
Pernah nggak, saat berjalan-jalan di Singapura, Anda merasa ada sesuatu yang berbeda tetapi sulit menjelaskan apa?
Gedung-gedungnya tinggi. Jalannya bersih. MRT mudah digunakan. Orang-orang lalu lalang dengan cepat. Pusat perbelanjaan ada di mana-mana. Namun setelah beberapa hari berkeliling, saya baru menyadari ada satu hal yang ternyata hampir tidak pernah saya lihat selama berada di sana, yaitu warung tenda.
Bagi orang Indonesia, warung tenda adalah pemandangan yang sangat biasa. Di Jakarta ada tenda pecel lele yang mulai ramai menjelang malam. Di Bandung ada tenda makanan yang memenuhi trotoar setelah matahari terbenam. Di Yogyakarta ada angkringan sederhana yang selalu dipenuhi pelanggan. Bahkan di banyak kota kecil sekalipun, kita hampir selalu bisa menemukan penjual makanan yang membuka lapak di pinggir jalan.
Namun selama berada di Singapura, hampir semua tempat makan yang saya temui berada di dalam bangunan permanen. Ada yang berada di ruko, pusat jajanan, food court, coffee shop, atau hawker centre. Saya hampir tidak menemukan warung tenda seperti yang biasa terlihat di Indonesia.
Awalnya saya mengira mungkin hanya kebetulan. Mungkin saya kurang jauh berjalan kaki. Mungkin saya hanya melewati kawasan yang terlalu modern.
Ternyata bukan itu penyebabnya.
Memang ada alasan mengapa warung tenda hampir tidak terlihat di Singapura saat ini.
Singapura Dulu Juga Punya Pedagang Kaki Lima
Banyak wisatawan tidak mengetahui bahwa Singapura sebenarnya pernah memiliki budaya pedagang kaki lima yang sangat kuat.
Puluhan tahun lalu, terutama pada era 1950-an hingga 1970-an, jalan-jalan di Singapura dipenuhi oleh penjual makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Mereka berjualan menggunakan gerobak, kios sederhana, maupun lapak di pinggir jalan.
Suasananya bahkan tidak terlalu berbeda dengan berbagai kota di Asia Tenggara pada masa itu.
Orang-orang membeli sarapan di trotoar sebelum berangkat bekerja. Pedagang menjajakan makanan murah di kawasan ramai. Aroma masakan memenuhi sudut-sudut kota.
Bagi banyak warga saat itu, pedagang kaki lima merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Namun seiring pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya jumlah penduduk, muncul berbagai tantangan baru.
Mengapa Pemerintah Singapura Menata Pedagang Jalanan?
Ketika jumlah pedagang semakin banyak, pemerintah mulai menghadapi persoalan yang tidak mudah.
Salah satunya adalah kebersihan.
Tidak semua pedagang memiliki akses terhadap air bersih, tempat mencuci peralatan, atau sistem pembuangan sampah yang memadai. Selain itu, keberadaan lapak di trotoar dan pinggir jalan juga mulai memengaruhi kelancaran lalu lintas serta kenyamanan pejalan kaki.
Bagi kota yang lahannya terbatas seperti Singapura, ruang publik menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Pemerintah kemudian mengambil langkah besar dengan menata dan merelokasi pedagang kaki lima ke lokasi yang lebih mudah atur.
Tujuannya bukan untuk menghilangkan pedagang kecil, melainkan untuk menyediakan tempat yang lebih layak, lebih bersih, dan lebih mudah dikelola.
Menariknya, perhatian terhadap kebersihan ruang publik ini masih bisa dilihat hingga sekarang. Meski lingkungan kota terlihat sangat rapi, berbagai satwa perkotaan tetap mudah ditemukan di sejumlah area terbuka dan pusat makanan. Salah satunya adalah burung hitam yang sering terlihat berkeliaran di taman maupun area publik.
Hawker Centre: Solusi yang Mengubah Wajah Kuliner Singapura
Dari sinilah lahir sesuatu yang sekarang menjadi salah satu ikon Singapura, yaitu hawker centre.
Bagi wisatawan Indonesia, hawker centre mungkin terlihat seperti food court biasa. Namun sebenarnya tempat ini memiliki sejarah yang cukup panjang.
Pemerintah membangun pusat jajanan yang memungkinkan para pedagang tetap berjualan dalam lingkungan yang lebih tertata. Di sana tersedia fasilitas sanitasi, tempat duduk bersama, pengelolaan sampah, serta pengawasan standar kebersihan makanan.
Pedagang yang sebelumnya berjualan di jalanan secara bertahap dipindahkan ke lokasi-lokasi tersebut.
Hasilnya bisa dilihat hingga sekarang.
Banyak hawker centre justru berkembang menjadi destinasi kuliner terkenal yang dikunjungi wisatawan dari seluruh dunia.
Nama-nama seperti Maxwell Food Centre, Lau Pa Sat, Old Airport Road Food Centre, hingga Newton Food Centre menjadi bagian dari pengalaman wisata yang selalu masuk daftar kunjungan para pelancong.
Menariknya, budaya hawker ini bahkan diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya tak benda karena dianggap memiliki nilai sosial dan budaya yang penting bagi masyarakat Singapura.
Jadi ketika Anda makan di salah satu hawker centre, sebenarnya Anda sedang menikmati versi modern dari budaya pedagang kaki lima yang pernah memenuhi jalan-jalan Singapura puluhan tahun lalu.
Kenapa Wisatawan Indonesia Sering Merasa Ada yang Berbeda?
Meski hawker centre menawarkan makanan yang lezat dan beragam, banyak wisatawan Indonesia tetap merasakan perbedaan suasana.
Dan perbedaan itu sebenarnya cukup mudah dipahami.
Warung tenda di Indonesia bukan sekadar tempat makan.
Warung tenda adalah pengalaman.
Ada suara kendaraan yang melintas di dekat meja makan. Ada aroma makanan yang tercium dari kejauhan. Ada penjual yang sibuk melayani pelanggan. Ada percakapan santai yang terdengar dari meja sebelah.
Kadang-kadang justru kesederhanaan itulah yang membuat pengalaman makan terasa berkesan.
Sementara itu, Singapura memilih pendekatan yang berbeda.
Sebagian besar aktivitas kuliner ditempatkan dalam area yang sudah ditentukan. Semuanya terasa lebih teratur, lebih bersih, dan lebih terkontrol.
Dari sudut pandang tata kota, sistem ini bekerja dengan sangat baik.
Namun bagi sebagian wisatawan yang terbiasa dengan kehidupan jalanan yang lebih spontan, suasana tersebut bisa terasa sedikit berbeda.
Bukan lebih baik atau lebih buruk.
Hanya berbeda.
Apakah Masih Ada Warung Tenda di Singapura?
Bukan berarti Singapura sama sekali tidak memiliki konsep penjualan makanan sementara.
Pada waktu-waktu tertentu, masih ada bazaar, festival makanan, dan pasar musiman yang menghadirkan kios-kios sementara.
Contoh yang paling terkenal adalah bazaar Ramadan yang biasanya berlangsung menjelang Hari Raya.
Di tempat-tempat seperti itu, suasana yang lebih ramai dan lebih santai masih bisa dirasakan.
Namun untuk aktivitas sehari-hari, model warung tenda yang berdiri setiap malam di pinggir jalan seperti yang umum ditemukan di Indonesia sudah sangat jarang dijumpai.
Sebagian besar aktivitas perdagangan makanan memang berlangsung di lokasi resmi yang telah disediakan.
Kota yang Bersih, Tetapi Ada Sesuatu yang Berubah
Ketika melihat Singapura hari ini, sulit untuk menyangkal bahwa sistem tersebut berhasil.
Kota terlihat rapi.
Trotoar nyaman digunakan.
Pusat makanan terorganisasi dengan baik.
Standar kebersihan relatif tinggi.
Namun di sisi lain, ada juga sesuatu yang berubah.
Kehidupan jalanan yang dulu menjadi bagian dari wajah kota perlahan bergeser ke dalam bangunan permanen.
Suasana yang lebih spontan menjadi lebih teratur.
Ruang-ruang informal yang dulu tumbuh secara alami kini digantikan oleh sistem yang dirancang dengan cermat.
Bagi sebagian orang, itu adalah kemajuan.
Bagi sebagian lainnya, ada sedikit rasa rindu terhadap suasana lama yang lebih hidup dan tidak terlalu teratur.
Mungkin karena itulah banyak wisatawan Indonesia merasa ada sesuatu yang berbeda saat berada di Singapura, meskipun mereka tidak langsung menyadarinya.
Bukan karena makanannya kurang enak.
Bukan karena kotanya kurang menarik.
Melainkan karena ada satu elemen kecil yang diam-diam hilang dari pemandangan sehari-hari, warung tenda di pinggir jalan.
Dan kadang-kadang, justru hal-hal kecil seperti itulah yang membuat kita menyadari bahwa setiap kota memiliki cara masing-masing dalam tumbuh dan berkembang.
Singapura memilih jalan keteraturan dan efisiensi. Sementara banyak kota di Indonesia masih menyisakan ruang bagi spontanitas kehidupan jalanan.
Tidak ada yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah.
Namun ketika duduk menikmati makanan di sebuah hawker centre yang bersih dan tertata, mungkin sebagian dari kita akan teringat suasana sederhana di bawah tenda pinggir jalan, ditemani suara kendaraan yang lewat, lampu yang temaram, dan obrolan hangat yang mengalir tanpa rencana.
Kadang-kadang, yang paling kita rindukan dari sebuah kota bukanlah bangunannya, melainkan suasana yang pernah kita rasakan di dalamnya.