
Saat berkunjung ke Singapura, ada banyak hal yang mudah menarik perhatian. Gedung-gedung tinggi yang tertata rapi, transportasi umum yang nyaman, trotoar yang bersih, hingga taman-taman kota yang terawat. Namun di tengah semua itu, saya justru terpaku pada sesuatu yang terasa sepele.
Atau lebih tepatnya, sesuatu yang hilang.
Semakin lama berjalan-jalan di Singapura, saya mulai menyadari bahwa ada satu pemandangan yang sangat jarang saya temui. Padahal, di Indonesia pemandangan itu hampir selalu ada di mana-mana.
Kucing.
Di Indonesia, bahkan di kota-kota besar sekalipun, kucing mudah ditemukan. Ada yang tidur di depan toko, berteduh di bawah motor, berjalan santai di gang perumahan, atau menunggu rezeki di sekitar warung makan.
Namun selama beberapa hari berkeliling Singapura, saya hampir tidak melihatnya.
Awalnya saya mengira mungkin hanya kebetulan. Tetapi setelah hari demi hari berlalu, rasa penasaran itu semakin besar.
Ke mana perginya kucing-kucing di Singapura?
Apakah jumlahnya memang sedikit? Apakah ada petugas yang menangkap kucing liar? Atau justru ada aturan khusus yang membuat kucing tidak bebas berkeliaran seperti yang sering terlihat di Indonesia?
Ternyata jawabannya lebih menarik dari yang saya kira.
Kucing di Singapura Sebenarnya Tidak Hilang
Hal pertama yang perlu diketahui adalah Singapura tidak kekurangan kucing.
Kucing tetap ada. Bahkan jumlahnya tidak sedikit.
Sebagian dipelihara di rumah sebagai hewan peliharaan, sementara sebagian lainnya hidup sebagai community cats, yaitu kucing yang tinggal di lingkungan masyarakat dan dipantau oleh komunitas atau relawan setempat.
Jadi, jika wisatawan jarang melihat kucing di jalanan, bukan berarti kucing-kucing itu menghilang dari Singapura.
Yang berbeda adalah cara keberadaan mereka dikelola.
Di Indonesia, kucing sering hidup berdampingan dengan aktivitas sehari-hari masyarakat. Kita terbiasa melihat mereka di pasar, area pertokoan, tempat makan, hingga permukiman padat penduduk.
Di Singapura, kondisinya tidak selalu seperti itu.
Lingkungan kota yang lebih tertata membuat keberadaan kucing tidak terlalu mencolok di ruang publik.
Lingkungan yang Bersih Membuat Kucing Tidak Mudah Terlihat
Salah satu hal yang langsung terasa saat berada di Singapura adalah kebersihannya.
Tempat sampah umumnya tertutup dengan baik. Sisa makanan tidak mudah berserakan. Area publik juga rutin dibersihkan.
Bagi manusia, kondisi ini tentu nyaman.
Namun bagi hewan yang hidup bebas, kondisi tersebut juga berarti sumber makanan tidak mudah ditemukan.
Di banyak kota, kucing sering berkumpul di area yang memiliki akses makanan cukup mudah, seperti pasar tradisional, warung makan, atau tempat pembuangan sampah.
Ketika sumber makanan seperti itu lebih terbatas, keberadaan kucing pun menjadi tidak terlalu terlihat.
Selain itu, kucing memang dikenal sebagai hewan yang cukup pandai mencari tempat aman dan nyaman untuk beristirahat. Banyak dari mereka lebih aktif pada waktu-waktu tertentu dan tidak selalu berada di area yang ramai dilalui wisatawan.
Karena itulah, meskipun ada, keberadaan mereka tidak semudah ditemukan seperti di kota-kota Indonesia.
Mengapa Burung Javan Myna Justru Terlihat di Mana-Mana?
Menariknya, kondisi ini sangat berbeda dengan burung javan myna yang hampir selalu terlihat di berbagai sudut Singapura.
Burung berwarna hitam itu tampak berjalan santai di trotoar, taman kota, area pertokoan, bahkan dekat halte dan stasiun. Jika Anda pernah berkunjung ke Singapura, kemungkinan besar Anda juga akan sering melihatnya.
Jika burung-burung tersebut tampak bebas berkeliaran dan mudah dijumpai wisatawan, kucing justru jauh lebih jarang terlihat.
Perbedaan ini ternyata bukan kebetulan.
Salah satu alasannya adalah karena populasi kucing di Singapura memang dikelola melalui program khusus yang sudah berjalan cukup lama.
Singapura Sudah Mengendalikan Populasi Kucing Sejak 2011
Banyak orang mengira kondisi ini merupakan kebijakan baru.
Padahal upaya pengelolaan populasi kucing di Singapura sudah berlangsung lebih dari satu dekade.
Pada tahun 2011, pemerintah bersama berbagai komunitas pecinta hewan menjalankan program yang dikenal sebagai Stray Cat Sterilisation Programme (SCSP).
Sederhananya, program ini berfokus pada sterilisasi kucing komunitas agar populasi mereka tidak bertambah secara tidak terkendali.
Pendekatan ini dianggap lebih efektif dibandingkan hanya memindahkan atau menangkap kucing dari suatu area.
Dengan mengurangi angka kelahiran, pertumbuhan populasi dapat ditekan secara bertahap tanpa harus menghilangkan keberadaan kucing itu sendiri.
Hasil dari program jangka panjang inilah yang perlahan membentuk kondisi yang dapat dirasakan wisatawan saat ini.
Dari SCSP ke TNRM: Pendekatan yang Lebih Lengkap
Pada tahun 2024, Singapura memperkenalkan pendekatan yang lebih luas melalui program Trap-Neuter-Rehome/Release-Manage (TNRM).
Nama program ini memang terdengar panjang, tetapi konsepnya cukup mudah dipahami.
Kucing yang ditemukan akan ditangkap secara aman (trap), kemudian disterilisasi (neuter). Setelah itu, sebagian bisa diadopsi (rehome), sementara sebagian lainnya dikembalikan ke lingkungan yang sesuai (release) dan tetap dipantau (manage).
Tujuannya bukan untuk menghilangkan semua kucing dari kota.
Justru sebaliknya.
Tujuannya adalah menjaga keseimbangan antara kesejahteraan hewan, kenyamanan masyarakat, dan pengendalian populasi jangka panjang.
Karena itu, ketika seseorang bertanya apakah pemerintah Singapura “menangkap semua kucing liar”, jawabannya tidak sesederhana itu.
Yang dilakukan adalah pengelolaan, bukan penghapusan.
Mengenal Community Cats yang Menjadi Bagian dari Kota
Salah satu istilah yang cukup menarik di Singapura adalah community cats.
Istilah ini merujuk pada kucing-kucing yang hidup di lingkungan masyarakat tetapi keberadaannya tetap dipantau.
Beberapa relawan secara rutin memperhatikan kondisi mereka, membantu memberikan makan, serta melaporkan jika ada kucing yang sakit atau membutuhkan pertolongan.
Bagi sebagian orang, keberadaan community cats mungkin terdengar unik.
Namun konsep ini menunjukkan bahwa pengelolaan populasi hewan tidak selalu berarti menjauhkan hewan dari kehidupan masyarakat.
Sebaliknya, ada upaya untuk menciptakan keseimbangan agar manusia dan hewan dapat hidup berdampingan dengan lebih baik.
Mungkin karena itulah saya tidak menemukan banyak kucing berkeliaran secara acak di jalanan.
Bukan karena mereka tidak ada.
Melainkan karena keberadaan mereka lebih teratur dibandingkan yang biasa saya lihat sehari-hari.
Aturan bagi Pemilik Kucing Juga Semakin Jelas
Selain mengelola community cats, Singapura juga memperkuat aturan terkait kepemilikan kucing peliharaan.
Pemilik memiliki tanggung jawab yang lebih jelas terhadap hewan yang mereka pelihara.
Langkah-langkah seperti registrasi dan microchip menjadi bagian dari upaya tersebut.
Tujuannya adalah mengurangi risiko penelantaran dan memastikan setiap hewan peliharaan mendapatkan perawatan yang layak.
Jika dipikir-pikir, kombinasi antara pengelolaan community cats, program sterilisasi, serta tanggung jawab pemilik inilah yang membuat kucing tidak banyak terlihat berkeliaran bebas di ruang publik.
Ketika Rasa Penasaran Memberikan Sebuah Pelajaran
Awalnya saya hanya penasaran.
Kenapa selama berhari-hari berjalan di Singapura saya hampir tidak melihat kucing?
Pertanyaan sederhana itu ternyata membawa pada jawaban yang lebih besar.
Bahwa kondisi yang terlihat di jalanan merupakan hasil dari kebijakan dan pengelolaan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Kucing-kucing itu tidak menghilang.
Mereka tetap ada.
Hanya saja, keberadaannya menjadi bagian dari sistem yang berusaha menjaga keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan kesejahteraan hewan.
Menariknya, perhatian terhadap kesejahteraan hewan juga sejalan dengan ajaran Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang seorang wanita yang menyiksa seekor kucing hingga mati karena dikurung dan tidak diberi makan:
“Seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya sampai mati. Ia tidak memberinya makan dan tidak pula membiarkannya memakan serangga yang ada di bumi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sering menjadi pengingat bahwa hewan pun memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik.
Di balik jarangnya kucing terlihat di jalanan Singapura, ternyata ada cerita tentang bagaimana sebuah kota berusaha mengelola populasi hewan tanpa mengabaikan kesejahteraannya.
Dan lain kali ketika kita berjalan di sebuah kota lalu merasa ada sesuatu yang berbeda, ada baiknya kita berhenti sejenak.
Sebab terkadang, hal-hal yang tampak sederhana, seperti seekor kucing yang tidak terlihat di sudut jalan, justru menyimpan cerita yang dalam untuk kita renungi.