sop buntut, atau bakso. Sementara daging kambing lebih sering dijadikan sate, tongseng, gulai, dan tengkleng.
Berbeda dengan aqiqah yang dalam praktiknya hampir selalu menggunakan kambing atau domba.
Hal ini sejalan dengan hadis Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Ummu Kurz radhiyallahu ‘anha:
“Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.”
(HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan dinilai shahih oleh sejumlah ulama)
Karena itulah menu aqiqah di Indonesia lebih identik dengan berbagai olahan kambing atau domba. Mulai dari sate, gulai, kari, hingga nasi kebuli yang sering dijumpai dalam paket aqiqah.
Mengapa Menu Idul Adha Biasanya Lebih Beragam?
Jika dipikirkan kembali, perbedaan sumber daging tadi secara otomatis memengaruhi variasi menu.
Ketika sebuah keluarga mendapatkan daging sapi saat Idul Adha, pilihan olahannya tentu berbeda dengan keluarga yang memperoleh daging kambing.
Di berbagai daerah Indonesia, tradisi kuliner Idul Adha bahkan memiliki ciri khas tersendiri.
Di Sumatera Barat ada rendang.
Di Jawa Tengah ada tengkleng.
Di Sulawesi Selatan ada konro.
Di Aceh dikenal kuah beulangong.
Semua hidangan tersebut bisa muncul saat qurban karena jenis hewan yang disembelih memang lebih beragam.
Sementara pada aqiqah, pilihan menu biasanya berpusat pada karakteristik daging kambing atau domba. Bukan berarti pilihannya sedikit, tetapi variasinya memang tidak seluas hidangan yang biasa muncul saat Idul Adha.
Perbedaan Cara Pembagian
Jika ada satu hal yang paling mudah dikenali dari perbedaan Idul Adha dan aqiqah, mungkin jawabannya adalah cara pembagiannya.
Pada Idul Adha, masyarakat umumnya menerima daging dalam keadaan mentah. Setelah sampai di rumah, masing-masing keluarga bebas mengolahnya sesuai selera.
Ada yang langsung membuat sate.
Ada yang memasak gulai.
Ada pula yang menyimpannya terlebih dahulu untuk diolah beberapa hari kemudian.
Suasana inilah yang sering melahirkan tradisi memasak bersama di lingkungan keluarga.
Berbeda dengan aqiqah.
Banyak orang justru lebih familiar menerima nasi box berisi sate, gulai, atau olahan kambing siap santap dibanding menerima daging mentah.
Ternyata hal ini bukan sekadar kebiasaan masyarakat.
Dalam penjelasan para ulama, membagikan daging aqiqah dalam keadaan sudah dimasak termasuk hal yang dianjurkan. Karena itu, tradisi membagikan hidangan siap santap dalam acara aqiqah menjadi sesuatu yang sangat lazim dijumpai hingga sekarang.
Tidak heran jika ketika mendengar kata “aqiqah”, yang terbayang di benak banyak orang adalah paket nasi lengkap dengan lauk olahan kambing yang siap dinikmati.
Di Balik Hidangan yang Mirip, Tujuannya Berbeda
Meski sama-sama melibatkan penyembelihan hewan dan berbagi makanan, qurban dan aqiqah memiliki tujuan yang berbeda.
Qurban dilaksanakan pada hari-hari tertentu di bulan Dzulhijjah sebagai bagian dari syiar Idul Adha.
Sedangkan aqiqah berkaitan dengan rasa syukur atas kelahiran seorang anak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Hadis ini menjelaskan bahwa aqiqah memiliki tujuan tersendiri yang berbeda dari ibadah qurban.
Meski sama-sama identik dengan olahan daging dan tradisi berbagi, qurban dan aqiqah merupakan dua ibadah yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak hanya memengaruhi jenis hidangan yang disajikan, tetapi juga melahirkan berbagai pertanyaan lain, termasuk soal qurban dulu atau aqiqah dulu bagi sebagian keluarga yang menghadapi kondisi tertentu.
Apakah Masakan Aqiqah dan Idul Adha Bisa Sama?
Jawabannya, tentu bisa.
Sate kambing dari hewan aqiqah bisa terlihat sama persis dengan sate kambing yang dibuat dari daging qurban.
Begitu pula gulai, tongseng, atau kari.
Dari sisi rasa dan bentuk hidangan, sering kali tidak ada perbedaan yang mencolok.
Yang membedakan bukanlah bumbu yang digunakan atau cara memasaknya, melainkan asal daging dan tujuan penyembelihan hewan tersebut.
Karena itu, jika seseorang hanya melihat makanan yang tersaji di meja makan, belum tentu ia bisa mengetahui apakah hidangan tersebut berasal dari aqiqah atau qurban.
Lebih Dari Sekadar Daging di Atas Piring
Pada akhirnya, perbedaan masakan Idul Adha dan aqiqah bukan hanya soal menu.
Memang benar Idul Adha sering menghadirkan pilihan hidangan yang lebih beragam karena sumber dagingnya bisa berasal dari sapi maupun kambing. Sementara aqiqah lebih identik dengan olahan kambing atau domba yang dibagikan dalam keadaan sudah matang.
Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar jenis masakan yang tersaji.
Ada keluarga yang berkumpul di dapur sambil memotong daging qurban.
Ada tetangga yang saling bertukar hidangan.
Ada orang-orang yang mungkin jarang menikmati makanan berbahan daging, lalu ikut merasakan kebahagiaan melalui hidangan yang dibagikan.
Mungkin itulah alasan mengapa aroma sate yang dibakar saat Idul Adha atau sebungkus nasi aqiqah yang diterima dari tetangga sering meninggalkan kesan yang lebih lama daripada rasanya sendiri.
Karena yang sebenarnya diingat bukan hanya makanannya, melainkan momen kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian yang hadir bersama setiap hidangan yang dibagikan.